Topikseru.com – Persoalan sampah di Kota Medan menjadi tantangan besar seiring tingginya volume sampah yang dihasilkan setiap hari. Pemerintah Kota (Pemko) Medan memperkirakan produksi sampah di ibu kota Sumatera Utara tersebut mencapai 1.500 hingga 1.600 ton per hari.
Besarnya volume sampah itu mendorong pemerintah menyiapkan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Medan Raya. Melalui proyek tersebut, sekitar 1.300 ton sampah per hari direncanakan dapat diolah menjadi energi listrik.
Rencana ini menjadi salah satu upaya untuk menangani persoalan sampah sekaligus memanfaatkan limbah yang selama ini membutuhkan pengangkutan dan pengelolaan dalam jumlah besar.
Baca Juga:
Medan hasilkan hingga 1.600 ton sampah setiap hari
Berdasarkan informasi yang disampaikan Pemko Medan pada Maret 2026, produksi sampah di Kota Medan diperkirakan mencapai 1.500–1.600 ton per hari.
Jika menggunakan angka tertinggi, volume tersebut setara dengan sekitar 48.000 ton sampah dalam 30 hari. Jumlah ini menggambarkan besarnya kebutuhan pengangkutan, pemilahan, dan pengolahan sampah yang harus ditangani setiap bulan.
Sampah rumah tangga, kegiatan perdagangan, pasar, perkantoran, serta aktivitas masyarakat lainnya menjadi bagian dari tantangan pengelolaan sampah perkotaan. Tanpa pengelolaan yang memadai, sampah yang tidak tertangani berpotensi menumpuk di tempat penampungan, mencemari lingkungan, dan menyumbat saluran drainase apabila dibuang sembarangan.
Namun, angka produksi sampah tersebut merupakan perkiraan yang disampaikan pemerintah. Data itu tidak dengan sendirinya menunjukkan berapa banyak sampah yang sudah terangkut, didaur ulang, atau masih belum terkelola.
Sebanyak 1.300 ton sampah ditargetkan diolah menjadi listrik
Salah satu rencana yang disiapkan untuk menangani volume sampah tersebut adalah pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL Medan Raya.
Pemko Medan menyebut sekitar 1.300 ton sampah per hari direncanakan untuk diolah melalui fasilitas tersebut. Jika dibandingkan dengan perkiraan produksi sampah harian sebesar 1.500–1.600 ton, kapasitas yang direncanakan itu setara dengan sekitar 81–87 persen dari volume sampah kota.
Perbandingan tersebut hanya gambaran matematis, bukan bukti bahwa seluruh sampah Medan nantinya akan masuk ke fasilitas PSEL. Pelaksanaan proyek tetap bergantung pada kapasitas operasional, pasokan sampah, pemilahan, teknologi yang digunakan, dan cakupan wilayah layanan.
Dalam persiapan proyek yang diberitakan pada Maret 2026, Pemko Medan juga menyampaikan rencana pengembangan kawasan seluas 14,4 hektare. Pada saat itu, lima hektare disebut telah dibebaskan untuk persiapan fasilitas, sedangkan pembebasan lahan tambahan masih direncanakan.
Informasi tersebut menunjukkan bahwa proyek masih berada dalam tahap persiapan yang diberitakan saat itu. Status pembangunan dan jadwal mulai beroperasi perlu dikonfirmasi kembali melalui pengumuman terbaru pemerintah sebelum dinyatakan telah terealisasi.
Bagaimana sampah bisa diubah menjadi energi listrik?
Pengolahan sampah menjadi energi listrik merupakan salah satu pendekatan untuk memanfaatkan sampah yang tidak dapat ditangani secara optimal melalui metode pengelolaan konvensional.
Secara umum, prosesnya dimulai dengan penerimaan dan pemeriksaan sampah. Sampah kemudian dipilah atau dipersiapkan sesuai kebutuhan teknologi fasilitas. Pada teknologi termal tertentu, sampah diproses menggunakan panas untuk menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan dalam pembangkitan listrik.
