Sabtu, 24 Oktober 2026

Makanan Sekolah Harus Bergizi, tetapi Bagaimana Memastikan Aman Dikonsumsi Anak?

Rizky Aisyah - Sabtu, 24 Oktober 2026 20:13 WIB
Makanan Sekolah Harus Bergizi, tetapi Bagaimana Memastikan Aman Dikonsumsi Anak?
CISDI
Makanan bergizi saja tidak cukup jika keamanannya tidak terjamin. Dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), orang tua dan pihak sekolah perlu memperhatikan kebersihan, kematangan, kondisi makanan, serta waktu konsumsi.

Topikseru.com - Makanan yang diberikan kepada anak di sekolah tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan gizi. Kebersihan bahan, proses memasak, penyimpanan, hingga waktu konsumsi juga harus diperhatikan agar makanan tidak menimbulkan risiko gangguan kesehatan.

Hal ini menjadi perhatian dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa keamanan pangan merupakan prioritas utama sebelum kandungan gizi makanan menjadi perhatian berikutnya.

Dalam siaran pers pada 12 Agustus 2026, BGN menyampaikan pentingnya pengawasan keamanan pangan, termasuk penerapan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), penguatan pengawasan, serta keterlibatan sekolah dalam memastikan makanan aman dikonsumsi peserta didik.

Baca Juga:

Lantas, bagaimana cara memastikan makanan sekolah tetap aman sejak keluar dari dapur hingga masuk ke tubuh anak?

1. Pastikan Makanan Diolah dengan Bersih dan Matang

Salah satu langkah penting untuk menjaga keamanan pangan adalah memastikan makanan diolah menggunakan bahan yang layak, peralatan bersih, dan proses memasak yang tepat.

Bahan makanan yang sudah rusak atau terkontaminasi dapat menjadi sumber bahaya bagi kesehatan. Begitu pula peralatan memasak dan wadah penyajian yang tidak dibersihkan dengan baik.

Makanan yang berisiko mengandung mikroorganisme penyebab penyakit perlu ditangani sesuai standar keamanan pangan. Memasak hingga matang dapat membantu mengurangi risiko dari sejumlah mikroorganisme, meskipun tidak semua bahaya pangan dapat diatasi hanya dengan pemanasan.

Karena itu, kebersihan dapur, air yang digunakan, kondisi bahan baku, serta kebiasaan mencuci tangan harus menjadi bagian dari prosedur pengolahan makanan.

2. Perhatikan Waktu Konsumsi Makanan

Makanan matang yang dibiarkan terlalu lama pada suhu yang tidak sesuai dapat menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme tertentu.

Dalam pelaksanaan MBG, BGN menerapkan batas waktu konsumsi pangan olahan siap saji paling lama empat jam sejak makanan matang, sesuai Surat Edaran Kepala BGN Nomor 16 Tahun 2026.

Ketentuan tersebut bertujuan menjaga keamanan, higiene, sanitasi, dan mutu makanan hingga dikonsumsi peserta didik.

Batas waktu ini perlu diperhatikan sejak makanan selesai dimasak, kemudian dikemas, diangkut, diterima sekolah, hingga disajikan kepada anak.

Namun, batas empat jam bukan berarti semua makanan otomatis aman selama periode tersebut. Jenis makanan, suhu penyimpanan, kebersihan proses pengolahan, dan kondisi selama pengiriman tetap menentukan keamanannya.

BGN juga mendorong pencantuman penanda batas waktu konsumsi agar pihak sekolah dapat memeriksa apakah makanan masih layak disajikan.

3. Periksa Kondisi Makanan Sebelum Dibagikan

Guru dan petugas penerima makanan memiliki peran penting dalam pengawasan sebelum makanan dikonsumsi siswa.

Pemeriksaan dapat dimulai dengan melihat kebersihan dan keutuhan kemasan, kesesuaian jenis makanan dan jumlah porsi, serta penanda waktu konsumsi apabila tersedia.

Perhatikan pula apakah makanan memiliki perubahan warna, bau tidak biasa, tekstur yang mencurigakan, atau tanda kerusakan lainnya.

Meski demikian, makanan yang tampak normal belum tentu bebas dari mikroorganisme berbahaya. Karena itu, pemeriksaan visual harus dilengkapi dengan pengendalian kebersihan dan suhu selama proses penyimpanan serta distribusi.

BGN menegaskan bahwa apabila makanan MBG ditemukan tidak layak atau diragukan keamanannya, makanan tersebut tidak boleh dikonsumsi dan harus segera dikembalikan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

4. Pastikan Dapur Memenuhi Standar Higiene dan Sanitasi

Keamanan makanan tidak hanya ditentukan oleh kondisi makanan ketika sampai di sekolah. Proses pengolahan di dapur juga harus memenuhi persyaratan kebersihan dan sanitasi.

BGN memperkuat pengawasan melalui penerapan SLHS serta pengendalian risiko di berbagai tahap penyediaan makanan.

Dalam sistem tersebut, pengawasan mencakup pemilihan bahan baku, penyimpanan, persiapan dan pemasakan, pemorsian, pengangkutan, hingga penyajian makanan kepada penerima manfaat.

