Kamis, 24 September 2026

Megawati Jadi Korban AI, Wajahnya Dicatut dalam Iklan Jualan Kue

Muchlis - Jumat, 28 Agustus 2026 16:28 WIB
Megawati Jadi Korban AI, Wajahnya Dicatut dalam Iklan Jualan Kue
Megawati korban AI
Topikseru.com, Jakarta - Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ternyata bisa membuat siapa pun menjadi “aktor” dalam sebuah video tanpa pernah memberikan persetujuan. Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri mengaku mengalami sendiri fenomena tersebut. Wajahnya bersama anggota keluarganya dicatut dalam sebuah video iklan komersial yang digunakan untuk mempromosikan penjualan kue. Yang membuat Megawati terkejut, video tersebut dibuat menggunakan teknologi AI. Megawati menceritakan pengalamannya saat memberikan pengantar dalam pertemuan bersama Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta dan sejumlah peraih Nobel serta Turing Award yang tergabung dalam delegasi Science for Development Summit 2026 di Megawati Institute, Menteng, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Dia mengaku sempat bingung ketika melihat video tersebut karena seolah-olah dirinya benar-benar pernah memesan kue yang ditawarkan dalam iklan. "Jadi saya sampai kaget, kapan saya pesan kuenya ya? Itu ternyata dengan AI dilakukan seperti itu," ujar Megawati. Cerita tersebut sontak mengundang tawa para peserta pertemuan. Namun, di balik cerita yang terdengar menggelitik itu, Megawati melihat persoalan yang jauh lebih serius.

Wajah Bisa Dipakai Tanpa Izin

Bagi Megawati, kasus tersebut menjadi gambaran betapa cepatnya teknologi AI berkembang. Teknologi ini memungkinkan wajah, suara, maupun citra seseorang direkayasa sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan konten yang terlihat meyakinkan. Masalahnya, kemampuan tersebut juga dapat disalahgunakan. Megawati mengingatkan agar perkembangan AI tidak berubah menjadi sarana manipulasi, penyebaran hoaks, ataupun alat yang merendahkan martabat manusia. Dia meminta para ilmuwan dan pemikir yang berada di garis depan perkembangan teknologi untuk memikirkan batas-batas penggunaan AI. Menurut Megawati, kemajuan teknologi harus tetap berada dalam kerangka etika dan kepentingan manusia.

Megawati Ingatkan Bahaya AI Jadi Alat Hegemoni

Megawati juga menyoroti potensi AI digunakan sebagai instrumen kekuasaan baru. Menurut dia, negara berkembang seperti Indonesia perlu bersikap kritis ketika teknologi dan data berpotensi digunakan untuk menciptakan bentuk hegemoni baru. Dia menilai perkembangan kecerdasan buatan tidak boleh hanya dilihat dari kemampuan teknologinya, tetapi juga dari dampaknya terhadap manusia dan hubungan antarbangsa. "Spesial untuk yang namanya kecerdasan buatan, saya sangat memohon meminta attention dari para pintar yang ada di sini," kata Megawati. Dia menekankan bahwa kecerdasan manusia tetap menjadi fondasi utama dalam mengarahkan perkembangan teknologi. Bagi Megawati, AI seharusnya tidak ditempatkan sebagai pengganti akal budi manusia, melainkan sebagai alat yang dikendalikan untuk menghasilkan manfaat bagi kehidupan.

AI Diminta Dipakai untuk Kepentingan Medis

Megawati tidak menolak perkembangan teknologi AI. Sebaliknya, ia mendorong agar kecerdasan buatan diarahkan untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan yang lebih besar. Salah satu bidang yang menurutnya memiliki peluang besar adalah dunia medis, termasuk penelitian genetika. Dia menyinggung dampak radiasi akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menurutnya memberikan dampak panjang terhadap kehidupan manusia. Karena itu, Megawati berharap perkembangan teknologi dapat membantu para ilmuwan memahami dan mengatasi persoalan biologis yang diwariskan akibat paparan radiasi maupun berbagai persoalan kesehatan lainnya. Bagi dia, teknologi mutakhir seharusnya memiliki tujuan akhir untuk memperbaiki kualitas kehidupan manusia.

Pengalaman Megawati Jadi Peringatan di Era Deepfake

Pengalaman Megawati dicatut dalam iklan AI memperlihatkan persoalan yang semakin relevan di era digital. Jika wajah seseorang dapat digunakan untuk membuat iklan tanpa izin, teknologi serupa juga berpotensi digunakan untuk menciptakan berbagai jenis konten manipulatif. Karena itu, tantangan perkembangan AI bukan hanya mengenai seberapa canggih teknologi tersebut, tetapi juga bagaimana manusia mengatur penggunaannya. Regulasi, etika, literasi digital, serta tanggung jawab pengembang dan pengguna teknologi menjadi bagian penting untuk mencegah penyalahgunaan AI. Megawati pun mengingatkan agar teknologi dan data tidak menjadi instrumen yang justru memperlebar ketimpangan. "Kita harus bersikap kritis ketika teknologi dan data dijadikan alat hegemoni baru. Namun kita juga harus memperkuat tanggung jawab kemanusiaan agar kemajuan teknologi termasuk AI berorientasi pada kesetaraan antarbangsa," ujarnya. Cerita soal iklan kue tersebut akhirnya bukan sekadar pengalaman lucu bagi Megawati. Di tengah semakin mudahnya membuat video sintetis, pengalaman itu menjadi contoh nyata bahwa batas antara kenyataan dan hasil rekayasa AI semakin tipis. Dan ketika wajah seseorang dapat digunakan tanpa persetujuan, pertanyaan besarnya bukan lagi hanya seberapa pintar AI, tetapi seberapa bertanggung jawab manusia yang menggunakannya.
Sumber
:
Berita Terkait
Achraf Hakimi Jalani Persidangan, Banding Terakhir Ditolak Pengadilan Prancis
Anggota KKB Diduga Terlibat Penembakan ASN di Yahukimo Ditangkap, 3 Amunisi Disita
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Kementan Siapkan 2 Juta Hektare Lahan untuk Bioetanol demi Mandiri Energi
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini