Topikseru.com - Penggunaan internet dan media sosial semakin dekat dengan kehidupan anak-anak. Namun, di balik kemudahan berkomunikasi dan mendapatkan informasi, terdapat ancaman yang perlu diwaspadai, salah satunya cyberbullying atau perundungan di dunia digital.
Berbeda dengan perundungan di lingkungan sekolah yang biasanya terjadi secara langsung, cyberbullying dapat berlangsung tanpa mengenal waktu dan tempat. Anak bahkan masih bisa menerima hinaan, ancaman, atau ejekan ketika sudah berada di rumah.
Bentuknya pun beragam, mulai dari komentar yang merendahkan, penyebaran foto tanpa izin, pesan bernada ancaman, hingga tindakan mempermalukan seseorang melalui grup percakapan.
Baca Juga:
Persoalan ini tidak boleh dianggap sebagai candaan biasa. Sebab, pengalaman buruk di dunia digital dapat memengaruhi kondisi emosional, hubungan sosial, dan perkembangan anak.
45 Persen Anak Indonesia Pernah Mengalami Cyberbullying
Ancaman perundungan digital di Indonesia menjadi perhatian setelah muncul laporan bahwa 45 persen anak Indonesia pernah mengalami cyberbullying.
Angka tersebut disampaikan Ketua DPR RI Puan Maharani pada 28 Oktober 2026 dengan merujuk pada riset UNICEF yang disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid.
Dalam laporan tersebut, hanya 39,9 persen orang tua yang merasa mampu mendampingi anak ketika menggunakan internet.
Temuan ini memperlihatkan bahwa perlindungan anak di ruang digital masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal pengawasan, pendampingan, dan pemahaman mengenai risiko penggunaan teknologi.
UNICEF juga menerbitkan kajian mengenai aktivitas daring anak Indonesia pada Februari 2025. Hasilnya menunjukkan hanya 37,5 persen anak yang pernah mendapatkan informasi mengenai cara menjaga keamanan saat berinternet.
Selain itu, 42 persen anak mengaku pernah merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman mereka di dunia maya.
Mengenal Bentuk Cyberbullying yang Sering Terjadi
Cyberbullying merupakan tindakan menyakiti, mempermalukan, mengintimidasi, atau mengucilkan seseorang melalui teknologi digital.
Perilaku ini dapat terjadi di media sosial, aplikasi pesan instan, forum internet, hingga permainan daring.
Beberapa bentuknya yang perlu dikenali antara lain:
1. Mengirim pesan berisi hinaan, ejekan, atau ancaman.
2. Menyebarkan foto dan video seseorang untuk mempermalukannya.
3. Membuat akun palsu untuk menyerang atau merusak nama baik korban.
4. Menyebarkan rumor dan informasi pribadi tanpa persetujuan.
5. Mengucilkan seseorang dari grup percakapan secara sengaja.
6. Memberikan komentar yang merendahkan penampilan, keluarga, atau kemampuan seseorang.
Perundungan digital bisa semakin meluas ketika pengguna lain ikut membagikan, mengomentari, atau menyebarkan konten yang mempermalukan korban.
5 Dampak Cyberbullying terhadap Perkembangan Anak
Cyberbullying dapat meninggalkan dampak yang tidak selalu terlihat secara langsung. Anak mungkin tetap beraktivitas seperti biasa, tetapi mengalami tekanan emosional yang tidak diketahui orang di sekitarnya.
Berikut lima dampak yang perlu diperhatikan.
1. Anak kehilangan rasa percaya diri
Komentar negatif mengenai penampilan, kemampuan, atau kondisi keluarganya dapat membuat anak merasa tidak berharga.
Jika terus menerima perlakuan tersebut, anak berisiko menarik diri dan merasa dirinya selalu menjadi bahan ejekan.
2. Mengalami kecemasan dan ketakutan
Anak yang menjadi korban bisa merasa takut ketika membuka ponsel atau menerima notifikasi.
Mereka mungkin terus memikirkan komentar yang diterima dan khawatir akan kembali dipermalukan oleh pelaku.
3. Menjauh dari teman dan lingkungan sosial
Sebagian anak memilih menghindari teman-temannya karena merasa tidak aman.
Mereka bisa menjadi lebih pendiam, enggan mengikuti kegiatan bersama, atau kehilangan minat untuk berinteraksi.
4. Prestasi belajar menurun
Tekanan psikologis akibat perundungan dapat mengganggu konsentrasi anak ketika belajar.
Dampaknya bisa terlihat dari menurunnya semangat sekolah, kesulitan memahami pelajaran, hingga keengganan mengikuti kegiatan pendidikan.
5. Berisiko mengalami masalah kesehatan mental
Perundungan yang berlangsung berulang dapat meningkatkan risiko tekanan psikologis, kecemasan, dan gejala depresi.
Pada kondisi serius, anak juga dapat mengalami pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Situasi seperti ini membutuhkan perhatian dan bantuan profesional secepatnya.
Perubahan Perilaku Anak yang Perlu Diwaspadai
Tidak semua korban cyberbullying berani menceritakan kejadian yang dialaminya.
Ada anak yang memilih diam karena malu, takut dimarahi, atau khawatir orang tua akan langsung mengambil ponselnya.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku anak.
Misalnya, anak tiba-tiba tidak mau menggunakan media sosial, terlihat sedih setelah membuka ponsel, sulit tidur, lebih sering menyendiri, atau mendadak tidak ingin pergi ke sekolah.
Perubahan tersebut memang tidak selalu menunjukkan adanya cyberbullying. Namun, jika terjadi terus-menerus, orang tua perlu mencari tahu penyebabnya melalui komunikasi yang terbuka.
Cara Melindungi Anak dari Cyberbullying
Pencegahan perundungan digital membutuhkan keterlibatan keluarga dan sekolah.
Orang tua sebaiknya tidak hanya membatasi waktu penggunaan ponsel, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai keamanan dan etika berinternet.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
• Bangun komunikasi agar anak tidak takut menceritakan pengalaman buruk di internet.
• Ajarkan anak untuk tidak membagikan informasi pribadi kepada orang yang tidak dikenal.
• Ingatkan anak agar tidak ikut menyebarkan konten yang menghina orang lain.
• Manfaatkan fitur blokir dan laporkan jika menemukan akun yang melakukan perundungan.
• Simpan tangkapan layar pesan atau unggahan sebagai bukti apabila terjadi intimidasi.
• Hubungi pihak sekolah jika pelaku merupakan teman atau siswa di lingkungan pendidikan.
Jika anak menunjukkan tekanan emosional yang berat, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan profesional.
Cyberbullying Bukan Sekadar Candaan
Perkembangan teknologi membuat anak semakin mudah terhubung dengan dunia luar. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko jika tidak disertai pemahaman mengenai keamanan digital.
Perundungan tidak menjadi wajar hanya karena dilakukan melalui layar ponsel atau dianggap sebagai bahan bercanda.
Anak perlu mengetahui bahwa mereka berhak mendapatkan perlindungan, baik di lingkungan sekolah maupun ketika menggunakan internet.
Karena itu, orang tua dan pihak sekolah perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Jangan menunggu hingga dampaknya semakin besar untuk mulai memberikan perhatian.
Menciptakan ruang digital yang aman bukan hanya tugas pemerintah atau penyedia platform, tetapi juga tanggung jawab orang dewasa yang mendampingi kehidupan anak sehari-hari.