Minggu, 27 September 2026

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,06% Bersandar di Level Rp17.875 per Dolar AS Pagi Ini

Mhd Rabbani - Kamis, 13 Agustus 2026 11:04 WIB
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,06% Bersandar di Level Rp17.875 per Dolar AS Pagi Ini
Nilai Tukar Rupiah
Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Kamis (13/8/2026) nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat mayoritas mata uang Asia bergerak relatif stabil. Berdasarkan data yang dilansir dari pada data Reuters, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.875 per dolar AS, melemah 0,06% dari posisi sebelumnya Rp17.865 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar rupiah tersebut menjadi salah satu yang terlemah di kawasan pada perdagangan hari ini. Sebaliknya, dolar Taiwan menguat 0,25% ke 32,165 per dolar AS, sedangkan won Korea Selatan naik 0,28% ke 1.414,6 per dolar AS. Yen Jepang, dolar Singapura, baht Thailand, peso Filipina, dan yuan China hanya bergerak tipis. “Rupiah masih berada di bawah tekanan,” tercermin dari pelemahannya ketika sejumlah mata uang Asia lainnya mampu menguat tipis. Secara kumulatif sepanjang 2026, rupiah juga menjadi salah satu mata uang Asia dengan pelemahan terdalam. Rupiah telah terdepresiasi 6,74% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp16.670 per dolar AS. Pelemahan rupiah sepanjang tahun ini lebih dalam dibandingkan baht Thailand yang turun 4,96%, rupee India 5,73%, peso Filipina 3,94%, dan ringgit Malaysia 0,69%. Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang yang mencatat penguatan sepanjang tahun, yakni 1,76%. Yuan China juga menguat 3,62%, sementara dolar Singapura naik 0,41%. Pergerakan mata uang Asia pada Kamis menunjukkan pasar masih cenderung berhati-hati terhadap arah dolar AS dan perkembangan ekonomi global. Kondisi tersebut membuat ruang penguatan mata uang kawasan, termasuk rupiah, masih terbatas.

Analis Pasar: Yen dan Nilai Tukar Rupiah Diproyeksi Masih Tertekan

Pergerakan mata uang Asia bervariasi di tengah indeks dolar AS (DXY) yang tertahan bawah level 100. Melansir Trading Economics pada Rabu (12/8/2026) pukul 18.50 WIB, yen Jepang berada di level 158,1 per dolar AS melemah 0,91% dalam sepekan. Valas yen China tercatat berada di level 6,7 per dolar AS atau menguat 0,05% dalam sepekan, serta won Korea juga tercatat menguat 0,34% dalam tujuh hari terakhir menjadi 1.416,46 per dolar AS. Sementara nilai tukar rupiah di pasar spot terus tertekan hingga akhir perdagangan hari ini. Rabu (12/8), rupiah spot ditutup di level Rp 17.877 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,09% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.861 per dolar AS. Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, mencatat DXY saat ini berada di sekitar level 99,8. Namun, posisi tersebut belum otomatis menjadi katalis penguatan bagi seluruh mata uang Asia. Menurutnya, dolar AS kembali mendapat dukungan dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak. Di sisi lain, pasar masih menantikan data inflasi AS yang menjadi salah satu indikator penting untuk melihat arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). "Kondisi tersebut membuat investor tidak hanya memperhatikan arah DXY, tetapi juga imbal hasil US Treasury, harga minyak, perkembangan geopolitik, serta ekspektasi kebijakan bank sentral masing-masing negara," ujar Amru. Dengan kondisi tersebut, kinerja masing-masing mata uang Asia dapat berbeda lantaran tingkat sensitivitas terhadap faktor global dan kondisi domestik juga tidak sama. Yen dan Rupiah Masih Tertekan Amru menjelaskan, perbedaan kinerja mata uang Asia terutama dipengaruhi oleh perbedaan kebijakan moneter, fundamental ekonomi, dan arus modal. Yen Jepang, misalnya, masih menghadapi tekanan akibat perbedaan suku bunga antara Jepang dan AS. Pasar juga mencermati kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) serta potensi intervensi apabila yen kembali mendekati level 160 per dolar AS. Sementara itu, tekanan terhadap won Korea Selatan (KRW) relatif lebih ringan. Adapun rupiah masih sensitif terhadap arus modal, kebutuhan dolar AS domestik, sentimen risiko global, serta perkembangan harga minyak. Di sisi lain, yuan China memiliki karakteristik yang berbeda. Pergerakannya turut dipengaruhi oleh kebijakan People's Bank of China (PBOC) yang berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar yuan. Meski yen dan rupiah saat ini berada pada level yang relatif lemah, Amru menilai kondisi tersebut belum cukup untuk langsung menyimpulkan kedua mata uang tersebut sudah undervalued atau murah. "Keduanya memang berada pada level yang relatif lemah, tetapi penilaian valuasi perlu mempertimbangkan faktor yang lebih luas seperti suku bunga, inflasi, transaksi berjalan, cadangan devisa, produktivitas, dan arus modal," jelasnya. Lebih lanjut, Amru mengatakan investor valas Asia perlu mencermati data inflasi AS dalam waktu dekat. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed dan pergerakan dolar AS. Selain itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan harga minyak juga menjadi faktor penting. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS. Dari sisi regional, investor perlu mencermati kebijakan bank sentral dan arus modal masing-masing negara. Untuk yen, perhatian utama tertuju pada kebijakan BOJ dan potensi intervensi. Sementara untuk won, investor perlu mencermati arus dana asing dan kondisi ekonomi Korea Selatan. Adapun untuk rupiah, faktor yang perlu diperhatikan meliputi kebijakan Bank Indonesia (BI), upaya stabilisasi nilai tukar, arus portofolio, serta kebutuhan dolar AS domestik. Sementara itu, pergerakan yuan akan banyak dipengaruhi arah kebijakan PBOC. "DXY tetap menjadi indikator penting, tetapi arah mata uang Asia akan semakin ditentukan oleh kombinasi kebijakan suku bunga AS, harga energi, sentimen risiko global, dan fundamental domestik masing-masing negara," pungkas Amru. Untuk akhir 2026, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang Asia sebagai berikut: USD/JPY di level 155-165, USD/IDR bakal bertengger di Rp 17.500-Rp 18.000, USD/CNY bisa bergerak di kisaran 6,68-6,90, dan USD/KRW diproyeksi berada di level 1.350-1.450.

Sumber
:
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik
Analis Pasar: IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Support di 6.370 dan Resistance 6.406
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini
IHSG Dibuka Melemah 23,43 Poin, Hanya 4 Indeks Sektoral yang Selamat ke Zona Hijau