Kamis, 24 September 2026

Dari Label "Londo Ireng" ke Mendur Bersaudara, Ketika Jurnalis Menjaga Sejarah Indonesia

Muchlis - Selasa, 11 Agustus 2026 16:36 WIB
Dari Label
Prabowo Londo Ireng
Topikseru.com - Ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin jarang kita pikirkan ketika melihat foto Proklamasi Kemerdekaan Indonesia: Siapa yang mengambil foto itu? Kita hafal wajah Soekarno. Kita mengenal Mohammad Hatta. Kita tahu tanggal 17 Agustus 1945. Kita bahkan bisa membayangkan suasana di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Tetapi ada dua nama yang berdiri di balik kamera. Frans Mendur dan Alex Mendur. Kisah dua bersaudara asal Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara, ini terasa kembali relevan ketika istilah “Londo Ireng” yang dilontarkan Presiden Prabowo Subianto kepada wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM dalam pidatonya pada Harlah ke-28 PKB, 23 Juli 2026, memicu polemik. Sejumlah organisasi pers mengkritik penggunaan istilah tersebut. Aliansi Jurnalis Independen (AJI), misalnya, menilai pelabelan itu berpotensi merendahkan sekaligus mendelegitimasi kerja jurnalistik. Di tengah perdebatan itu, sejarah justru membawa kita mundur ke sebuah masa ketika seorang jurnalis tidak hanya berhadapan dengan kritik atau tekanan politik. Mereka berhadapan dengan kekuasaan bersenjata. Dan pada saat itu, kamera bisa menjadi barang yang sangat berbahaya.

Sebelum Ada "Londo Ireng", Ada Mendur yang Memotret Kemerdekaan

Alexiux Impurung Mendur atau Alex Mendur lahir di Kawangkoan pada 7 November 1907. Ia merupakan anak pertama dari 11 bersaudara. Alex mulai mengenal fotografi sejak masih muda. Kariernya berkembang dari dunia studio foto hingga pers. Ia pernah bekerja untuk sejumlah media dan kemudian menjadi bagian dari kantor berita Jepang, Dōmei Tsushin, ketika Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang. Adiknya, Frans Soemarto Mendur, lahir pada 16 April 1913. Frans mengikuti jejak sang kakak. Setelah meninggalkan kampung halaman, ia menuju Surabaya dan kemudian Batavia untuk belajar fotografi kepada Alex. Dari sanalah perjalanan seorang fotografer jurnalistik yang kelak mengabadikan salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Indonesia dimulai. Frans kemudian bekerja di sejumlah media, termasuk Java Bode dan Asia Raya, sebelum bergabung dengan Merdeka setelah Indonesia merdeka. Lalu datanglah 17 Agustus 1945. Hari ketika kamera mereka tidak lagi sekadar merekam sebuah acara. Kamera itu merekam kelahiran sebuah negara.

Kamera Menuju Pegangsaan Timur

Ketika kabar mengenai rencana pembacaan Proklamasi menyebar, Frans dan Alex bergerak menuju Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Di tempat itu, Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kamera diarahkan. Tombol ditekan. Dan beberapa lembar film kemudian menjadi bagian dari memori bangsa yang bertahan selama puluhan tahun. Foto Soekarno ketika membacakan Proklamasi, pengibaran Sang Merah Putih, serta suasana setelah kemerdekaan menjadi gambar yang kemudian dikenali oleh jutaan orang Indonesia. Namun ada satu hal yang sering terlupakan: mengambil foto tersebut bukan pekerjaan tanpa risiko. Indonesia saat itu belum benar-benar berada dalam situasi aman. Jepang masih memiliki kekuatan dan pengaruh. Proklamasi baru saja diumumkan, sementara masa depan negara yang baru lahir belum jelas. Bagi fotografer, film negatif bukan sekadar lembaran benda. Itu adalah bukti.

