Topikseru.com,
Medan - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Divisi Regional I Sumatera Utara mulai mengurangi penggunaan kayu pada prasarana jembatan kereta api. Dalam periode 2022 hingga 2026, sebanyak 3.131 bantalan jembatan berbahan kayu dialihkan menggunakan material sintetis.
Langkah tersebut bukan sekadar berkaitan dengan pemeliharaan jalur kereta api. KAI menyebut penggunaan bantalan sintetis menjadi bagian dari strategi menjaga keandalan infrastruktur sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap material kayu.
Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara (Sumut) Anwar Yuli Prastyo mengatakan transformasi material tersebut dilakukan secara bertahap sejak 2022.
"Seiring dengan semakin terbatasnya pasokan kayu, penggunaan bantalan sintetis ini menjadi solusi inovatif untuk menggantikan bantalan kayu sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan," ujar Anwar.
Ribuan Bantalan Kayu Mulai Ditinggalkan
Penggantian bantalan dilakukan terutama pada jembatan kereta api berangka baja yang sebelumnya masih menggunakan bantalan kayu.
Data KAI Divre I Sumatera Utara menunjukkan jumlah bantalan sintetis yang dipasang terus meningkat setiap tahun.
| Tahun |
Bantalan Sintetis |
| 2022 |
200 batang |
| 2023 |
240 batang |
| 2024 |
850 batang |
| 2025 |
913 batang |
| 2026 |
928 batang* |
| Total |
3.131 batang |
*Target pemasangan 2026 dijadwalkan selesai sebelum akhir tahun.
Lonjakan pemasangan paling terlihat sejak 2024. Pada tahun tersebut, KAI memasang 850 bantalan sintetis, kemudian meningkat menjadi 913 batang pada 2025.
Sementara untuk 2026, perusahaan menargetkan tambahan 928 batang.
Bukan Sekadar Ramah Lingkungan
Penggunaan bantalan sintetis jembatan kereta api dinilai memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan kayu.
Menurut KAI, material tersebut mempunyai kemampuan meredam getaran yang setara dengan kayu, tetapi memiliki masa penggunaan lebih panjang, bahkan dapat mencapai lebih dari 50 tahun.
Material sintetis juga lebih tahan terhadap berbagai kondisi yang dapat mempercepat kerusakan komponen.
Bantalan ini disebut tahan terhadap kelembapan, cuaca ekstrem, hingga paparan bahan kimia seperti oli dan solar. Dengan karakter tersebut, risiko bantalan lapuk atau mengalami kerusakan akibat lingkungan dapat ditekan.
Keunggulan lainnya berkaitan dengan kenyamanan. Elastisitas material sintetis dapat membantu meredam kebisingan ketika rangkaian kereta melintasi jembatan.
Artinya, penggantian material tidak hanya diarahkan untuk aspek lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan keandalan prasarana perkeretaapian.
KAI Klaim Bisa Kurangi Konsumsi Kayu

Dari sisi lingkungan, penggunaan bantalan sintetis memberikan dampak langsung terhadap pengurangan kebutuhan kayu untuk infrastruktur kereta api.
"Semakin banyak bantalan sintetis yang kita gunakan, semakin banyak pohon yang dapat diselamatkan dari penebangan. Dengannya, ribuan pohon berhasil kita selamatkan," kata Anwar.
KAI menempatkan kebijakan tersebut sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan.
Penggunaan material dengan umur pakai panjang juga berpotensi mengurangi frekuensi penggantian komponen prasarana sehingga kebutuhan material baru dapat ditekan dalam jangka panjang.
28 Jembatan Jadi Fokus Penggantian pada 2026
Pada 2026, program penggantian bantalan kayu kereta api difokuskan pada 28 lokasi jembatan.
Lokasi tersebut tersebar di sejumlah jalur yang menjadi bagian dari jaringan KAI Divre I Sumatera Utara, antara lain:
- Medan–Tanjung Balai
- Kisaran–Rantau Prapat
- Medan–Binjai
- Tebing Tinggi–Kisaran
Program ini menjadi bagian dari pemeliharaan prasarana untuk menjaga kondisi infrastruktur tetap mendukung perjalanan kereta api.
Infrastruktur Kereta Api Mulai Bergeser ke Material Berkelanjutan
Bagi KAI Divre I Sumatera Utara (Sumut), penggantian bantalan kayu dengan material sintetis tidak berhenti pada persoalan teknis.
Perusahaan mengarahkan pemeliharaan prasarana agar berjalan beriringan dengan agenda keberlanjutan lingkungan.
Dengan penggunaan material yang lebih tahan lama dan mengurangi ketergantungan terhadap kayu, KAI berharap kualitas prasarana tetap terjaga sekaligus memberikan kontribusi terhadap pengurangan tekanan terhadap ekosistem hutan.
Anwar menegaskan pemeliharaan menggunakan material ramah lingkungan merupakan bagian dari komitmen KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
"Di samping menjamin keandalan dan keselamatan perjalanan kereta api, pemeliharaan prasarana berbasis material ramah lingkungan ini sekaligus menjadi komitmen KAI Divre I Sumatera Utara dalam menekan emisi karbon dan menjaga kelestarian ekosistem hutan secara berkelanjutan," pungkasnya.
Berita Terkait