Senin, 26 Oktober 2026

Daun Bosi-bosi asal Sumut Diteliti untuk Kanker Payudara, Ini Temuan Peneliti USU

Muchlis - Senin, 26 Oktober 2026 17:02 WIB
Daun Bosi-bosi asal Sumut Diteliti untuk Kanker Payudara, Ini Temuan Peneliti USU
Ilustrasi - Tim peneliti USU menguji ekstrak daun bosi-bosi melalui sejumlah analisis laboratorium untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif dan aktivitasnya terhadap sel kanker payudara.

Topikseru.com - Tanaman bosi-bosi yang tumbuh di perbukitan Tapanuli Utara, Sumatera Utara, selama ini dikenal masyarakat sebagai tanaman obat tradisional. Kini, tanaman tersebut menjadi objek penelitian ilmiah karena ekstraknya menunjukkan potensi menghambat pertumbuhan sel kanker payudara dalam pengujian laboratorium.

Penelitian ini dilakukan oleh dosen Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU), Muhammad Fauzan Lubis, bersama timnya. Riset yang dimulai pada 2023 tersebut berupaya mengungkap kandungan senyawa bioaktif dalam daun bosi-bosi (Timonius flavescens) sekaligus menguji aktivitas biologisnya.

Salah satu temuan yang menarik perhatian adalah respons sel kanker payudara terhadap ekstrak daun bosi-bosi dalam pengujian in vitro. Tim peneliti menemukan indikasi penghambatan siklus sel dan peningkatan apoptosis, yakni proses kematian sel yang berlangsung secara terprogram.

Baca Juga:

Meski demikian, hasil tersebut masih berada pada tahap penelitian laboratorium. Temuan ini belum membuktikan bahwa bosi-bosi dapat digunakan sebagai obat kanker payudara pada manusia.

"Berdasarkan studi literatur, para peneliti yang mengeksplorasi tanaman ini rata-rata berasal dari Sumatera Utara. Kebetulan saya di fakultas berfokus pada biologi farmasi dan tanaman obat, jadi ada keinginan kuat untuk mengeksplorasi tanaman khas ini. Dari situ kami mencoba mencari tahu apa khasiat lainnya, salah satunya eksplorasi terhadap kanker," kata Fauzan di Medan, Senin (26/10/2026).

Berangkat dari Penggunaan Tradisional di Tapanuli Utara

Bosi-bosi merupakan tanaman dari famili Rubiaceae yang tumbuh di kawasan perbukitan Tapanuli Utara. Dalam praktik pengobatan tradisional, daunnya biasa direbus, kemudian air rebusannya diminum untuk meredakan nyeri hingga membantu mengatasi keluhan yang oleh masyarakat dikenal sebagai sakit gula atau diabetes mellitus.

Kebiasaan tersebut menjadi salah satu titik awal untuk mengeksplorasi kemungkinan manfaat lain dari tanaman lokal itu.

Namun, penggunaan secara turun-temurun tidak serta-merta membuktikan khasiat dan keamanannya untuk setiap kondisi kesehatan.

Karena itu, tim USU mengembangkan penelitian berbasis laboratorium untuk mengidentifikasi kandungan kimia, mengoptimalkan proses ekstraksi, dan menguji aktivitas biologis ekstrak daun bosi-bosi.

Riset tersebut didanai melalui skema Equity Project LPDP yang dikelola Universitas Sumatera Utara, dengan kerja sama yang disebutkan melibatkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Pendekatan ini mempertemukan pengetahuan tradisional mengenai tanaman lokal dengan metode ilmiah. Tujuannya bukan sekadar mengetahui kandungan suatu tanaman, melainkan juga memahami bagaimana senyawa di dalamnya dapat diperoleh dan bagaimana respons biologisnya ketika diuji.

