Topikseru.com - Bibir yang tiba-tiba berkedut sering kali membuat seseorang merasa khawatir. Tidak sedikit pula yang mengaitkannya dengan mitos atau pertanda tertentu. Padahal, dalam dunia medis, kedutan pada bibir umumnya merupakan respons otot yang berkontraksi secara spontan akibat gangguan sementara pada komunikasi antara saraf dan otot.
Pada sebagian besar kasus, kondisi ini tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya. Namun, bila berlangsung terus-menerus atau disertai gejala lain, bibir berkedut juga dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Lantas, apa saja penyebab bibir kedutan dan bagaimana cara mengatasinya?
Kedutan pada bibir terjadi ketika otot di sekitar mulut berkontraksi tanpa disadari. Kontraksi ini dipicu oleh sinyal saraf yang bekerja tidak normal, baik karena faktor ringan seperti kelelahan maupun akibat gangguan pada sistem saraf.
Durasi kedutan bisa berlangsung beberapa detik, menit, bahkan berulang selama beberapa hari tergantung penyebabnya.
Kurang tidur menjadi salah satu penyebab paling umum bibir berkedut. Saat tubuh tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup, saraf dan otot menjadi lebih sensitif sehingga lebih mudah mengalami kontraksi spontan.
Selain bibir berkedut, kurang tidur biasanya disertai gejala seperti tubuh mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan mata ikut berkedut.
Tekanan pekerjaan, masalah pribadi, atau kecemasan berkepanjangan dapat meningkatkan produksi hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin. Kondisi tersebut membuat otot wajah menjadi lebih tegang sehingga memicu kedutan pada bibir.
Jika penyebabnya adalah stres, kedutan umumnya akan berkurang setelah tubuh lebih rileks.
Kopi, teh, minuman energi, maupun minuman bersoda mengandung kafein yang dapat merangsang sistem saraf.
Apabila dikonsumsi secara berlebihan, kafein dapat menyebabkan tubuh gemetar, jantung berdebar, sulit tidur, hingga muncul kedutan pada berbagai otot, termasuk bibir.
Kalium dan magnesium merupakan mineral penting yang membantu saraf mengirimkan sinyal ke otot.
Ketika kadar kedua mineral tersebut menurun, otot lebih mudah mengalami kram maupun kedutan. Selain bibir berkedut, seseorang juga dapat mengalami kram kaki, tubuh lemas, atau kesemutan.
Sumber kalium dan magnesium bisa diperoleh dari pisang, alpukat, bayam, kacang-kacangan, serta ikan.
Beberapa jenis obat diketahui dapat memengaruhi keseimbangan elektrolit maupun kerja saraf sehingga memicu kedutan otot.
Obat yang berpotensi menimbulkan efek tersebut antara lain kortikosteroid, diuretik, maupun terapi hormon tertentu.
Jika bibir mulai berkedut setelah mengonsumsi obat baru, jangan menghentikan pengobatan sendiri. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter agar dapat dievaluasi penyebabnya.
Benturan pada kepala atau wajah dapat menyebabkan iritasi pada saraf yang mengendalikan otot wajah.
Gangguan tersebut membuat sinyal saraf menjadi tidak stabil sehingga otot bibir dapat berkontraksi tanpa disadari.
Meski tidak selalu terjadi, kondisi ini perlu diperiksa apabila kedutan muncul setelah mengalami kecelakaan atau cedera.
Hemifacial spasm merupakan gangguan saraf yang menyebabkan otot di salah satu sisi wajah berkedut berulang kali.
Kedutan biasanya bermula dari kelopak mata, kemudian menjalar ke pipi hingga bibir pada sisi yang sama.
Kondisi ini sering dipicu oleh pembuluh darah yang menekan saraf wajah, meski dalam beberapa kasus dapat berkaitan dengan cedera maupun tumor.
Bell's palsy adalah kelumpuhan sementara pada salah satu sisi wajah akibat peradangan saraf wajah.
Selain menyebabkan wajah tampak menurun, sebagian penderita juga mengalami kedutan pada bibir sebelum kelemahan otot muncul.
Penyebab pasti Bell's palsy belum diketahui, tetapi kondisi ini sering dikaitkan dengan infeksi virus.
Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif yang memengaruhi kemampuan otak dalam mengontrol gerakan tubuh.
Selain tremor pada tangan, penderita juga dapat mengalami getaran atau kedutan pada bibir dan wajah yang disertai gerakan melambat serta kekakuan otot.
Gejala biasanya berkembang secara bertahap dalam jangka panjang.
ALS merupakan penyakit yang menyerang sel saraf pengendali gerakan otot.
Pada tahap awal, sebagian penderita mengalami kedutan otot di wajah atau anggota tubuh, kemudian berkembang menjadi kelemahan otot, sulit berbicara, hingga kesulitan menelan.
Meski demikian, ALS tergolong penyebab yang jauh lebih jarang dibandingkan stres atau kelelahan.
Penanganan bibir berkedut disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Bila dipicu oleh faktor ringan, beberapa langkah berikut dapat membantu meredakannya:
Pada kasus tertentu yang berkaitan dengan gangguan saraf, dokter dapat memberikan terapi sesuai penyebabnya, termasuk obat pelemas otot atau suntikan botulinum toxin (Botox) untuk mengurangi kontraksi otot yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Sebagian besar bibir berkedut tidak berbahaya. Namun, Anda sebaiknya segera mencari pertolongan medis apabila mengalami kondisi berikut:
Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah keluhan tersebut berkaitan dengan gangguan pada sistem saraf atau kondisi medis lainnya.
Bibir berkedut umumnya disebabkan oleh kondisi ringan seperti kurang tidur, stres, konsumsi kafein berlebihan, atau kekurangan mineral tertentu. Meski biasanya tidak berbahaya, kedutan yang berlangsung lama atau disertai gangguan fungsi wajah perlu mendapatkan pemeriksaan medis karena dapat menjadi tanda penyakit saraf.
Menjaga pola tidur, mengelola stres, memenuhi kebutuhan nutrisi, serta membatasi konsumsi kafein merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko bibir berkedut.
Referensi medis: Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan panduan dari Mayo Clinic, Cleveland Clinic, MedlinePlus, NHS (National Health Service), dan Johns Hopkins Medicine mengenai kedutan otot (muscle twitching), hemifacial spasm, Bell's palsy, Parkinson, serta amyotrophic lateral sclerosis (ALS).