Sabtu, 07 November 2026

Gangguan Ginjal Bisa Terjadi Tanpa Keluhan, Apa Tanda Awal yang Perlu Diperhatikan?

Rizky Aisyah - Sabtu, 07 November 2026 22:14 WIB
Gangguan Ginjal Bisa Terjadi Tanpa Keluhan, Apa Tanda Awal yang Perlu Diperhatikan?
Mayapada Hospital
Penyakit ginjal kronis sering tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal. Pemeriksaan kreatinin darah dan albumin urine dapat membantu mendeteksi gangguan fungsi ginjal lebih dini.

Topikseru.com - Penyakit ginjal kronis sering kali tidak disadari karena dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala pada tahap awal. Seseorang bahkan bisa tetap beraktivitas seperti biasa meskipun fungsi ginjalnya mulai mengalami penurunan.

Kondisi ini membuat gangguan ginjal kerap baru diketahui ketika kerusakan sudah semakin berat. Padahal, ginjal memiliki peran penting dalam menyaring darah, membuang zat sisa metabolisme, menjaga keseimbangan cairan, serta mengatur kadar mineral dalam tubuh.

Ketika fungsi ginjal terganggu, berbagai zat sisa dan cairan dapat menumpuk sehingga memengaruhi kesehatan organ lainnya.

Baca Juga:

Karena itu, mengenali faktor risiko dan perubahan kondisi tubuh menjadi langkah penting untuk mendeteksi gangguan ginjal lebih dini.

Mengapa Penyakit Ginjal Bisa Tidak Menimbulkan Gejala?

Ginjal memiliki kemampuan untuk tetap menjalankan fungsinya meskipun sebagian kemampuannya mengalami penurunan.

Pada penyakit ginjal kronis, kerusakan biasanya berkembang secara bertahap. Tubuh dapat menyesuaikan diri sehingga seseorang tidak langsung merasakan perubahan yang berarti.

Menurut National Kidney Foundation, banyak penderita penyakit ginjal kronis tidak mengalami gejala sampai penyakit memasuki tahap yang lebih lanjut.

Hal serupa dijelaskan Kementerian Kesehatan RI. Penyakit ginjal kronis dapat berkembang secara perlahan dan sering kali baru diketahui setelah fungsi ginjal mengalami penurunan cukup besar.

Inilah alasan pemeriksaan kesehatan tidak sebaiknya hanya dilakukan ketika seseorang sudah merasakan keluhan.

7 Tanda Gangguan Ginjal yang Perlu Diwaspadai

Meskipun tidak selalu muncul pada tahap awal, terdapat sejumlah perubahan pada tubuh yang dapat berkaitan dengan gangguan fungsi ginjal.

Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan.

1. Urine Berbusa

Urine yang terlihat berbusa secara terus-menerus perlu diperhatikan, terutama jika busanya banyak dan tidak segera menghilang.

Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan adanya protein dalam urine atau proteinuria. Normalnya, ginjal menyaring darah sambil mempertahankan protein agar tidak banyak keluar bersama urine.

Ketika penyaring ginjal mengalami kerusakan, protein seperti albumin dapat bocor ke dalam urine.

Namun, urine berbusa tidak selalu menandakan penyakit ginjal. Kecepatan aliran urine dan kondisi lainnya juga dapat menyebabkan busa.

2. Frekuensi Buang Air Kecil Berubah

Perubahan kebiasaan buang air kecil juga dapat menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan.

Sebagian orang mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil, terutama pada malam hari. Sebaliknya, pada kondisi tertentu, jumlah urine justru dapat berkurang.

Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan kemampuan ginjal dalam mengatur cairan dan membuang zat sisa.

Meski demikian, perubahan frekuensi buang air kecil juga bisa disebabkan oleh infeksi saluran kemih, diabetes, konsumsi cairan, atau masalah kesehatan lainnya.

3. Kaki dan Wajah Mengalami Pembengkakan

Ginjal membantu mengatur keseimbangan cairan dan garam dalam tubuh.

Ketika fungsinya terganggu, cairan dapat menumpuk dan menyebabkan pembengkakan atau edema.

Bagian tubuh yang sering mengalami pembengkakan antara lain kaki, pergelangan kaki, tangan, dan area sekitar mata.

Pembengkakan yang terjadi berulang atau semakin berat sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika disertai perubahan urine atau sesak napas.

4. Tubuh Mudah Lelah dan Tidak Bertenaga

Mudah lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat juga dapat berkaitan dengan penyakit ginjal.

Gangguan ginjal kronis dapat menyebabkan anemia karena produksi hormon eritropoietin berkurang. Hormon ini berperan dalam merangsang pembentukan sel darah merah.

Ketika jumlah sel darah merah menurun, distribusi oksigen ke jaringan tubuh dapat terganggu.

Akibatnya, seseorang bisa merasa lemas, cepat lelah, pusing, dan sulit berkonsentrasi.

5. Nafsu Makan Menurun dan Sering Mual

Ketika fungsi ginjal semakin menurun, zat sisa metabolisme yang seharusnya dibuang melalui urine dapat menumpuk dalam darah.

Penumpukan tersebut dapat memengaruhi sistem pencernaan dan menimbulkan keluhan seperti mual, muntah, serta penurunan nafsu makan.

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini juga dapat menyebabkan berat badan menurun tanpa direncanakan.

6. Kulit Terasa Kering dan Gatal

Keluhan kulit kering dan gatal juga dapat dialami penderita penyakit ginjal kronis, terutama ketika kondisinya semakin berat.