Jepang Menyita Kamera, Frans Menyembunyikan Negatif

Bagian paling menegangkan dari kisah Mendur bersaudara justru terjadi setelah Proklamasi selesai. Tentara Jepang mengetahui adanya dokumentasi peristiwa tersebut.Kamera Alex disita. Film yang dibawanya ikut dirampas dan foto-fotonya tidak dapat diproses seperti yang diharapkan. Tetapi Frans memiliki cara lain untuk menyelamatkan bukti. Negatif film hasil jepretannya disembunyikan. Menurut catatan Monumen Pers Nasional, tiga rol negatif karya Frans berhasil diselamatkan dan kemudian menjadi sumber foto Proklamasi yang dipublikasikan melalui Harian Merdeka pada 17 Februari 1946. Bayangkan posisi Frans saat itu. Sebuah negara baru saja menyatakan kemerdekaan. Kekuasaan lama belum sepenuhnya pergi. Komunikasi masih terbatas. Teknologi belum secanggih sekarang. Tidak ada cloud storage. Tidak ada hard disk cadangan. Tidak ada tombol “upload”. Hanya ada negatif film. Dan jika negatif itu ditemukan atau dihancurkan, sebuah bagian penting dari sejarah Indonesia bisa ikut lenyap. Frans memilih menyembunyikannya. Bukan karena ia tahu foto itu kelak masuk buku pelajaran. Bukan karena ia tahu fotonya akan dipajang di museum. Tetapi karena ia tahu sejarah membutuhkan bukti.

Dari Kamera Mendur, Lahir IPPHOS

Setelah kemerdekaan, Frans dan Alex tidak berhenti bekerja. Pada 2 Oktober 1946, keduanya bersama Justus Umbas, Frans “Nyong” Umbas, Alex Mamusung, dan Oscar Ganda mendirikan Indonesian Press Photo Service atau IPPHOS. Lembaga tersebut dikenal sebagai salah satu pionir kantor berita foto independen di Indonesia. Melalui IPPHOS, para fotografer tidak hanya merekam pejabat dan upacara. Mereka merekam perang. Mereka merekam perundingan. Mereka merekam perjalanan pemerintahan Republik yang masih sangat muda. Mereka merekam wajah rakyat. Mereka merekam perubahan zaman. Dengan kata lain, fotografi jurnalistik pada masa itu bukan sekadar soal gambar bagus. Ia adalah cara sebuah bangsa menyimpan ingatan.

Lalu Apa Sebenarnya "Londo Ireng"?

Istilah “Londo Ireng” sendiri memiliki jejak sejarah yang panjang. Dalam konteks sejarah kolonial, istilah tersebut berkaitan dengan pelabelan terhadap orang pribumi yang dianggap berpihak kepada kepentingan Belanda atau kekuasaan kolonial. Dalam pidatonya pada Harlah ke-28 PKB, Prabowo menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan pihak yang menurutnya lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain. Persoalannya muncul ketika istilah itu dikaitkan dengan wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM. Sejumlah organisasi pers kemudian mempertanyakan penggunaan label tersebut karena dianggap dapat membangun kesan bahwa kelompok yang kritis terhadap pemerintah otomatis berada di pihak asing. Pemerintah sendiri meminta pernyataan itu dilihat dalam konteks keseluruhan pidato dan menyebut penggunaan istilah tersebut sebagai kiasan politik. Namun polemik tetap berjalan. Dan di sinilah kisah Mendur bersaudara terasa menarik untuk dibaca ulang.

Sebab Jurnalis Tidak Selalu Berada di Belakang Kekuasaan

Frans dan Alex Mendur bekerja pada masa ketika Indonesia belum menjadi negara berdaulat. Mereka bekerja dalam lingkungan pers yang berada di bawah pengawasan kekuasaan pendudukan Jepang. Tetapi ketika sejarah besar terjadi, mereka berada di lokasi. Mereka memotret. Mereka menyimpan bukti. Dan salah satu film mereka bahkan harus diselamatkan dari tangan penguasa. Hari ini, foto-foto tersebut justru menjadi bagian dari narasi resmi sejarah Indonesia. Artinya, seorang jurnalis tidak selalu berdiri di belakang kekuasaan. Kadang ia berdiri beberapa meter dari kekuasaan. Kadang ia berada di depan kekuasaan. Kadang ia justru harus mengambil risiko karena kekuasaan tidak ingin sesuatu direkam. Dan terkadang, hasil kerja jurnalis baru benar-benar dihargai puluhan tahun kemudian.

