Kamis, 24 September 2026

Nilai Tukar Rupiah Menguat 0,16% Berdiri Tegar di Level Rp17.729 per Dolar AS

Mhd Rabbani - Jumat, 18 September 2026 11:16 WIB
Nilai Tukar Rupiah Menguat 0,16% Berdiri Tegar di Level Rp17.729 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah
Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (18/9/2026) nilai tukar rupiah dibuka menguat berada di level Rp 17.729 per dolar Amerika Serikat (AS). Di mana nilai tukar rupiah menguat 0,16% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.753 per dolar AS. Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS pagi ini. Selain itu, Ringgit Malaysia mencatat penguatan terbesar yakni 0,47%, disusul dolar Taiwan yang menguat 0,34%, peso Filipina menguat 0,19%, nilai tukar rupiah menguat 0,16%. Kemudian, Yuan China menguat 0,09%, baht Thailand menguat 0,02%, dan dolar Hong Kong yang menguat 0,02% terhadap dolar AS. Sedangkan mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS pagi ini. Won Korea melemah 0,36%, yen Jepang melemah 0,21% dan dolar Singapura melemah 0,02% terhadap dolar AS. Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 100,21, turun dari sehari sebelumnya yang ada di 100,24.

Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Diperkirakan Masih Bergerak Fluktuatif Cenderung Melemah Terbatas

[caption id="attachment_56136" align="aligncenter" width="590"]Nilai Tukar Rupiah Pada perdagangan Jumat (18/9/2026) nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif cenderung melemah terbatas akibat tekanan imbal hasil aset dolar Amerika Serikat (AS) serta dinamika geopolitik global.[/caption] Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (17/9/2026), rupiah pasar spot ditutup melemah 57 poin atau 0,32% ke level Rp 17.753 per dolar AS dari penutupan sebelumnya. Pada perdagangan Jumat (18/9/2026) nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif cenderung melemah terbatas akibat tekanan imbal hasil aset dolar Amerika Serikat (AS) serta dinamika geopolitik global. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah melemah 0,23% ke posisi Rp 17.753 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya di Rp 17.712 per dolar AS. Menanggapi hal tersebut, Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai pelemahan rupiah pada Kamis (17/9/2026) terutama dipicu oleh penyesuaian pasar (repricing) atas keputusan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan FOMC sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00%. Penyesuaian kebijakan bank sentral AS tersebut mendorong penataan ulang portofolio investor, di samping dampak penahanan harga minyak mentah Brent di pasar global. Untuk perdagangan Jumat (18/9/2026), pergerakan rupiah akan diwarnai oleh campuran sentimen global dan domestik. Menurut pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, dari sisi eksternal pasar merespons pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang mengisyaratkan potensi pengetatan lebih lanjut demi menekan inflasi, serta perkembangan dialog antara AS dan Houthi Yaman yang membantu meredakan kekhawatiran gangguan pasokan. Sementara itu, Syafruddin mencermati pergerakan yield US Treasury tenor 10 tahun di kisaran 5% dan melandainya harga minyak Brent di kisaran US$104 per barel sebagai penentu arah arus modal. Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti komitmen Menteri Keuangan Suhasil dalam menjaga APBN serta sinyal bertahannya BI-Rate pada level 5,75% menjelang Rapat Dewan Gubernur. Sementara itu, Syafruddin menambahkan bahwa langkah preemptif Bank Indonesia yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin dinilai efektif dalam menjaga kecukupan likuiditas valas dan cadangan devisa nasional di level US$146,5 miliar. Syafruddin menjelaskan bahwa arah nilai tukar rupiah hari ini sangat bergantung pada pergerakan pasar obligasi AS dan komoditas. "Jika yield AS turun dan minyak melanjutkan koreksi, rupiah berpeluang stabil," kata Syafruddin. Hal Senada, Ibrahim menilai perbaikan arus modal asing dan disiplin fiskal memperkuat posisi tawar rupiah di tengah tekanan eksternal. "Fundamental makroekonomi yang perlahan mengeras turut menjadi tameng bagi BI," ujar Ibrahim. Untuk Jumat (18/9/2026), Syafruddin memproyeksikan rupiah bergerak pada skenario dasar Rp 17.720–Rp 17.800 per dolar AS. Sementara itu, Ibrahim mengestimasi rupiah akan berfluktuasi, namun ditutup melemah di rentang Rp 17.750–Rp 17.790 per dolar AS.  
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Terseret di Level Rp17.779 per Dolar AS Pagi Ini
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak dalam Rentang Rp17.600-Rp17.900 per Dolar AS