Memanaskan makanan sisa sering menjadi cara praktis untuk menghemat waktu dan mengurangi pemborosan. Namun, kebiasaan memanaskan lauk atau sayuran berkali-kali perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila makanan tidak disimpan dan dipanaskan dengan benar.
Hal yang perlu dipahami, memanaskan makanan berulang kali tidak otomatis membuatnya beracun. Risiko keracunan lebih banyak berkaitan dengan cara makanan didinginkan, disimpan, berapa lama dibiarkan pada suhu ruang, serta apakah pemanasan dilakukan hingga bagian dalam makanan benar-benar panas.
Mengapa makanan yang dipanaskan berulang kali bisa berisiko?
Baca Juga:
Setiap kali makanan dibiarkan dingin, disimpan, lalu dipanaskan kembali, makanan berpotensi melewati rentang suhu yang mendukung pertumbuhan bakteri. Kondisi ini dikenal sebagai temperature danger zone atau zona suhu berbahaya.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjelaskan bahwa suhu sekitar 5–60 derajat Celsius dapat menjadi kondisi yang mendukung pertumbuhan mikroba. Risiko juga muncul ketika makanan matang terlalu lama dibiarkan pada suhu ruang atau dipanaskan ulang dengan suhu yang tidak memadai.
Artinya, persoalannya bukan semata-mata berapa kali makanan terkena panas, melainkan bagaimana makanan tersebut ditangani di antara proses pemanasan.
Nasi menjadi salah satu makanan yang perlu diwaspadai
Nasi matang termasuk makanan yang perlu mendapat perhatian khusus. Beras mentah dapat mengandung spora bakteri Bacillus cereus yang mampu bertahan selama proses memasak.
Jika nasi matang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang, spora tersebut dapat berkembang menjadi bakteri dan menghasilkan racun. Racun yang sudah terbentuk tidak selalu dapat dihancurkan dengan pemanasan ulang.
Akibatnya, nasi yang sudah terkontaminasi tetap bisa menyebabkan keracunan meskipun dipanaskan sampai panas. Kontaminasi juga tidak selalu mengubah warna, aroma, maupun rasa nasi.
Gejala keracunan akibat Bacillus cereus dapat berupa mual, muntah, dan diare. Gejala dapat muncul dalam waktu sekitar 1–6 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Makanan apa saja yang perlu diperhatikan?
Selain nasi, beberapa jenis makanan matang juga perlu disimpan dengan benar, antara lain:
• Daging dan ayam: makanan berprotein tinggi yang mudah menjadi tempat berkembangnya bakteri jika dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang.
• Ikan dan makanan laut: mudah mengalami penurunan kualitas dan berisiko terkontaminasi jika penanganannya tidak tepat.
• Telur dan olahannya: perlu segera disimpan dalam lemari pendingin setelah tidak dikonsumsi.
• Susu dan olahannya: termasuk makanan yang mudah rusak jika berada terlalu lama di luar lemari pendingin.
• Sup dan masakan bersantan: perlu didinginkan dan disimpan dengan benar, bukan dibiarkan berjam-jam di atas kompor dalam kondisi hangat.
Jenis makanan tersebut bukan berarti berbahaya setiap kali dipanaskan ulang. Risiko meningkat ketika proses pendinginan, penyimpanan, dan pemanasannya tidak dilakukan secara aman.
Cara aman menyimpan dan memanaskan makanan sisa
Agar makanan sisa tetap aman dikonsumsi, ada beberapa kebiasaan yang bisa diterapkan di rumah.
1. Jangan membiarkan makanan terlalu lama pada suhu ruang
Makanan matang yang mudah rusak sebaiknya segera disimpan di lemari pendingin. CDC menyarankan makanan yang mudah rusak dimasukkan ke lemari pendingin dalam waktu maksimal dua jam setelah dimasak atau disajikan. Jika berada di lingkungan bersuhu lebih dari 32 derajat Celsius, batasnya menjadi satu jam.
2. Simpan dalam wadah tertutup dan porsi kecil
Membagi makanan ke dalam wadah-wadah kecil dan dangkal membantu makanan lebih cepat dingin. Cara ini juga memudahkan mengambil satu porsi tanpa harus mengeluarkan seluruh makanan dari lemari pendingin.
3. Panaskan hanya makanan yang akan dimakan
Hindari memanaskan satu panci lauk berulang kali. Ambil secukupnya, lalu panaskan bagian tersebut. Otoritas keamanan pangan Inggris menyarankan makanan sisa dipanaskan ulang hanya satu kali.
4. Pastikan makanan panas hingga bagian dalam
Makanan tidak cukup hanya terasa hangat di permukaan. Aduk makanan saat dipanaskan, terutama jika menggunakan microwave, agar panas tersebar merata dan tidak ada bagian yang masih dingin.
5. Buang makanan jika penyimpanannya diragukan
Jangan mengandalkan bau, rasa, atau tampilan untuk memastikan makanan aman. Beberapa bakteri dan racunnya tidak selalu menimbulkan perubahan yang bisa dikenali oleh indra manusia.
Kapan makanan sisa sebaiknya dibuang?
Makanan sebaiknya tidak dikonsumsi jika sudah terlalu lama berada di suhu ruang, penyimpanannya tidak diketahui, atau pernah mengalami proses pendinginan dan pemanasan yang tidak tepat.
Jangan mencoba menyelamatkan makanan yang dicurigai sudah terkontaminasi hanya dengan merebus atau memanaskannya kembali. Sebagian racun bakteri, termasuk yang dihasilkan Bacillus cereus, dapat bertahan meskipun makanan dipanaskan.
Jika setelah mengonsumsi makanan seseorang mengalami muntah atau diare, perhatikan kemungkinan dehidrasi. Segera cari pertolongan medis apabila muncul muntah terus-menerus, diare berdarah, demam tinggi, nyeri perut berat, atau tanda dehidrasi seperti sangat haus, mulut kering, dan buang air kecil berkurang.