Jumat, 25 September 2026

Sumut Nyaris Bebas Buta Aksara, Namun Kelompok Ini Masih Perlu Perhatian

ari tanjung - Minggu, 05 Juli 2026 14:35 WIB
Sumut Nyaris Bebas Buta Aksara, Namun Kelompok Ini Masih Perlu Perhatian
Diagram batang angka melek aksara Sumatera Utara 2025 berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, serta wilayah perkotaan dan perdesaan menurut data BPS.

Topikseru.com, Medan – Tingkat melek aksara di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2025 menunjukkan capaian yang sangat menggembirakan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, sebanyak 99,01 persen penduduk usia 15 tahun ke atas telah mampu membaca dan menulis.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa akses pendidikan dasar di Sumatera Utara semakin merata.

Baca Juga:

Meski demikian, masih terdapat kesenjangan pada kelompok usia lanjut (lansia) yang memiliki tingkat melek aksara lebih rendah dibanding kelompok usia produktif dan generasi muda.

Generasi Muda Hampir Seluruhnya Sudah Melek Aksara

Kelompok usia 15–24 tahun menjadi kelompok dengan tingkat literasi tertinggi di Sumatera Utara.

Angka melek aksara mencapai 99,93 persen, yang berarti hampir seluruh pemuda di provinsi ini telah memiliki kemampuan membaca dan menulis.

Tingginya angka tersebut mencerminkan semakin baiknya akses pendidikan formal selama beberapa dekade terakhir. Program wajib belajar, peningkatan kualitas sekolah, serta pemerataan fasilitas pendidikan dinilai berkontribusi terhadap tingginya tingkat literasi generasi muda.

Sementara itu, pada kelompok usia 15–59 tahun, angka melek aksara juga sangat tinggi, yaitu 99,60 persen.

Data ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk usia produktif telah memiliki kemampuan literasi yang baik untuk mendukung aktivitas ekonomi maupun sosial.

Lansia Masih Menjadi Kelompok dengan Literasi Terendah

Berbeda dengan kelompok usia muda, tantangan masih terlihat pada penduduk berusia 60 tahun ke atas. Tingkat melek aksara pada kelompok ini berada di angka 95,41 persen.

Meskipun tergolong tinggi, angka tersebut masih lebih rendah dibanding kelompok usia lainnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh keterbatasan akses pendidikan pada masa lalu, terutama bagi masyarakat yang tumbuh pada periode ketika fasilitas pendidikan belum merata.

Program pendidikan nonformal dan pemberantasan buta aksara bagi lansia masih menjadi salah satu upaya yang dapat terus diperkuat agar kesenjangan tersebut semakin mengecil.

Laki-laki Sedikit Lebih Tinggi Dibanding Perempuan

Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, tingkat melek aksara laki-laki masih sedikit lebih tinggi dibanding perempuan.

Pada penduduk usia 15 tahun ke atas, angka melek aksara laki-laki mencapai 99,40 persen, sedangkan perempuan berada di angka 98,62 persen.

Perbedaan ini juga terlihat pada kelompok usia lanjut.

Rinciannya sebagai berikut:

Kelompok Umur Laki-laki Perempuan
15–24 tahun 99,97% 99,89%
15–59 tahun 99,71% 99,48%
15 tahun ke atas 99,40% 98,62%
60 tahun ke atas 97,38% 93,70%

Kesenjangan terbesar terjadi pada kelompok lansia. Hal ini mencerminkan kondisi historis ketika perempuan pada masa lalu memiliki kesempatan bersekolah yang lebih terbatas dibanding laki-laki.

Perkotaan Unggul Dibanding Perdesaan

Data BPS juga menunjukkan adanya perbedaan tingkat melek aksara antara wilayah perkotaan dan perdesaan.

Masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan memiliki angka melek aksara lebih tinggi dibanding masyarakat perdesaan, terutama pada kelompok usia lanjut.

Berikut rinciannya:

Kelompok Umur Perkotaan Perdesaan
15–24 tahun 99,91% 99,96%
15–59 tahun 99,79% 99,31%
15 tahun ke atas 99,52% 98,27%
60 tahun ke atas 97,76% 92,39%

Menariknya, pada kelompok usia 15–24 tahun, wilayah perdesaan sedikit lebih tinggi dibanding perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa akses pendidikan dasar bagi generasi muda kini sudah semakin merata hingga ke desa-desa.

Namun, kesenjangan masih cukup terlihat pada kelompok usia lanjut. Lansia di perkotaan memiliki tingkat melek aksara mencapai 97,76 persen, sedangkan di perdesaan sebesar 92,39 persen.

Pendidikan yang Semakin Merata Membawa Dampak Positif

Tingginya angka melek aksara di Sumatera Utara menjadi indikator positif bagi pembangunan sumber daya manusia.

Kemampuan membaca dan menulis merupakan fondasi utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan, produktivitas tenaga kerja, serta kemampuan masyarakat mengakses informasi di era digital.

Literasi yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena membuka peluang lebih besar dalam dunia kerja, kewirausahaan, maupun pemanfaatan teknologi.

Meski demikian, peningkatan literasi bagi kelompok lansia dan masyarakat yang tinggal di daerah terpencil tetap menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian agar manfaat pendidikan dapat dirasakan secara lebih merata.

Ringkasan Angka Melek Aksara Sumatera Utara 2025

Kategori 15–24 Tahun 15–59 Tahun 15 Tahun ke Atas 60 Tahun ke Atas
Laki-laki 99,97% 99,71% 99,40% 97,38%
Perempuan 99,89% 99,48% 98,62% 93,70%
Perkotaan 99,91% 99,79% 99,52% 97,76%
Perdesaan 99,96% 99,31% 98,27% 92,39%
Total Sumatera Utara 99,93% 99,60% 99,01% 95,41%

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025.

Sumber
:
Berita Terkait
Kisah Kevin Vincent, Mahasiswa ITB Berusia 14 Tahun: Pernah Gagal SNBP hingga Lolos FTTM lewat SNBT
Pemerintah Siapkan Beasiswa untuk Ribuan Mahasiswa Korban Bencana NTT
Siswa Deli Serdang Raih 4 Medali di Olimpiade Internasional Malaysia
Penumpang Transportasi Sumut Meningkat pada Juni 2026, Kualanamu Catat 179.694 Penumpang Domestik
Sidang Korupsi Smartboard Langkat: Terdakwa Ungkap Permintaan Komisi 44 Persen
Survei: 76 Persen Orang Tua Kenali Perbedaan Anak Neurodivergen Sebelum Diagnosis