Sabtu, 24 Oktober 2026

Murid Dibatasi Bermain HP di Sekolah, Benarkah Bisa Meningkatkan Konsentrasi Belajar?

Rizky Aisyah - Sabtu, 24 Oktober 2026 21:55 WIB
Murid Dibatasi Bermain HP di Sekolah, Benarkah Bisa Meningkatkan Konsentrasi Belajar?
AI
Ilustrasi suasana belajar di kelas dengan murid menyimpan HP selama pelajaran berlangsung. Pembatasan penggunaan gawai di sekolah diharapkan membantu meningkatkan konsentrasi belajar dan mengurangi distraksi di kelas.

Topikseru.com - Penggunaan telepon genggam atau HP di kalangan murid menjadi perhatian dunia pendidikan. Di satu sisi, gawai dapat membantu siswa mencari informasi dan mengakses materi pelajaran. Namun, di sisi lain, notifikasi pesan, media sosial, video pendek, dan permainan digital berpotensi mengalihkan perhatian selama kegiatan belajar mengajar.

Karena itu, pembatasan penggunaan HP di sekolah mulai diterapkan sebagai salah satu upaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif. Pertanyaannya, benarkah kebijakan tersebut bisa meningkatkan konsentrasi belajar murid?

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan pada Juli 2026. Kebijakan ini bertujuan mendukung konsentrasi belajar, meningkatkan interaksi sosial, serta melindungi murid dari risiko penggunaan teknologi digital yang tidak tepat.

Baca Juga:

Mengapa HP Bisa Mengganggu Konsentrasi Belajar?Mengapa HP Bisa Mengganggu Konsentrasi Belajar?

Ketika murid menggunakan HP untuk membuka media sosial, menonton video, atau bermain gim saat pelajaran berlangsung, perhatian mereka dapat terpecah antara materi yang disampaikan guru dan aktivitas di layar.

Gangguan tersebut tidak selalu terlihat secara langsung. Murid mungkin tetap duduk di kelas dan melihat ke arah guru, tetapi sebagian perhatiannya tertuju pada pesan masuk atau keinginan memeriksa aplikasi tertentu.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Acta Psychologica pada 2025 meninjau 34 studi mengenai penggunaan ponsel dan media sosial di luar kegiatan belajar pada anak serta remaja berusia 7–18 tahun. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa penggunaan gawai yang tidak berkaitan dengan pembelajaran umumnya berhubungan dengan pencapaian akademik yang lebih rendah. Meski demikian, hubungan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa setiap penggunaan HP menyebabkan penurunan prestasi.

Inilah alasan sekolah perlu membedakan penggunaan gawai untuk menunjang pembelajaran dengan penggunaan yang justru mengganggu proses belajar.

Benarkah Pembatasan HP Membuat Murid Lebih Fokus?

Ada indikasi bahwa pembatasan gawai dapat membantu mengurangi distraksi di kelas. Namun, besarnya dampak terhadap konsentrasi dan prestasi akademik masih perlu dipahami secara hati-hati.

Pada Januari 2026, Dinas Pendidikan DKI Jakarta menyampaikan hasil survei terhadap 70 satuan pendidikan yang telah menerapkan pembatasan gawai. Lebih dari 60 persen murid yang disurvei merasa pembatasan tersebut membuat mereka lebih fokus belajar. Temuan ini menggambarkan pengalaman murid, tetapi bukan bukti bahwa seluruh sekolah akan memperoleh hasil yang sama.

Sementara itu, tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Education Sciences pada 2024 menemukan bahwa larangan ponsel di sekolah memiliki dampak positif yang relatif kecil terhadap prestasi akademik, sementara pengaruhnya terhadap kesejahteraan sosial terlihat lebih kuat. Peneliti juga menekankan perlunya evaluasi lebih lanjut karena jumlah studi yang dianalisis masih terbatas.

Dengan demikian, pembatasan HP dapat menjadi salah satu cara mengurangi gangguan selama belajar, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan akademik. Kualitas pengajaran, suasana kelas, kebiasaan belajar, dan dukungan keluarga tetap berperan penting.

