Topikseru.com -Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Medan melonjak pada September 2026. Data Dinas Kesehatan Kota Medan mencatat, jumlah kasus yang dilaporkan meningkat dari 32.599 kasus pada Agustus menjadi 45.818 kasus pada September.
Artinya, kasus ISPA bertambah 13.219 dalam satu bulan, atau naik sekitar 40,6 persen. Kenaikan ini terjadi ketika kualitas udara di Medan menjadi perhatian akibat polusi dan paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dinas Kesehatan Kota Medan menyebut tren peningkatan kasus sudah terlihat sejak Agustus 2026. Namun, kenaikan tersebut tidak bisa langsung dikaitkan hanya dengan kabut asap karena ISPA dapat dipengaruhi berbagai faktor.
Baca Juga:
Kasus ISPA September Menjadi yang Tertinggi Sejak Awal Tahun
Data bulanan Dinas Kesehatan Kota Medan menunjukkan jumlah kasus ISPA atau pneumonia berfluktuasi sepanjang Januari hingga September 2026.
Pada Januari tercatat 32.527 kasus. Jumlahnya turun menjadi 30.730 kasus pada Februari dan kembali turun menjadi 26.488 kasus pada Maret.
Pada April, kasus meningkat menjadi 30.440. Namun, jumlahnya kembali turun pada Mei menjadi 25.569 kasus.
Memasuki Juni, jumlah kasus naik menjadi 27.531, lalu sedikit turun pada Juli menjadi 26.827 kasus. Setelah itu, peningkatan terlihat pada Agustus dengan 32.599 kasus.
Lonjakan terbesar dalam rangkaian data tersebut terjadi pada September, ketika jumlah kasus mencapai 45.818. Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya dalam periode Januari–September 2026.
Bertambah 13.219 Kasus dalam Sebulan
Perbandingan data Agustus dan September memperlihatkan kenaikan yang cukup besar.
Pada Agustus, jumlah kasus tercatat 32.599. Sebulan kemudian, angkanya menjadi 45.818. Selisihnya mencapai 13.219 kasus, atau sekitar 40,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa jumlah kasus yang dilaporkan meningkat tajam dalam waktu singkat. Meski demikian, angka tersebut merupakan jumlah kasus yang tercatat dalam laporan bulanan, bukan bukti bahwa seluruh kasus baru disebabkan oleh satu faktor tertentu.
Untuk memastikan penyebab kenaikan, diperlukan informasi tambahan mengenai jenis penyakit, pola penularan, kondisi pasien, dan paparan lingkungan selama periode tersebut.
Kualitas Udara Buruk Menjadi Salah Satu Perhatian
Dinas Kesehatan Kota Medan sebelumnya menyebut dua faktor yang berkaitan dengan peningkatan kasus ISPA, yakni cuaca yang berubah-ubah dan kualitas udara yang buruk.
Kualitas udara dapat memburuk akibat polusi kendaraan, pembakaran sampah, serta asap rokok di dalam ruangan maupun tempat umum. Pada periode Agustus hingga September 2026, paparan kabut asap karhutla juga menjadi perhatian di Medan dan wilayah sekitarnya.
Paparan asap dan polusi dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperburuk keluhan pada orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan. Namun, ISPA sendiri merupakan istilah untuk kelompok infeksi saluran pernapasan yang dapat disebabkan oleh berbagai virus atau bakteri.
Karena itu, lonjakan kasus pada September tidak serta-merta membuktikan bahwa kabut asap menjadi penyebab tunggal. Data yang tersedia menunjukkan adanya peningkatan kasus pada periode ketika kualitas udara menjadi perhatian, tetapi hubungan sebab-akibat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Kelompok Usia Dewasa Juga Banyak Tercatat
ISPA tidak hanya menyerang anak-anak. Dalam data Dinas Kesehatan Kota Medan yang diberitakan pada September, kelompok dewasa tercatat sebanyak 65.376 kasus. Selanjutnya, balita tercatat 42.608 kasus, lansia 30.882 kasus, anak-anak 29.695 kasus, dan remaja 27.986 kasus.
Angka kelompok usia tersebut menunjukkan bahwa keluhan pernapasan ditemukan pada berbagai kelompok umur. Namun, periode pelaporan untuk rincian kelompok usia ini perlu dibedakan dari data bulanan Agustus dan September agar tidak disalahartikan sebagai jumlah kasus pada satu bulan tertentu.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta perlu mendapat perhatian ketika kualitas udara memburuk. Kelompok tersebut dapat lebih rentan mengalami dampak kesehatan akibat paparan polusi dan asap.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Dinas Kesehatan Kota Medan mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika udara terlihat berasap atau kualitasnya memburuk. Jika harus beraktivitas di luar, warga disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel di udara.
Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah secara terbuka dan menghindari paparan asap rokok, terutama di ruang tertutup.
Jika mengalami batuk yang memburuk, sesak napas, nyeri dada, atau keluhan pernapasan lain yang semakin berat, segera periksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.
Lonjakan Kasus Perlu Terus Dipantau
Kenaikan kasus ISPA di Medan sebesar 40,6 persen dari Agustus ke September 2026 menjadi sinyal bahwa perkembangan penyakit pernapasan perlu dipantau secara serius.
Data menunjukkan jumlah kasus mencapai 45.818 pada September, tertinggi dalam rangkaian bulanan Januari–September. Namun, untuk memahami penyebabnya secara tepat, diperlukan data lanjutan yang menghubungkan laporan kasus dengan kondisi udara, faktor cuaca, serta penyebab penyakit.
Pemantauan rutin dan upaya mengurangi paparan polusi menjadi penting agar masyarakat dapat lebih waspada terhadap gangguan pernapasan, terutama ketika kualitas udara memburuk.