Kamis, 15 Oktober 2026

Andaliman, Rempah Khas Batak yang Tembus Pasar Ekspor, Mengapa Potensinya Belum Maksimal?

Rizky Aisyah - Kamis, 15 Oktober 2026 12:01 WIB
Andaliman, Rempah Khas Batak yang Tembus Pasar Ekspor, Mengapa Potensinya Belum Maksimal?
Indonesia.go.id
Andaliman, rempah khas Batak yang memberikan sensasi getir dan kebas di lidah, berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Selain digunakan dalam masakan tradisional, andaliman juga diolah menjadi produk seperti teh yang menyasar pasar luar negeri.

Topikseru.com -Andaliman merupakan salah satu rempah khas Batak yang banyak digunakan dalam masakan tradisional Sumatera Utara. Rempah yang dikenal memberikan sensasi getir dan kebas di lidah ini ternyata tidak hanya digunakan untuk kebutuhan dapur. Andaliman juga mulai dikembangkan menjadi produk olahan yang menyasar pasar luar negeri.

Salah satu contohnya adalah teh andaliman yang diproduksi oleh pelaku usaha asal Sumatera Utara. Produk tersebut diberitakan telah dipasarkan ke Singapura hingga Belanda. Inovasi ini menunjukkan bahwa andaliman memiliki peluang untuk dijual dalam bentuk produk bernilai tambah, bukan hanya sebagai rempah segar.

Namun, peluang pasar yang terbuka belum otomatis membuat usaha andaliman berkembang maksimal. Ketersediaan bahan baku, proses budidaya, pemasaran, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan.

Baca Juga:

Andaliman dari Kawasan Danau Toba

Andaliman tumbuh di sejumlah wilayah Sumatera Utara, terutama kawasan sekitar Danau Toba. Kabupaten Toba, Dairi, dan Simalungun termasuk daerah yang kerap dikaitkan dengan produksi rempah ini.

Dalam masakan Batak, andaliman digunakan untuk memberikan cita rasa khas pada berbagai hidangan. Ciri rasanya yang berbeda dari lada biasa membuatnya berpotensi dikembangkan menjadi produk bumbu, rempah kering, dan olahan pangan lainnya.

Peluang tersebut mulai dimanfaatkan pelaku usaha. Selain menjual andaliman dalam bentuk segar, sejumlah usaha juga mengembangkan produk kemasan agar lebih mudah dipasarkan dan dikirim ke konsumen di luar daerah.

Harga Andaliman Bisa Berubah Tajam

Salah satu hal menarik dari komoditas ini adalah perubahan harganya. Harga andaliman dapat berbeda cukup jauh, bergantung pada musim panen dan ketersediaan stok.

Dilansir dari mistar, harga andaliman di Simalungun dilaporkan dapat mencapai Rp250.000 per kilogram. Pada kondisi stok terbatas, harga bahkan disebut bisa menyentuh Rp500.000 per kilogram. Angka tersebut merupakan laporan harga pada kondisi tertentu, bukan harga rata-rata andaliman sepanjang tahun.

Sementara itu, dilansir dari detikFinance, pelaku usaha yang menyebut harga eceran andaliman bisa berada di kisaran Rp15.000 per kilogram ketika stok normal, lalu naik menjadi Rp250.000 hingga Rp300.000 per kilogram ketika pasokan terbatas.

Perbedaan harga tersebut memperlihatkan bahwa ketersediaan bahan baku berperan penting dalam perdagangan andaliman. Namun, kedua laporan itu berasal dari waktu dan kondisi yang berbeda sehingga tidak bisa langsung digunakan untuk menghitung kenaikan harga tahunan.

Sudah Menembus Pasar Luar Negeri

Peluang ekspor andaliman juga pernah diteliti secara akademis. Penelitian yang diterbitkan pada 2024 membahas faktor-faktor yang berkaitan dengan ekspor andaliman di Sumatera Utara, dengan lokasi penelitian di Kabupaten Dairi dan Simalungun.

Penelitian tersebut menyebut kedua wilayah itu sebagai sentra produksi andaliman yang tercatat dalam data Balai Karantina Pertanian di Medan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor produksi, luas lahan, harga ekspor, dan harga lokal tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor pada lokasi penelitian.

Temuan ini penting karena memperlihatkan bahwa nilai ekspor tidak selalu bisa dijelaskan hanya dengan melihat banyaknya produksi atau perubahan harga. Faktor lain, seperti permintaan pasar, kualitas produk, pengolahan, dan jalur pemasaran, juga perlu ditelusuri.

