Kamis, 24 September 2026

Gus Kikin Jadi Ketum PBNU 2026-2031, Tegaskan NU Bukan Organisasi Politik

Muchlis - Senin, 31 Agustus 2026 10:13 WIB
Gus Kikin Jadi Ketum PBNU 2026-2031, Tegaskan NU Bukan Organisasi Politik
Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031
Topikseru.com - Nahdlatul Ulama (NU) memasuki babak baru. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, K.H. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026-2031. Gus Kikin ditetapkan melalui musyawarah majelis Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA) dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin. Keputusan tersebut mendapat persetujuan dari Rais Aam terpilih. Salah satu anggota AHWA, K.H. Anwar Iskandar, mengatakan forum secara mufakat menetapkan Gus Kikin sebagai pimpinan tertinggi PBNU untuk periode lima tahun mendatang. "Secara mufakat memutuskan untuk memilih K.H. Abdul Hakim atau sehari-hari disebut Gus Kikin menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026-2031," kata Anwar di Jombang.

Gus Kikin Unggul dalam Penjaringan

Penetapan melalui AHWA tersebut bukan satu-satunya tahapan yang dilalui Gus Kikin. Sebelumnya, namanya memperoleh dukungan terbanyak dalam proses penjaringan calon Ketua Umum PBNU. Gus Kikin mengantongi 472 suara dari unsur Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), serta Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU). Selain Gus Kikin, sejumlah nama juga masuk dalam daftar kandidat yang memenuhi persyaratan, yakni K.H. Zulfa Mustofa, K.H. Abdussalam Shohib, K.H. Yahya Cholil Staquf, dan K.H. Abdul Ghaffar Rozin. Gus Kikin sebelumnya juga menjabat sebagai Ketua PWNU Jawa Timur. Ia menyatakan pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU merupakan mandat yang diberikan struktur NU di Jawa Timur. Kini, setelah ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU, pekerjaan besar menanti Gus Kikin untuk menyatukan kembali seluruh elemen organisasi.

Ajak Warga NU Kembali Bersatu

Dinamika yang terjadi sepanjang Muktamar ke-35 NU menjadi salah satu tantangan awal kepemimpinan Gus Kikin. Ia mengajak seluruh warga NU kembali merapatkan barisan dan menjaga kebersamaan setelah proses pemilihan berlangsung dengan berbagai dinamika. Gus Kikin juga menegaskan posisi NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Menurut dia, NU tidak boleh berubah menjadi kendaraan kepentingan politik tertentu. "NU itu bukan untuk berpolitik. NU itu adalah organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan," ujar Gus Kikin. Dia mengatakan NU memiliki pedoman keagamaan dan organisasi yang harus menjadi pijakan dalam menjalankan roda organisasi. Karena itu, menurut Gus Kikin, hubungan organisasi NU dengan politik merupakan ranah yang berbeda. Adapun terhadap pemerintah, NU tetap dapat memberikan dukungan sepanjang hal tersebut berkaitan dengan kewajiban umat Islam. "Jadi kalau ada gesekan ya mungkin gesekan, tapi jalannya berbeda," katanya.

Kepengurusan PBNU Ditargetkan Rampung Sebulan

Setelah terpilih, Gus Kikin langsung menghadapi pekerjaan membentuk struktur kepengurusan PBNU periode 2026-2031. Dia menargetkan penyusunan kepengurusan dapat diselesaikan maksimal dalam waktu satu bulan. Menurut Gus Kikin, organisasi tidak akan dapat menjalankan program secara optimal apabila struktur kepengurusan belum terbentuk. "Tutup satu bulan. Kita isi organisasi kita. Tanpa itu kita bagaimana mau bekerja?" ujarnya. Dia juga menegaskan bahwa NU merupakan organisasi yang inklusif. Karena itu, berbagai potensi dan elemen yang berada di lingkungan NU akan diupayakan mendapat ruang dalam kepengurusan baru. "Semua potensi yang ada di NU itu akan kita wadahi. Karena itu memang potensi-potensi yang ada itu harus kita wadahi," katanya.

Pemberantasan Korupsi Dimulai dari Moral

Agenda Gus Kikin tidak hanya berkaitan dengan konsolidasi organisasi. Persoalan pemberantasan korupsi juga menjadi perhatian. Ia memandang korupsi tidak semata-mata persoalan hukum, tetapi memiliki hubungan erat dengan persoalan moral. Karena itu, NU akan mendorong penguatan pendidikan akhlak dan nilai-nilai keagamaan sebagai bagian dari pembentukan karakter masyarakat. "Kita dari NU dari sisi akhlak kita perbaiki moral itu kemudian lebih takut kepada Allah," ujar Gus Kikin. Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara yang ditawarkan untuk memperkuat karakter masyarakat sekaligus mencegah perilaku koruptif.

Pesantren dan Perguruan Tinggi Jadi Modal

Di sektor pendidikan dan kesehatan, Gus Kikin melihat NU sebenarnya telah memiliki modal sosial yang cukup besar. Jaringan pondok pesantren dan perguruan tinggi NU telah tersebar di berbagai daerah. Jawa Timur menjadi salah satu wilayah dengan basis lembaga pendidikan NU yang kuat. Keberadaan institusi tersebut dinilai dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan agenda NU dalam bidang pendidikan, kesehatan, serta transformasi pesantren. Dengan terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU 2026-2031, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar memenangkan proses pemilihan. Pekerjaan terbesar adalah menerjemahkan mandat tersebut menjadi konsolidasi organisasi dan program yang dapat dirasakan warga NU. Gus Kikin kini harus menyatukan berbagai elemen pasca-Muktamar ke-35 NU sekaligus memastikan PBNU tetap menjalankan perannya sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan tanpa terseret kepentingan politik praktis.
Sumber
:
Berita Terkait
Semua Fraksi Setuju, RUU Reforma Agraria Melangkah ke Paripurna
KPK Temukan Jejak Aliran Uang di Rumah Dirjen ATR/BPN Lampri
Reaksi Nusron Wahid Buka Suara Usai Namanya Diseret Kasus HGB Summarecon KPK
Nusron Muncul dan Buka Suara soal Korupsi ATR/BPN di KPK
KPK Lacak Asal-Usul Setoran Rp 10 Miliar Kasus Kementerian ATR/BPN
KPK Geledah Kantor Kementerian ATR/BPN Usai OTT HGB Summarecon