Peneliti Gunakan Metode Ekstraksi Berbasis Kimia Hijau

Berbeda dari cara tradisional yang mengandalkan perebusan daun, tim peneliti menggunakan metode ekstraksi yang dirancang untuk mengoptimalkan penarikan senyawa dari bahan tumbuhan.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah Natural Deep Eutectic Solvent (NADES), yaitu sistem pelarut yang dibuat dari kombinasi komponen tertentu.

Dalam penelitian ini, formulasi tersebut menggunakan kolin klorida sebagai penerima ikatan hidrogen dan D-glukosa sebagai pendonor ikatan hidrogen, kemudian dicampurkan dengan air.

Pendekatan tersebut dikembangkan sejalan dengan prinsip green chemistry atau kimia hijau, yang mempertimbangkan dampak lingkungan dalam proses kimia.

NADES diteliti sebagai alternatif terhadap sejumlah pelarut organik konvensional, seperti etanol atau metanol. Namun, manfaat lingkungan dan keamanan suatu formulasi tetap perlu dinilai berdasarkan komposisi, proses penggunaan, serta hasil pengujiannya.

Untuk memperoleh komposisi pelarut yang optimal, tim menggunakan metode Central Composite Design (CCD) yang berbasis Response Surface Methodology (RSM). Proses ekstraksi juga memanfaatkan gelombang ultrasonik melalui teknik Ultrasound-Assisted Extraction (UAE).

Fauzan menjelaskan, metode tersebut digunakan untuk mengoptimalkan penarikan senyawa polifenol dan flavonoid yang terdapat pada daun bosi-bosi.

"Kami tidak menggunakan metode rebusan seperti yang dilakukan masyarakat. Kami mencoba menggunakan pendekatan sains untuk mengoptimalkan potensi daun bosi-bosi. Melalui formulasi pelarut NADES yang tepat, senyawa polifenol dan flavonoid di dalam daun dapat ditarik secara jauh lebih optimal," ujarnya.

Setelah proses ekstraksi, karakteristik sampel dianalisis menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan Transmission Electron Microscope (TEM).

Hasil karakterisasi yang dilaporkan menunjukkan adanya interaksi ikatan hidrogen antara kolin klorida dan glukosa, serta struktur sferis pada sistem ekstrak yang diamati. Tahap ini membantu peneliti memahami karakteristik formulasi sebelum melanjutkan pengujian berikutnya.

LC-HRMS Identifikasi 13 Senyawa Bioaktif

Setelah memperoleh ekstrak teroptimasi, tim melanjutkan penelitian untuk mengidentifikasi senyawa yang terkandung di dalamnya.

Analisis dilakukan menggunakan teknologi Liquid Chromatography-High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS), dengan fasilitasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Melalui analisis tersebut, peneliti mengidentifikasi 13 senyawa bioaktif utama dalam ekstrak yang diuji.

Ekstrak daun bosi-bosi juga memperlihatkan aktivitas antioksidan yang tinggi dalam pengujian menggunakan metode DPPH. Pada konsentrasi 500 mikrogram per mililiter (μg/mL), aktivitas penghambatan radikal bebas tercatat mencapai 89,32 persen.

Hasil tersebut menjadi petunjuk awal mengenai aktivitas biologis ekstrak. Meski begitu, aktivitas antioksidan tidak dapat dijadikan bukti langsung bahwa suatu bahan mampu mengobati kanker.

Untuk mengetahui potensi antikanker secara lebih spesifik, tim kemudian menguji respons sel kanker payudara terhadap ekstrak tersebut.

Uji Laboratorium Temukan Indikasi Penghambatan Sel Kanker

Pengujian aktivitas antikanker dilakukan secara in vitro menggunakan metode MTT assay pada tiga lini sel kanker payudara. Pengujian ini digunakan untuk menilai respons sel terhadap perlakuan ekstrak dalam kondisi laboratorium.

Peneliti juga melakukan analisis menggunakan flow cytometry dan penandaan imunositokimia untuk mempelajari perubahan pada siklus sel, kematian sel, serta ekspresi protein yang berkaitan dengan kedua proses tersebut.