Meski demikian, penelitian tersebut tidak berarti bahwa faktor-faktor tadi tidak penting di semua wilayah atau sepanjang waktu. Kesimpulannya terbatas pada data dan lokasi yang diteliti.

Mengapa Potensinya Belum Maksimal?

Ada beberapa tantangan yang layak diperhatikan dalam pengembangan andaliman.

1. Pasokan bergantung pada musim panen

Pelaku usaha yang diwawancarai detikFinance menyebut panen andaliman berlangsung sekitar Maret hingga Juni. Setelah periode tersebut, produksi dapat berkurang sehingga stok dan harga ikut berubah.

Kondisi ini dapat menyulitkan usaha yang membutuhkan pasokan bahan baku secara rutin. Jika ingin memperluas pasar, pelaku usaha perlu memastikan ketersediaan bahan baku dan menjaga mutu produk.

2. Budidaya membutuhkan perhatian khusus

Penelitian tentang keberlanjutan usaha tani andaliman di Kabupaten Toba yang diterbitkan pada 2025 menyebut tanaman ini tidak mudah dibudidayakan. Penelitian tersebut mencatat luas tanam 274 hektare dan produksi 110,17 ton per tahun di Kabupaten Toba. Angka ini merupakan data yang dilaporkan dalam penelitian, bukan statistik produksi terbaru seluruh Sumatera Utara.

Tantangan budidaya membuat ketersediaan bibit, regenerasi tanaman, teknik panen, dan keberlanjutan usaha tani menjadi hal penting untuk diperhatikan.

3. Produk olahan perlu terus dikembangkan

Andaliman selama ini lekat dengan masakan tradisional Batak. Padahal, pengolahan menjadi teh, bumbu kemasan, atau produk pangan lainnya dapat membuka peluang pasar yang berbeda.

Contoh teh andaliman yang diberitakan pada 2023 menunjukkan salah satu cara pelaku usaha mencoba memperluas pemanfaatan rempah ini. Namun, untuk mengetahui seberapa besar keberhasilan produk tersebut, dibutuhkan data penjualan dan ekspor yang lebih lengkap.

4. Data ekspor tahunan masih perlu diperjelas

Salah satu hal yang perlu dibenahi dalam pembahasan potensi andaliman adalah ketersediaan data yang bisa dibandingkan dari tahun ke tahun. Data ekspor Sumatera Utara secara keseluruhan tidak otomatis menunjukkan perkembangan ekspor andaliman secara khusus.

Agar dapat menyimpulkan ekspornya meningkat atau menurun, diperlukan data volume dan nilai ekspor andaliman dengan periode yang konsisten. Tanpa data tersebut, klaim bahwa ekspor terus meningkat belum bisa dipastikan.

Peluang Andaliman ke Depan

Andaliman memiliki modal berupa cita rasa khas, keterkaitan dengan kuliner Batak, dan peluang pengembangan produk olahan. Pengiriman produk olahan ke luar negeri juga menunjukkan bahwa pasar andaliman tidak harus terbatas pada konsumen di Sumatera Utara.

Namun, untuk meningkatkan nilai ekonominya, pengembangan pasar perlu berjalan bersama dengan upaya menjaga pasokan, memperbaiki budidaya, menjaga kualitas, dan memperluas pemasaran.

Data harga yang berfluktuasi serta penelitian mengenai tantangan usaha tani memperlihatkan bahwa potensi pasar saja belum cukup. Keberlanjutan produksi dan kemampuan pelaku usaha memenuhi permintaan juga menentukan perkembangan komoditas ini.

Andaliman berpeluang menjadi salah satu produk unggulan Sumatera Utara. Untuk mengukur seberapa jauh peluang tersebut sudah terwujud, diperlukan data tahunan mengenai produksi, harga petani, penjualan produk olahan, serta volume dan nilai ekspornya.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Kelahiran di Usia Remaja Masih Jadi Perhatian, Bagaimana Kondisi Sumatera Utara?
Minyak Nilam Sumatera Utara Punya Potensi Ekspor, Padang Lawas Utara Jadi Penghasil Terbesar
Deli Serdang Tertinggi, Ini 5 Daerah dengan Perkara Perceraian Terbanyak di Sumut
Polda Sumut Buka Hotline Pengaduan, Warga Bisa Lapor Gangguan Kamtibmas ke Nomor Ini
Penyidik Polda Sumut akan Diperiksa Wassidik, Hak Dhody Thahir Dipenuhi
Dari Wajah Baby Soso yang Terekspos hingga Akun Threads Dikunci, Ini Rentetan Polemik Maia Estianty