Minggu, 25 Oktober 2026

IHSG Turun 0,35% Dipicu Investor Menimbang Risiko Global dan Data Ekonomi Domestik

Mhd Rabbani - Selasa, 28 Oktober 2025 13:41 WIB
IHSG Turun 0,35% Dipicu Investor Menimbang Risiko Global dan Data Ekonomi Domestik
IHSG
Topikseru.com - Pada perdagangan sesi pertama Selasa (28/10/2025) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi seiring investor menimbang risiko global dan data ekonomi domestik. [irp posts="26115" ] Mengutip data RTI, IHSG turun 0,35% atau 28,35 poin ke level 8.088,80, dengan 289 saham turun, 352 naik, dan 166 stagnan. Total volume perdagangan mencapai 18,8 miliar saham senilai Rp 11,7 triliun. [irp posts="26047" ] Empat sektor utama membebani IHSG, dengan tiga sektor teratas yang terkoreksi adalah: IDX-Industry: -2,13%, IDX-Finance: -0,22%, dan IDX-NonCyc: -0,12%. Saham LQ45 Top Losers: PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR): -6,27% ke Rp 2.540 PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): -3,82% ke Rp 6.925 PT Astra International Tbk (ASII): -3,03% ke Rp 6.400 Saham LQ45 Top Gainers: PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA): +7,38% ke Rp 655 PT Bank Jago Tbk (ARTO): +6,48% ke Rp 2.300 PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI): +5,49% ke Rp 1.250

Analis Pasar: IHSG akan Bergerak Fluktuatif Cenderung Menguat Terbatas

pada akhir perdagangan Senin (27/10/2025) Indeks Harga Saham Gabungan berakhir melemah 1,87% ke level 8.117. Di tengah perdagangan, indeks sempat menyentuh level terendah di 7.959. VP Equity Retail Analyst Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi menilai, pelemahan tersebut dipicu oleh sentimen negatif terkait rencana Morgan Stanley Capital Index (MSCI) yang akan melakuan penyesuaian metodologi perhitungan free float khusus untuk konstituen saham Indonesia MSCI diwacanakan hendak menggunakan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk perhitungan free float. Seperti diketahui, selama ini emiten di Indonesia hanya melaporkan pemegang saham dengan kepemilikan lebih dari sama dengan 5% kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara itu, data KSEI melaporkan kepemilikan di bawah kurang dari 5% dan memberikan klasifikasi pemegang saham sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih rinci terkait pemegang saham yang kurang dari 5%. “Dengan aturan baru, pembulatan akan lebih ketat dan konservatif dan memicu outflow oleh dana pasif global,” ujar Audi. Padahal, tekanan IHSG saat ini terjadi di tengah pasar saham global dan regional Asia yang cenderung menguat seiring dengan tercapainya kerangka kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dengan China. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menambahkan, MSCI juga akan menerapkan pembulatan baru mulai Mei 2026, dengan aturan berbeda tergantung besarnya free float. Bila porsinya 25% akan dibulatkan ke 2,5% terdekat, bila 5% hingga 25% akan dibulatkan ke 0,5% terdekat, dan bila kurang dari 5% akan dibulatkan ke 0,5% terdekat. “Kebijakan ini akan berdampak terhadap bobot saham Indonesia dalam indeks Emerging Markets MSCI,” kata Alrich. Secara teknikal, IHSG dilihat Alrich mengalami breaklow MA20 di level 8.117 dengan kenaikan volume transaksi. Stochastic RSI juga tampak mengalami death cross di pivot area, dengan MACD membentuk penyempitan negative slope. Dus, IHSG ditaksir Alrich berpotensi menguji level psikologis 8.000 dengan support 8.000 dan resistance 8.300 besok. Sementara prediksi Audi, IHSG akan bergerak fluktuatif cenderung menguat terbatas dalam rentang level support 8.006 dan resistance 8.250 dengan indikator MACD menunjukkan pelemahan tren, sejalan dengan RSI yang mengalami penurunan. Menurutnya, pasar masih akan bereaksi terhadap wacana perubahan konstituen MSCI. Selain itu, kekhawatiran pelemahan rupiah terhadap dolar AS ke level 16.620 juga akan cenderung memberikan sentimen negatif ke indeks hari ini. Alrich menimpali, pasar juga akan menanti realisasi laporan keuangan 3Q25 dan membaiknya perekonomian domestik pada kuartal IV-2025. Sebelumnya, Alrich menyebutkan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan kinerja yang solid, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) cenderung mengalami tekanan dari laba, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mencatatkan penurunan laba seiring dengan meningkatnya beban provisi dan beban lain-lain di per kuartal III-2025. Dengan berbagai sentimen itu, investor disarankan Alrich untuk mencermati saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (AMDR), PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT Bank Jago Tbk (ARTO), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Adapun, Audi merekomendasi trading buy saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan ADMR dengan masing-masing rentang support dan resistance Rp 770-Rp 950 dan Rp 1.315-1.635.

Sumber
:
Berita Terkait
OJK Buka Suara soal Reformasi Bursa, dari Aturan Free Float hingga Denda Rp 2,1 Triliun
IHSG Melejit 5,65% ke 5.278, Saham Bank Jadi Penopang, Investor Masih Waspada
BEI Keluarkan 80 Saham dari IHSG, Bobotnya Capai 18% Indeks
IHSG Anjlok 2,20 Persen ke 5.812, Rupiah Tertekan, Investor Asing Jual Saham Rp 182,94 Miliar
IHSG Dibuka Melemah ke 5.914, Konflik Timur Tengah dan Inflasi Global Jadi Beban
IHSG Dibuka Naik ke 6.139, Ada Suntikan Stimulus Rp 31 Triliun