Jumat, 25 September 2026

Inflasi dan Energi Dorong Penguatan Dolar: Yuan Stabil, Yen dan Euro Tertekan

Mhd Rabbani - Jumat, 15 Mei 2026 17:06 WIB
Inflasi dan Energi Dorong Penguatan Dolar: Yuan Stabil, Yen dan Euro Tertekan
Dolar AS
Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (15/5/2026) Dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan diperkirakan mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari dua bulan terakhir. Kenaikan ini seiring meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi dan gangguan jalur pelayaran global. Sentimen pasar juga dipengaruhi ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi kembali menaikkan suku bunga dalam tahun ini.

Inflasi dan Energi Dorong Penguatan Dolar

Kenaikan harga energi serta terganggunya arus perdagangan global telah memicu kekhawatiran inflasi yang lebih persisten di AS. Kondisi ini memperkuat posisi dolar di pasar global, karena investor menilai The Fed bisa mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Melansir Reuters, Indeks dolar AS tercatat naik ke level tertinggi dua minggu di 98,98 terhadap sejumlah mata uang utama. Secara mingguan, indeks tersebut diperkirakan menguat lebih dari 1%, menjadi kenaikan terbesar sejak awal Maret.

Pasar Pantau Negosiasi Trump–Xi

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan hari kedua pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Dalam pembahasan awal, kedua pemimpin disebut memiliki kesepahaman untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang sebelumnya terganggu akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Selain itu, Xi juga disebut menunjukkan ketertarikan untuk meningkatkan pembelian minyak dari Amerika Serikat guna mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Timur Tengah. Namun, reaksi pasar terhadap pertemuan tersebut masih terbatas karena investor menunggu rincian lebih lanjut.

Yuan Stabil, Yen dan Euro Tertekan

Yuan offshore China bergerak di dekat level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, berada di posisi 6,7874 per dolar AS. Sementara itu, yen Jepang melemah ke kisaran 158,45 per dolar AS, mendekati level terlemah dalam beberapa waktu terakhir dan memicu kewaspadaan terhadap potensi intervensi pemerintah Jepang. Euro juga melemah 0,04% ke posisi US$1,1662, dan diperkirakan mencatat penurunan mingguan lebih dari 1%. Poundsterling turun ke level terendah satu bulan di US$1,3385, sementara dolar Australia dan Selandia Baru juga mengalami pelemahan tipis akibat penguatan dolar AS.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Naik
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Desember naik menjadi lebih dari 44%, dari sebelumnya sekitar 22,5% pekan lalu. Analis menilai tekanan inflasi yang masih tinggi, ditambah ketahanan ekonomi AS, membuat The Fed berpotensi mempertahankan kebijakan ketat lebih lama sebelum mulai melonggarkan kembali pada 2027.
Sumber
:
Berita Terkait
Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik
Analis Pasar: IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Support di 6.370 dan Resistance 6.406
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
IHSG Dibuka Melemah 23,43 Poin, Hanya 4 Indeks Sektoral yang Selamat ke Zona Hijau
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak dalam Rentang Rp17.600-Rp17.900 per Dolar AS
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Masih Bergerak Fluktuatif Cenderung Melemah Terbatas