Rabu, 23 September 2026

4 Gunung Api Erupsi Bersamaan, Ahli Ungkap Apa yang Sebenarnya Terjadi

Muchlis - Senin, 07 September 2026 15:05 WIB
4 Gunung Api Erupsi Bersamaan, Ahli Ungkap Apa yang Sebenarnya Terjadi
Empat gunung api Indonesia mengalami erupsi hampir bersamaan pada 6 September 2026
Topikseru.com - Empat gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam rentang waktu yang berdekatan pada Minggu (6/9/2026). Aktivitas vulkanik tersebut terjadi di wilayah yang berbeda, mulai dari Selat Sunda hingga Maluku Utara. Gunung yang mengalami erupsi antara lain Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu. Fenomena tersebut sekilas terlihat seperti rangkaian letusan yang saling berkaitan. Namun, ahli kebencanaan sekaligus ahli gempa dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa erupsi yang terjadi hampir bersamaan bukan berarti satu gunung api memicu gunung lainnya. Menurutnya, fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari dinamika tektonik dan vulkanik Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik. "Fenomena erupsi simultan pada empat gunung api di Indonesia pada 6 September 2026 merupakan manifestasi dinamika tektonik global di wilayah Ring of Fire," kata Daryono dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).

Bukan Karena Ada "Pipa Magma" yang Sama

Indonesia berada di wilayah dengan aktivitas tektonik yang sangat kompleks. Sejumlah lempeng bumi bertemu dan saling berinteraksi di kawasan ini, termasuk Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina yang berinteraksi dengan Lempeng Eurasia. Kondisi tersebut membuat Indonesia memiliki banyak gunung api aktif. Meski demikian, Daryono menegaskan tidak ada mekanisme geologi berupa satu jaringan saluran magma bawah tanah yang menghubungkan dapur magma Gunung Anak Krakatau dengan Semeru, Ili Lewotolok maupun Gunung Ibu. Dengan kata lain, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak secara otomatis memicu erupsi Gunung Semeru atau gunung api lainnya. Masing-masing gunung memiliki sistem vulkanik sendiri. Erupsi yang terjadi berdekatan waktunya lebih berkaitan dengan kondisi internal setiap gunung yang telah mengalami peningkatan tekanan magma dan fluida hingga mencapai kondisi kritis. "Secara geologi tidak ada mekanisme 'jalur pipa' maupun jaringan saluran magma bawah tanah tunggal yang menghubungkan dapur magma antargunung tersebut," jelas Daryono.

Empat Gunung, Empat Karakter Erupsi

Empat gunung api Indonesia mengalami erupsi hampir bersamaan pada 6 September 2026 Perbedaan sistem vulkanik tersebut terlihat dari karakter erupsi masing-masing gunung. Gunung Semeru, misalnya, mengalami erupsi pada Minggu pagi dengan tinggi kolom letusan sekitar 1.000 meter di atas puncak Mahameru. Saat itu status aktivitas Semeru berada pada Level III atau Siaga. Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, juga mengalami erupsi. Letusan terkuat yang tercatat pada pukul 06.41 WITA menghasilkan kolom abu sekitar 600 meter di atas puncak. Sementara Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara, tercatat mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak pada Minggu dini hari. Gunung Anak Krakatau memiliki dinamika berbeda. Badan Geologi mencatat episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam, sejak 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas Anak Krakatau kembali menunjukkan karakter erupsi Strombolian. Status gunung api itu tetap berada pada Level III atau Siaga.

Mengapa Abu dari Satu Gunung Bisa Menyebar Lebih Jauh?

Tidak semua erupsi memiliki dampak sebaran material yang sama. Salah satu faktor yang menentukan adalah tinggi kolom erupsi. Semakin tinggi material vulkanik terdorong ke atmosfer, semakin besar peluang abu terbawa angin menuju wilayah yang lebih jauh. Hal tersebut terlihat pada aktivitas Gunung Anak Krakatau. BMKG mendeteksi adanya sebaran abu vulkanik yang mencakup wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. BMKG juga meningkatkan pemantauan terhadap dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Daryono menjelaskan, tinggi rendahnya kolom abu tidak hanya ditentukan oleh besarnya letusan. Tekanan gas di dalam saluran magma atau conduit, gaya apung termal serta kondisi atmosfer turut menentukan seberapa tinggi material vulkanik dapat terdorong. Karakter magma juga memiliki peran penting.

Magma, Gas, dan Tinggi Kolom Abu

Dalam proses vulkanologi, komposisi magma menjadi salah satu faktor yang memengaruhi karakter erupsi. Kandungan silika atau SiO₂, tingkat viskositas magma serta jumlah gas vulkanik seperti H₂O, CO₂ dan SO₂ dapat menentukan apakah sebuah erupsi cenderung eksplosif atau berlangsung lebih terbuka. Magma dengan viskositas tinggi dan kandungan gas yang besar lebih mudah menghasilkan tekanan tinggi. Ketika tekanan dilepaskan secara tiba-tiba, magma dapat terfragmentasi menjadi partikel berukuran sangat kecil yang kemudian menjadi abu vulkanik. Partikel berukuran halus inilah yang lebih mudah terbawa angin dan menyebar ke wilayah yang jauh dari sumber erupsi. Sebaliknya, gunung api dengan magma yang lebih cair atau sistem saluran yang relatif terbuka dapat melepaskan tekanan secara berulang. Karakter seperti ini dapat menghasilkan letusan dengan kolom erupsi lebih rendah serta sebaran material yang cenderung lebih terbatas di sekitar kawah.

Erupsi Bersamaan Bukan Berarti Indonesia Mengalami Satu Letusan Besar

Fenomena empat gunung api yang erupsi dalam waktu berdekatan memang menarik perhatian. Namun, kondisi tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai tanda bahwa seluruh gunung api di Indonesia sedang menuju erupsi besar secara bersamaan. Setiap gunung memiliki sistem magma, tekanan internal, komposisi material dan karakter erupsi yang berbeda. Faktor yang menghubungkan fenomena tersebut berada pada konteks yang lebih luas, yakni posisi Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik dan dinamika tektonik yang terus berlangsung. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak mengaitkan erupsi empat gunung tersebut dengan teori bahwa satu gunung "membangunkan" gunung lainnya. Yang lebih penting adalah mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan Badan Geologi, terutama terkait perubahan status aktivitas, radius bahaya, potensi abu vulkanik, serta rekomendasi keselamatan. Aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri masih harus dipantau ketat karena meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, Badan Geologi menyatakan probabilitas terjadinya letusan pada periode berikutnya masih tinggi.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
Gunung Ibu Kembali Erupsi, Kolom Abu 400 Meter Meluas hingga Halmahera Utara
Pencarian Jurnalis Hilang Masuk Hari Ketiga, 300 Personel dan 11 Kapal Dikerahkan
Basarnas Kerahkan Helikopter Dauphin Sisir Udara 8 Korban Hilang di Krakatau
DPR Minta Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Krakatau Dikerahkan Maksimal
Basarnas Banten Sisir Selat Sunda, Rombongan Jurnalis Krakatau Belum Ditemukan
Ruang Udara Aman, Penerbangan Kualanamu ke Jakarta dan Bandung Kembali Beroperasi