Sejarah Tidak Bertanya Siapa yang Paling Berkuasa

Ada satu hal menarik dari perjalanan Mendur bersaudara. Ketika mereka menekan tombol kamera pada 17 Agustus 1945, mungkin mereka tidak pernah membayangkan bahwa foto tersebut akan bertahan selama lebih dari delapan dekade. Namun hari ini, kita masih melihatnya. Foto Soekarno membacakan Proklamasi. Foto pengibaran Merah Putih. Foto suasana kemerdekaan. Semua itu menjadi bukti visual bahwa sebuah peristiwa benar-benar pernah terjadi. Sejarah kemudian tidak terlalu peduli apakah fotografernya memiliki kekuasaan. Sejarah justru membutuhkan orang yang merekam fakta. Dan dalam konteks inilah profesi jurnalistik memiliki pekerjaan yang jauh lebih besar daripada sekadar membuat berita viral. Jurnalis mencari informasi. Memeriksa fakta. Merekam peristiwa. Menyimpan dokumen. Dan pada akhirnya, meninggalkan jejak bagi generasi yang belum lahir.

Jurnalis Boleh Dikritik, Tetapi Jangan Kehilangan Ingatan Sejarah

Pers tentu bukan institusi yang bebas dari kesalahan. Jurnalis bisa salah. Media bisa keliru. Pemberitaan dapat dikritik. Bahkan kesalahan jurnalistik wajib dikoreksi. Tetapi kritik terhadap kerja jurnalistik berbeda dengan pelabelan terhadap seluruh profesi. Sebab sejarah Indonesia sendiri menunjukkan bahwa wartawan dan fotografer pernah bekerja dalam kondisi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar menghadapi kritik. Frans Mendur lahir pada 1913 dan meninggal pada 1971. Alex Mendur lahir pada 1907 dan meninggal pada 1984. Puluhan tahun setelah mereka merekam Proklamasi, jasa keduanya mendapatkan penghargaan negara. Mereka menerima Bintang Jasa Utama pada 2009 dan Bintang Mahaputera Nararya pada 2010. Monumen untuk mengenang Mendur bersaudara juga didirikan di Kawangkoan pada 2013. Mereka tidak lagi memegang kamera ketika penghargaan itu diberikan. Tetapi foto mereka masih berbicara. Dan mungkin itulah paradoks paling menarik dari profesi jurnalistik. Orang yang merekam sejarah bisa saja hilang dari zaman. Tetapi rekamannya dapat hidup jauh lebih lama daripada orang yang berkuasa.

Dari "Londo Ireng" Kembali ke Pegangsaan

Polemik “Londo Ireng” pada akhirnya mungkin akan berlalu. Pidato akan berganti pidato. Pemerintahan akan berganti pemerintahan. Tokoh politik akan berganti tokoh politik. Tetapi foto Proklamasi tetap berada di sana. Diam. Tidak berdebat. Tidak membela diri. Tidak berpidato. Namun setiap kali kita melihatnya, foto itu mengingatkan bahwa pada 17 Agustus 1945 ada orang yang memilih mengangkat kamera dan merekam sebuah bangsa yang sedang menyatakan dirinya merdeka. Mungkin karena itu, ketika perdebatan tentang jurnalis kembali muncul, kita perlu mengingat Mendur bersaudara. Bukan untuk menempatkan wartawan di atas kritik. Melainkan untuk mengingat satu hal sederhana: pers mungkin bisa salah dalam menulis sejarah, tetapi tanpa pers dan dokumentasi, sejarah juga bisa kehilangan wajahnya. Dan 81 tahun setelah Proklamasi, kita masih bisa melihat wajah kemerdekaan itu. Semua berawal dari beberapa lembar negatif film yang berhasil diselamatkan.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
Bahlil Siap Jalankan Arahan Prabowo soal Bensin dari Batu Bara
Prabowo Sentil Kawan Musiman dan Tegaskan Arti Kesetiaan di HUT ke-28 PAN
Prabowo Perintahkan Kapolri
Komitmen Pemberantasan Korupsi: Prabowo Tak Lindungi Orang Dekat, Singgung BGN dan Hotel Sultan
Resmikan LRT Manggarai, Prabowo Puji Pramono Anung Gubernur Hebat
Aksi Solidaritas Jurnalis Medan: Doa dan Nyala Lilin untuk 5 Wartawan Hilang di Selat Sunda