Energi panas tersebut digunakan untuk menghasilkan uap, yang kemudian menggerakkan turbin dan generator. Listrik yang dihasilkan selanjutnya dapat disalurkan sesuai rancangan sistem dan ketentuan yang berlaku.
Meski demikian, tidak semua jenis sampah cocok diproses dengan cara yang sama. Kadar air, komposisi sampah, nilai kalor, serta keberadaan bahan berbahaya memengaruhi pemilihan teknologi dan kinerja fasilitas.
Pengolahan sampah menjadi listrik juga tetap membutuhkan pengendalian emisi, pengelolaan air limbah, serta penanganan residu hasil proses. Karena itu, keberhasilan proyek tidak cukup dinilai dari jumlah sampah yang masuk atau listrik yang dihasilkan, tetapi juga dari kepatuhan terhadap standar lingkungan.
Apakah PSEL bisa menyelesaikan persoalan sampah Medan?
Rencana PSEL berpotensi membantu mengurangi beban pengelolaan sampah, terutama apabila fasilitas mampu beroperasi sesuai kapasitas dan standar lingkungan yang ditetapkan.
Namun, teknologi tersebut bukan satu-satunya solusi. Pengurangan sampah sejak dari sumber tetap diperlukan agar volume yang harus diangkut dan diolah tidak terus meningkat.
Masyarakat dapat berkontribusi dengan memisahkan sampah organik dan anorganik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta menyalurkan bahan yang dapat didaur ulang ke fasilitas pengumpulan atau bank sampah.
Sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan juga dapat dikelola melalui pengomposan apabila tersedia sarana yang sesuai. Langkah ini dapat mengurangi sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir.
Di sisi pemerintah, pengelolaan sampah membutuhkan sistem pengangkutan yang teratur, fasilitas pemilahan, pengawasan pembuangan liar, dan transparansi data mengenai volume sampah yang dihasilkan maupun yang berhasil ditangani.
Tantangan yang perlu diawasi
Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana PSEL Medan Raya.
Pertama, kepastian pembangunan dan jadwal operasional. Masyarakat membutuhkan informasi yang jelas mengenai tahapan proyek, target penyelesaian, serta kapan fasilitas benar-benar mulai mengolah sampah.
Kedua, dampak terhadap lingkungan dan kesehatan. Pemerintah perlu memastikan teknologi yang digunakan memenuhi persyaratan lingkungan, memiliki sistem pengendalian emisi, serta menjalankan pemantauan secara berkala.
Ketiga, keberlanjutan pasokan sampah. Fasilitas pengolahan berskala besar membutuhkan pasokan yang sesuai dengan spesifikasi teknologi. Pemilahan dari sumber dan pengelolaan sampah yang baik tetap penting untuk menjaga kinerja sistem.
Keempat, keterbukaan informasi. Data mengenai jumlah sampah yang masuk, listrik yang dihasilkan, residu pengolahan, dan hasil pemantauan lingkungan dapat membantu masyarakat menilai manfaat proyek secara objektif.
Produksi sampah Kota Medan diperkirakan mencapai 1.500–1.600 ton per hari berdasarkan informasi Pemko Medan pada Maret 2026. Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, pemerintah menyiapkan rencana PSEL Medan Raya dengan sekitar 1.300 ton sampah per hari ditargetkan untuk diolah menjadi energi listrik.
Rencana ini berpotensi menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan sampah kota. Namun, manfaatnya akan bergantung pada realisasi proyek, kapasitas operasional, pengendalian dampak lingkungan, dan pengelolaan residu.
Pada saat yang sama, pengurangan sampah dari rumah tangga dan tempat usaha tetap dibutuhkan. Pengolahan menjadi listrik dapat membantu menangani sampah, tetapi upaya mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah harus terus berjalan agar pengelolaan lingkungan Kota Medan lebih berkelanjutan.