Sertifikat dan prosedur sanitasi merupakan bagian penting dari sistem pengawasan, tetapi bukan jaminan bahwa setiap porsi makanan selalu bebas risiko. Pemantauan dan penerapan standar harus tetap dilakukan secara konsisten.

Keterlibatan sekolah, penyelenggara dapur, petugas distribusi, serta masyarakat diperlukan untuk membantu memastikan makanan diterima dalam kondisi yang baik.

5. Ajarkan Anak Mencuci Tangan Sebelum Makan

Kebersihan makanan perlu didukung kebiasaan hidup bersih dari anak itu sendiri.

Salah satu langkah sederhana adalah membiasakan anak mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum makan serta setelah menggunakan toilet.

Anak juga perlu diajarkan untuk tidak berbagi alat makan yang belum dibersihkan dan tidak mengonsumsi makanan yang sudah jatuh atau terpapar kotoran.

Kebiasaan tersebut membantu mengurangi risiko perpindahan kuman dari tangan dan lingkungan ke makanan.

Dalam pelaksanaan MBG, BGN turut mendorong kebiasaan mencuci tangan, makan dengan tertib, dan edukasi mengenai gizi serta keamanan pangan di lingkungan sekolah.

Dengan pendampingan guru, kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari pendidikan kesehatan yang diterapkan setiap hari.

6. Kenali Gejala Keracunan Makanan pada Anak

Orang tua dan guru perlu mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan yang mungkin muncul setelah anak mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Gejala yang dapat terjadi meliputi mual, muntah, diare, sakit perut, dan demam. Keluhan dapat muncul dalam waktu yang berbeda-beda, bergantung pada penyebab dan jenis kontaminan.

Apabila beberapa anak mengalami keluhan serupa setelah menyantap hidangan yang sama, kejadian tersebut perlu segera dilaporkan dan dievaluasi oleh petugas kesehatan.

Jangan menunggu sampai seluruh anak menunjukkan gejala. Anak yang mengalami muntah atau diare berulang perlu diawasi karena berisiko mengalami dehidrasi.

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami muntah terus-menerus, tidak mampu minum, buang air kecil jauh berkurang, tampak sangat lemas, terdapat darah pada tinja, atau menunjukkan tanda bahaya lainnya.

Jangan memaksakan anak makan atau memberikan obat antidiare dan antibiotik tanpa petunjuk tenaga kesehatan.

7. Apa yang Harus Dilakukan Jika Makanan Sekolah Diduga Tidak Aman?

Jika menemukan makanan berbau tidak normal, kemasan rusak, atau kondisi yang menimbulkan kecurigaan, anak sebaiknya tidak mengonsumsinya.

Orang tua atau guru dapat mendokumentasikan kondisi makanan dan melaporkannya kepada pihak sekolah serta penyelenggara program agar dapat ditindaklanjuti.

Apabila anak sudah telanjur mengonsumsi makanan tersebut dan mengalami gejala, segera cari pertolongan medis sesuai kondisi anak. Jika beberapa siswa mengalami keluhan serupa, pihak sekolah perlu segera berkoordinasi dengan puskesmas atau dinas kesehatan setempat.

Informasi mengenai waktu makan, jenis makanan, dan jumlah anak yang mengalami gejala dapat membantu petugas melakukan penelusuran.

Sisa makanan atau kemasan yang masih tersedia sebaiknya tidak dibuang sebelum ada arahan petugas, apabila diperlukan untuk pemeriksaan. Namun, jangan menunda pertolongan medis hanya untuk mengumpulkan bukti.

Keamanan Pangan Harus Berjalan Bersama Pemenuhan Gizi

Program makan di sekolah dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak, tetapi manfaatnya bergantung pada kualitas makanan dan keamanan proses penyediaannya.

Makanan yang bergizi harus didukung bahan baku yang layak, proses pengolahan higienis, penyimpanan yang tepat, distribusi terkendali, serta pengawasan sebelum dikonsumsi.

Karena itu, tanggung jawab menjaga keamanan pangan tidak hanya berada pada penyedia makanan. Sekolah, guru, petugas distribusi, orang tua, dan anak juga memiliki peran masing-masing.

Dengan pengawasan yang konsisten dan kebiasaan hidup bersih, makanan sekolah diharapkan dapat mendukung tumbuh kembang anak tanpa mengabaikan keselamatan mereka.

Berita Terkait
Hasil Survei Indef, Baru 5 Persen UMKM Bermitra dengan MBG
Darurat Pendidikan? 230 Ribu Anak di Sumut Tercatat Tidak Sekolah
MBG di Sumut Dihentikan Sementara, Pasca Sekolah Belajar Daring karena Kabut Asap Karhutla
SMP Classrooms of Hope Dibangun di Medan Belawam, Bakal Tampung 300 Siswa
Sudaryono: Jumlah Siswa Lapar Berangkat Sekolah Turun Menjadi 16 Persen Sejak Ada MBG
Kabut Asap Makin Mengganggu, Siswa di Mandailing Natal PJJ Selama 3 Hari