Hasil pengujian menunjukkan dua mekanisme utama yang berkaitan dengan respons sel kanker, yakni penghentian siklus sel pada fase G0-G1 dan peningkatan apoptosis.

Mekanisme pertama berkaitan dengan G0-G1 cell cycle arrest, yaitu tertahannya sel pada fase G0-G1 sehingga proses menuju pembelahan sel dapat terhambat.

Dalam penelitian ini, tim menemukan penurunan ekspresi protein cyclin D1. Protein tersebut berperan dalam pengaturan siklus sel, termasuk proses yang memungkinkan sel melanjutkan tahapan menuju pembelahan.

Penurunan ekspresi cyclin D1 mengindikasikan bahwa ekstrak yang diuji berpotensi memengaruhi mekanisme pengaturan siklus sel pada sel kanker payudara.

Mekanisme kedua berkaitan dengan apoptosis atau kematian sel terprogram. Pengujian menunjukkan peningkatan kematian sel pada fase early apoptosis dan late apoptosis.

Tim juga melaporkan peningkatan ekspresi protein p53, yang berperan dalam pengendalian siklus sel serta respons sel terhadap kerusakan.

Secara umum, temuan tersebut memberikan gambaran mengenai kemungkinan mekanisme biologis yang terlibat dalam respons sel kanker terhadap ekstrak daun bosi-bosi. Namun, hasil pengujian tersebut belum cukup untuk memastikan bagaimana efeknya pada tubuh manusia.

Belum Bisa Disebut Obat Kanker Payudara

Temuan penelitian USU membuka peluang untuk mengkaji lebih jauh potensi tanaman lokal sebagai sumber senyawa bioaktif. Meski demikian, pengembangan bahan alam menjadi kandidat obat membutuhkan tahapan penelitian yang panjang.

Hasil uji pada sel di laboratorium tidak otomatis menunjukkan bahwa ekstrak akan memberikan efek serupa ketika digunakan pada manusia. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menilai keamanan, dosis, mekanisme kerja, efektivitas pada model biologis yang lebih kompleks, serta kemungkinan efek samping dan interaksi dengan obat lain.

Karakterisasi kandungan ekstrak juga menjadi aspek penting karena komposisi bahan alam dapat dipengaruhi oleh bagian tanaman, lokasi tumbuh, metode pengolahan, dan proses ekstraksi.

Karena itu, potensi daun bosi-bosi sebagai kandidat pengembangan antikanker perlu ditempatkan sesuai bukti ilmiah yang tersedia saat ini.

Temuan penghambatan siklus sel dan apoptosis merupakan hasil awal yang layak diteliti lebih lanjut, bukan bukti bahwa tanaman tersebut sudah dapat digunakan sebagai terapi kanker payudara.

Masyarakat pun tidak disarankan mengganti pengobatan kanker yang direkomendasikan tenaga medis dengan rebusan atau ekstrak bosi-bosi tanpa bukti keamanan dan efektivitas klinis.

Penelitian Fauzan dan tim menjadi salah satu upaya mengeksplorasi kekayaan hayati Sumatera Utara melalui pendekatan farmasi modern. Tahap berikutnya akan menentukan sejauh mana temuan laboratorium tersebut dapat dikembangkan menjadi kandidat bahan obat yang aman dan efektif.

Editor
: Agus Supratman
Berita Terkait
Temulawak dan Kunyit RI Lebih Hebat dari Ginseng Korsel Kata Kepala BPOM
Herbal Terbaik Atasi Pilek pada Anak dan Lansia ala Hembing
Ini 5 Deretan Manfaat Temulawak untuk Rambut, Berikut Cara Aman Menggunakannya
7 Daun Berkhasiat dan Ampuh Mengusir Diabetes, Ini Jenis dan Cara Aman Konsumsinya
5 Minuman Tradisional Indonesia yang Kaya Manfaat, dari Bandrek hingga Wedang Uwuh
Daun Sirsak: Dalam Negeri Dibuang, Jadi