Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Kamis (17/9/2026) p nilai tukar rupiah melemah berada di level Rp 17.763 per dolar Amerika Serikat (AS).
Diketahui, nilai tukar rupiah melemah 0,38% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.696 per dolar AS.
Di Asia, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS pagi ini. Ringgit Malaysia mencatat pelemahan terdalam yakni 0,56%.
Disusul won Korea yang melemah 0,42%, rupiah melemah 0,38%, dolar Taiwan melemah 0,26%, baht Thailand melemah 0,14%.
Di sisi lain, peso Filipina melemah 0,13% dan yuan China yang melemah 0,04% terhadap dolar AS. Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini.
Yen Jepang menguat 0,06%, dolar Singapura menguat 0,03%, dan dolar Hong Kong menguat 0,001% terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 100,32, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 100,25.
Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak Fluktuatif dalam Rentang Rp17.690-Rp17.750 per Dolar AS
Pada perdagangan Kamis (17/9/2026) nilai tukar rupiah dibayangi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed serta eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg pada Rabu (16/9/2026), nilai tukar rupiah pasar spot ditutup melemah tipis 0,01% atau terdepresiasi 2,00 poin ke level Rp 17.696 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, kurs rupiah berada di posisi Rp 17.712 per dolar AS atau melemah sebesar 0,14% dibanding posisi hari sebelumnya di level Rp 17.687 per dolar AS.
Tekanan pada pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (16/9/2026) dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk penutupan East-West pipeline dan serangan di Selat Bab el-Mandeb, serta penguatan posisi dolar AS.
Sementara itu, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa dinamika pergerakan mata uang Garuda pada Kamis (17/9/2026) akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi antisipasi kebijakan moneter AS serta kondisi fiskal domestik.
Dari sisi eksternal, perhatian utama pasar tertuju pada pengumuman suku bunga The Fed pada Kamis dini hari nanti yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps ke kisaran 3,75%-4,00%.
"Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan peluang sebesar hampir 92,4% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase dalam pertemuan kebijakan bulan September pada hari Rabu ini," ujarnya.
Dari dalam negeri, fokus pasar tertuju pada tantangan Menteri Keuangan baru Suahasil Nazara dalam menjaga keseimbangan antara pendorong pertumbuhan ekonomi dan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Komitmen untuk menjaga defisit APBN di bawah 3% terhadap PDB tetap menjadi kuncinya.
Selain itu, Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia per Juli 2026 mencapai US$453,4 miliar atau tumbuh 4,9% secara tahunan (YoY).
Penguatan ULN ini utamanya didorong oleh peningkatan ULN publik sebesar 3,2% YoY menjadi US$218,4 miliar, yang dinilai masih relatif aman dan terkendali karena didominasi oleh tenor jangka panjang.
"Fokus yang lebih penting adalah mempertahankan kapasitas fiskal untuk mendorong pertumbuhan, sembari memastikan penggunaan instrumen fiskal berlangsung dengan aturan dan koordinasi yang jelas," jelas Ibrahim.
Melihat kombinasi dinamika sentimen global dan domestik tersebut, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan Kamis (17/9/2026) dalam rentang Rp 17.690 hingga Rp 17.750 per dolar AS.
Berita Terkait