Hal ini berkaitan dengan gangguan keseimbangan mineral dan penumpukan zat sisa dalam tubuh.

Gatal yang berlangsung lama tanpa penyebab jelas perlu diperiksakan, khususnya jika disertai keluhan lain seperti pembengkakan atau perubahan pola buang air kecil.

7. Otot Sering Kram

Gangguan keseimbangan mineral dan elektrolit akibat penurunan fungsi ginjal dapat memicu kram otot.

Keluhan ini biasanya dirasakan pada kaki dan dapat muncul ketika beristirahat maupun saat tidur.

Namun, kram otot juga bisa disebabkan oleh kelelahan, aktivitas fisik, dehidrasi, atau kondisi kesehatan lainnya.

Karena itu, diperlukan pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Penyakit Ginjal?

Tidak semua orang memiliki risiko yang sama terhadap penyakit ginjal kronis.

Ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan fungsi ginjal, di antaranya:

• Diabetes: Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal.

• Tekanan darah tinggi: Hipertensi dapat merusak pembuluh darah ginjal sehingga kemampuan menyaring darah menurun.

• Riwayat keluarga: Memiliki anggota keluarga dengan penyakit ginjal dapat meningkatkan risiko.

• Obesitas: Kelebihan berat badan berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes dan hipertensi yang dapat memengaruhi ginjal.

• Penyakit jantung: Gangguan jantung dan pembuluh darah dapat berkaitan dengan penurunan fungsi ginjal.

• Kebiasaan merokok: Merokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko gangguan ginjal.

• Penggunaan obat tertentu: Konsumsi obat pereda nyeri tertentu secara berlebihan atau dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal.

Orang yang memiliki faktor risiko tersebut sebaiknya tidak menunggu munculnya gejala untuk memeriksakan fungsi ginjal.

Bagaimana Cara Mengetahui Fungsi Ginjal?

Gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami penyakit ginjal. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mengetahui kondisi organ tersebut.

Ada dua pemeriksaan utama yang umum digunakan untuk mendeteksi penyakit ginjal kronis.

1. Tes Kreatinin Darah dan eGFR

Kreatinin merupakan zat sisa yang dihasilkan dari aktivitas otot dan normalnya dibuang melalui ginjal.

Jika fungsi penyaringan ginjal menurun, kadar kreatinin dalam darah dapat meningkat.

Hasil pemeriksaan kreatinin kemudian digunakan untuk memperkirakan laju filtrasi glomerulus atau estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR).

Nilai eGFR membantu dokter menilai kemampuan ginjal dalam menyaring darah.

2. Pemeriksaan Albumin dalam Urine

Pemeriksaan urine dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat protein, khususnya albumin, yang keluar melalui urine.

Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan adalah urine albumin-to-creatinine ratio (uACR).

Adanya albumin dalam urine dapat menjadi tanda kerusakan penyaring ginjal, bahkan ketika nilai eGFR masih terlihat cukup baik.

Kedua pemeriksaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kesehatan ginjal.

Bagaimana Cara Menjaga Ginjal Tetap Sehat?

Menjaga kesehatan ginjal dapat dimulai melalui kebiasaan sehari-hari.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Mengontrol tekanan darah agar tetap dalam batas yang dianjurkan.

2. Menjaga kadar gula darah, terutama bagi penderita diabetes.

3. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan membatasi garam berlebihan.

4. Melakukan aktivitas fisik secara rutin.

5. Menjaga berat badan tetap sehat.

6. Menghindari kebiasaan merokok.

7. Tidak mengonsumsi obat pereda nyeri, suplemen, atau obat herbal secara sembarangan.

8. Memenuhi kebutuhan cairan sesuai kondisi kesehatan.

9. Melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala jika memiliki faktor risiko.

Perlu diketahui, minum air putih dalam jumlah sangat banyak tidak otomatis membuat ginjal lebih sehat. Kebutuhan cairan setiap orang berbeda, terutama bagi mereka yang sudah mengalami gangguan ginjal atau penyakit jantung.

Jangan Menunggu Sampai Muncul Gejala Berat

Penyakit ginjal kronis menjadi salah satu kondisi kesehatan yang perlu mendapat perhatian karena dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas.

Urine berbusa, perubahan frekuensi buang air kecil, pembengkakan, hingga tubuh mudah lelah memang dapat menjadi tanda gangguan ginjal. Namun, gejala tersebut tidak selalu menunjukkan penyakit yang sama.

Pemeriksaan kreatinin darah, eGFR, dan albumin urine menjadi cara yang lebih tepat untuk mengetahui kondisi fungsi ginjal.

Bagi penderita diabetes, hipertensi, atau orang dengan riwayat keluarga penyakit ginjal, pemeriksaan berkala sangat penting dilakukan.

Semakin dini gangguan ginjal diketahui, semakin besar kesempatan untuk menangani faktor penyebab dan memperlambat perkembangan kerusakan organ tersebut.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Polda Sumut Razia Tempat Hiburan Malam HW Helen’s Night Mart dan High Pass
Razia Gabungan Polda Sumut di Tempat Hiburan Malam Medan
Propam Poldasu Periksa Sikap Tampang dan Tes Urine Personel Polres Humbahas
Polres Asahan Razia Tempat Hiburan Malam, Seluruh Tes Urine Negatif
128 Pegawai Lapas Kelas I Medan Negatif Tes Urine, Komitmen Wujudkan Lapas Bersih Narkoba
105 Warga Binaan Lapas Kelas I Medan Jalani Tes Urine, Hasilnya Negatif Narkoba