Bukan Larangan Total, Gawai Tetap Bisa Digunakan untuk Belajar

Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 18 Tahun 2026 tidak dimaksudkan sebagai pelarangan total terhadap teknologi di sekolah. Penggunaan gawai tetap dimungkinkan untuk mendukung pembelajaran di bawah arahan guru.

Kebijakan tersebut juga memperhatikan kebutuhan tertentu, termasuk keadaan darurat, kebutuhan medis, aksesibilitas bagi murid penyandang disabilitas, dan kebutuhan lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengaturan teknisnya perlu disesuaikan dengan ketentuan dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.

Artinya, sekolah perlu menetapkan aturan yang jelas mengenai kapan HP boleh digunakan, kapan harus disimpan, serta bagaimana pengecualian diterapkan.

Pendekatan ini penting agar murid tetap dapat memanfaatkan teknologi untuk mencari referensi, mengerjakan tugas digital, atau mengikuti kegiatan pembelajaran yang memang memerlukan perangkat elektronik.

Apa yang Bisa Dilakukan Sekolah dan Orang Tua?

Agar pembatasan gawai tidak sekadar menjadi aturan tertulis, sekolah dan orang tua perlu bekerja sama membentuk kebiasaan digital yang sehat.

1. Buat aturan penggunaan HP yang jelas

Sekolah dapat menetapkan waktu penyimpanan HP selama pelajaran, prosedur penggunaan untuk kegiatan belajar, serta mekanisme komunikasi jika terjadi keadaan mendesak.

2. Sediakan alternatif pembelajaran

Ketika HP disimpan, guru tetap perlu menyediakan buku, lembar kerja, bahan bacaan, atau sarana lain agar murid dapat mengikuti pembelajaran tanpa bergantung pada gawai pribadi.

3. Ajarkan literasi digital

Murid perlu memahami bahwa teknologi bukan hanya untuk hiburan. Mereka juga perlu belajar mengelola waktu layar, menjaga privasi, mengenali informasi palsu, dan menggunakan internet secara bertanggung jawab.

4. Terapkan kebiasaan serupa di rumah

Orang tua dapat membantu dengan membatasi penggunaan HP saat anak belajar, makan bersama, dan menjelang tidur. Kesepakatan yang konsisten antara rumah dan sekolah dapat membantu anak memahami bahwa penggunaan gawai memiliki waktu dan tujuan yang tepat.

5. Evaluasi dampak kebijakan

Sekolah perlu melihat apakah pembatasan benar-benar membantu murid lebih terlibat dalam pelajaran, meningkatkan interaksi sosial, dan mengurangi gangguan di kelas. Masukan dari guru, murid, serta orang tua dapat menjadi bahan evaluasi.

Konsentrasi Belajar Tidak Hanya Bergantung pada HP

Pembatasan penggunaan HP di sekolah dapat menjadi langkah untuk menciptakan suasana belajar yang lebih fokus. Namun, keberhasilannya bergantung pada penerapan aturan, dukungan guru dan orang tua, serta kemampuan murid membangun kebiasaan digital yang sehat.

Teknologi tidak harus dijauhkan sepenuhnya dari dunia pendidikan. Yang lebih penting adalah memastikan penggunaannya sesuai kebutuhan, tidak mengganggu perhatian, dan benar-benar mendukung proses belajar.

Dengan aturan yang proporsional dan evaluasi berkala, sekolah dapat membantu murid memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus menjaga kualitas interaksi dan konsentrasi selama pembelajaran.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Makanan Sekolah Harus Bergizi, tetapi Bagaimana Memastikan Aman Dikonsumsi Anak?
Bulog Sumut Gelar Gerakan Pangan Murah Serentak di 30 Titik Dalam Rangka Hari Pangan Sedunia
Airlangga Bantah Ada Program HP Gratis untuk Bansos, Rp 3,8 Triliun Disiapkan untuk Rekening Massal
Darurat Pendidikan? 230 Ribu Anak di Sumut Tercatat Tidak Sekolah
Medan Terapkan PJJ hingga 21 Oktober, Apa yang Perlu Disiapkan Orang Tua?
SMP Classrooms of Hope Dibangun di Medan Belawam, Bakal Tampung 300 Siswa