Topikseru.com - Mochamad Muldan Nurul Yakin akhirnya menyampaikan permintaan maaf setelah aksinya melontarkan kata-kata kasar kepada panitia Jakarta Running Festival (JRF) 2026 menjadi perbincangan di media sosial. Insiden yang terjadi di area cut-off point (COP) kategori half marathon itu memicu kritik warganet mengenai sikap peserta dalam sebuah kompetisi olahraga.
Dalam video yang diunggah melalui akun media sosial pribadinya pada Sabtu (24/10/2026), Muldan mengakui bahwa ucapan dan tindakannya saat kejadian tidak mencerminkan nilai sportivitas.
Dia juga menyampaikan penyesalan kepada panitia JRF 2026, para pelari, serta masyarakat yang merasa terganggu oleh insiden tersebut.
Baca Juga:
Permintaan maaf itu muncul setelah rekaman pertengkaran di sekitar barikade pembatas waktu lomba tersebar luas. Dalam video yang beredar, terlihat adu argumen dan aksi saling dorong antara sejumlah peserta dan pihak panitia.
Rekaman yang beredar memperlihatkan seorang pria mengenakan kaus oranye melontarkan kata-kata kasar kepada panitia setelah sejumlah peserta menerobos barikade pembatas. Situasi di lokasi kemudian memanas dan memicu adu argumen.
Sejumlah unggahan warganet mengidentifikasi pria dalam video tersebut sebagai Muldan Nurul Yakin. Ia juga disebut bekerja sebagai Senior Compliance Manager di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.
Meski video itu menyebar luas, identitas, jabatan, dan konteks lengkap kejadian tetap perlu merujuk pada sumber yang dapat diverifikasi. Potongan rekaman yang beredar di media sosial belum tentu menggambarkan seluruh rangkaian peristiwa.
Permintaan maaf Muldan pun menjadi perkembangan penting setelah insiden tersebut memancing beragam reaksi publik.
Ketika batas waktu telah diberlakukan, penyelenggara perlu menjalankan prosedur yang ditetapkan agar perlombaan berlangsung sesuai rencana. Peserta juga perlu memahami ketentuan tersebut sebelum mengikuti lomba.
Karena itu, perselisihan di titik pembatas waktu dapat menjadi persoalan yang lebih luas daripada sekadar perdebatan antara peserta dan panitia.
Cara menyampaikan keberatan, menghormati petugas, serta mengendalikan emosi turut menjadi bagian dari etika olahraga.
Insiden JRF 2026 kembali mengundang diskusi tentang bagaimana peserta seharusnya menyikapi keputusan penyelenggara ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.
Pada Sabtu, agenda lomba mencakup kategori half marathon dan 5K. Sementara itu, kategori full marathon dan 10K dijadwalkan berlangsung pada Minggu.
JRF 2026 diikuti lebih dari 37.000 pelari dari 48 negara serta mendapat dukungan lebih dari 500 komunitas lari. Penyelenggara juga menyebut jumlah peserta dari Malaysia dan Singapura meningkat sekitar dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Besarnya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa ajang lari ini tidak hanya menjadi ruang kompetisi bagi pelari domestik, tetapi juga menarik minat peserta dari luar negeri.
Di tengah skala penyelenggaraan tersebut, insiden di area COP menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah acara olahraga tidak hanya bergantung pada jumlah peserta dan kelancaran teknis. Interaksi antara pelari, panitia, dan sesama peserta juga ikut menentukan pengalaman seluruh pihak.
Kompetisi olahraga memang dapat menghadirkan tekanan fisik maupun emosional. Meski demikian, sportivitas tidak hanya diuji ketika peserta menang atau kalah, tetapi juga ketika menghadapi keputusan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Bagi penyelenggara, insiden seperti ini menjadi pengingat akan pentingnya komunikasi aturan lomba secara jelas. Bagi peserta, kejadian tersebut menegaskan bahwa keberatan tetap dapat disampaikan tanpa harus berujung pada tindakan yang merugikan atau merendahkan pihak lain.
Pada akhirnya, Jakarta Running Festival bukan hanya tentang catatan waktu dan jarak tempuh. Sikap saling menghormati antara peserta dan panitia juga merupakan bagian dari nilai yang semestinya dijaga dalam setiap kompetisi.