Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (14/8/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona merah menjelang pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di Gedung MPR/DPR.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business, IHSG melemah 0,26% ke level 6.286,15.
IHSG tertekan pelemahan mayoritas indeks sektoral. Sektor yang turun paling dalam antara lain barang baku, energi, transportasi, barang konsumer non primer, dan keuangan.
Total volume perdagangan saham di BEI pagi ini mencapai 1,10 miliar dengan nilai transaksi Rp 298,20 miliar.
Ada sebanyak 217 saham yang turun, jadi pemberat IHSG, kemudian 193 saham yang menguat dan 227 saham yang stagnan.
Top losers di LQ45 adalah:
1. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) 2,55% ke Rp 1.470 per saham
2. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) 1,52% ke Rp 650 per saham
3. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 1,08% ke Rp 2.760 per saham
Top Losers LQ45 Top losers di LQ45 adalah:
1. PT Indosat Tbk (ISAT) 2,43% ke Rp 2.530 per saham
2. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) 1,00% ke Rp 5.050 per saham
3. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) 0,99% ke Rp 7.625 per saham.
Analis Pasar: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas dengan Support 6.281 dan Resistance 6.313
Pada perdagangan Kamis (13/8/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 72,08 poin atau 1,13% ke level 6.301,77.
Pelemahan terjadi di tengah tekanan jual setelah pengumuman MSCI August Index Review, meski nilai tukar Rupiah justru ditutup menguat 0,03% ke level Rp17.870 per dolar AS.
Menanggapi hal tersebut, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, tekanan jual pada IHSG sejalan dengan analisis teknikalnya. Pelemahan juga terjadi setelah MSCI mengumumkan hasil August Index Review.
“IHSG ditutup terkoreksi 1,13% disertai dengan munculnya tekanan jual,” ujarnya..
Menurut Herditya, meskipun kebijakan pembekuan atau freeze masih dipertahankan, terdapat sejumlah emiten dalam konstituen MSCI yang terdepak.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu aliran dana keluar atau outflow ketika perubahan konstituen mulai efektif.
“Pergerakan IHSG terkoreksi pasca rilis pengumuman MSCI yang meskipun masih dalam status pembekuan namun beberapa emiten dalam konstituennya terdepak, yang dikhawatirkan akan adanya outflow pada IHSG saat masa efektif nanti,” jelasnya.
Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai pelemahan IHSG turut dipengaruhi oleh sentimen MSCI.
Menjelang pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto mengenai RAPBN 2027 pada Jumat (14/8/2026), serta aksi profit taking.
“Pelemahan indeks antara lain disebabkan oleh dikeluarkannya beberapa saham dari rebalancing indeks MSCI Agustus 2026, menjelang pidato kenegaraan Presiden Prabowo mengenai RAPBN 2027, serta aksi profit taking,” ujarnya.
Di sisi lain, pergerakan Rupiah justru menunjukkan penguatan. Alrich mengatakan, penguatan Rupiah antara lain didorong oleh aksi beli di pasar obligasi domestik yang tercermin dari penurunan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) pada sejumlah tenor.
Yield SUN tenor satu tahun turun 2,9 basis poin (bps) menjadi 6,87%. Sementara itu, yield SUN tenor dua tahun, tiga tahun dan lima tahun masing-masing turun 4,5 bps, 4,7 bps dan 3,9 bps.
“Data inflasi AS yang melandai dan koreksi harga minyak mentah juga menjadi faktor positif bagi Rupiah,” katanya.
Dari sisi teknikal, Alrich melihat IHSG masih bertahan di atas moving average (MA) 20.
Namun, penyempitan histogram positif MACD masih berlanjut dan berpotensi membentuk death cross.
“Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 6.230-6.370 pada perdagangan Jumat (14/8),” jelas Alrich.
Senada, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai pelemahan IHSG pasca pengumuman MSCI lebih tepat dilihat sebagai bentuk kekecewaan pasar terhadap hasil review tersebut.
“Penurunan IHSG lebih tepat dibaca sebagai kekecewaan pasar karena MSCI masih mempertahankan freeze, bukan karena Indonesia kehilangan status Emerging Market,” kata Nafan.
Untuk perdagangan Jumat (14/8/2026), Herditya memperkirakan IHSG masih berpeluang menguat terbatas dengan level support 6.281 dan resistance 6.313.
“Untuk Jumat, kami perkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan support 6.281 dan resist 6.313,” ujarnya.
Menurut Herditya, investor akan mencermati rilis data producer price index (PPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada Kamis malam waktu setempat.
Sementara itu, Nafan memperkirakan IHSG memiliki support di level 6.242 dan 6.191, sementara resistance berada pada level 6.363 dan 6.406.
Dari sisi saham, Herditya merekomendasikan investor mencermati PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA).
INDF memiliki kisaran target harga Rp7.500-Rp7.600 per saham, ULTJ di kisaran Rp1.545-Rp1.570 per saham, sedangkan RAJA memiliki target harga Rp925-Rp1.035 per saham.
Berita Terkait