Topikseru.com - Banyak orang mengira kolesterol tinggi hanya dialami mereka yang memiliki berat badan berlebih. Padahal, kondisi ini dapat menyerang siapa saja, termasuk orang yang tampak sehat dan tidak gemuk.
Yang perlu diwaspadai, kolesterol tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala jelas. Namun dalam beberapa kasus, tubuh bisa memberikan sinyal tertentu, salah satunya rasa kaku atau nyeri pada area leher hingga pundak.
Spesialis gizi klinik dr Putri Sakti, MGizi, SpGK, AIFO-K, CBCFF menjelaskan bahwa penumpukan lemak akibat kadar kolesterol yang tinggi dapat memengaruhi kondisi pembuluh darah.
Menurutnya, kolesterol berlebih dapat menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi lebih kaku akibat terbentuknya plak lemak.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman pada beberapa bagian tubuh, termasuk leher dan pundak.
“Penumpukan lemak di pembuluh darah bisa membuat aliran darah tidak optimal sehingga muncul keluhan seperti leher terasa kaku atau pegal,” jelasnya dalam wawancara sebelumnya.
[irp posts="11670" ]
Meski demikian, nyeri leher tidak selalu disebabkan oleh kolesterol tinggi. Keluhan tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan medis.
Kolesterol merupakan zat menyerupai lilin yang secara alami terdapat di dalam darah. Tubuh membutuhkan kolesterol untuk membentuk sel sehat, memproduksi hormon, serta membantu proses metabolisme.
Masalah muncul ketika kadar kolesterol dalam darah terlalu tinggi.
Kelebihan kolesterol dapat menumpuk di dinding pembuluh darah dan membentuk plak. Lama-kelamaan, plak ini dapat mempersempit pembuluh darah dan mengganggu aliran darah ke organ vital.
Kondisi inilah yang meningkatkan risiko berbagai penyakit serius seperti penyakit jantung koroner dan stroke.
Saat pembuluh darah menyempit, suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan tubuh menjadi kurang optimal. Tubuh kemudian merespons dengan munculnya sensasi tidak nyaman atau nyeri.
Area yang sering terdampak antara lain:
Keluhan tersebut terjadi karena jaringan otot dan saraf tidak mendapatkan aliran darah yang cukup.
Namun para ahli kesehatan menekankan bahwa gejala ini bukan tanda diagnosis pasti kolesterol tinggi. Banyak kondisi lain yang juga dapat menimbulkan keluhan serupa, seperti kelelahan otot, postur tubuh buruk, atau stres.
Salah satu alasan kolesterol tinggi berbahaya adalah sifatnya yang sering disebut sebagai silent disease atau penyakit tanpa gejala.
Seseorang bisa memiliki kadar kolesterol tinggi selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya.
Dalam beberapa kasus, gejala baru muncul ketika pembuluh darah telah mengalami penyempitan signifikan atau terjadi komplikasi.
Karena itu, pemeriksaan rutin menjadi langkah penting untuk deteksi dini.
Dikutip dari berbagai sumber medis internasional, kadar kolesterol tinggi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko:
Plak kolesterol juga dapat pecah secara tiba-tiba dan membentuk gumpalan darah yang menyumbat aliran darah.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan keadaan darurat medis.
Kolesterol tinggi tidak hanya dialami oleh orang dengan obesitas. Beberapa faktor risiko lain meliputi:
Bahkan individu dengan berat badan ideal tetap dapat mengalami kolesterol tinggi jika memiliki riwayat keluarga atau pola hidup kurang sehat.
Satu-satunya cara mengetahui kadar kolesterol secara pasti adalah melalui tes darah.
Pemeriksaan profil lipid biasanya mengukur:
Dokter biasanya menyarankan pemeriksaan dilakukan minimal satu kali dalam setahun, terutama bagi individu dengan faktor risiko.
Jika muncul keluhan seperti nyeri leher yang berlangsung lama, pemeriksaan kesehatan menyeluruh sangat dianjurkan.
Perubahan gaya hidup menjadi langkah utama dalam mengontrol kadar kolesterol.
Beberapa kebiasaan yang disarankan antara lain:
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat memberikan terapi obat sesuai kebutuhan pasien.
Keluhan leher atau pundak kaku memang sering dianggap masalah ringan akibat kelelahan. Namun jika terjadi berulang tanpa penyebab jelas, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Kolesterol tinggi sering berkembang tanpa gejala nyata. Oleh karena itu, kombinasi antara mengenali tanda awal dan melakukan pemeriksaan rutin menjadi kunci utama mencegah komplikasi serius di masa depan.
Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat sehingga risiko penyakit jantung dan stroke dapat ditekan secara signifikan.