Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (11/9/2026) pukul 09.02 WIB Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka langsung ambruk melanjutkan pelemahan sehari sebelumnya.
Berdasarkan data yang dilansir dari Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business, IHSG merosot 1,03% ke level 6.521,49 di pasar spot.
Seluruh indeks sektoral kompak melemah dipimpin sector IDX Transportasi, disusul IDX Barang Baku, IDX Barang Konsumer Non-Primer, IDF Infrastruktur, IDX Perindustrian, IDX Barang Konsumer Primer, IDX Properti dan Real Estate, dan IDX Kesehatan.
Dengan total volume perdagangan saham di BEI pada pagi ini mencapai 2,53 miliar dengan nilai transaksi Rp 1,13 triliun.
Ada sebanyak 420 saham yang turun jadi pemberat indeks, 103 saham yang menguat dan 149 saham yang stagnan.
Top losers di LQ45 adalah:
1. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) 3,02% ke Rp 2.250 per saham
2. PT ESSA Industries (ESSA) 2,94% ke Rp 660 per saham
3. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)1,89% ke Rp 520 per saham
Top gainers di LQ45 adalah:
1. PT Medco Energi Indonesia Tbk (MEDC) 3,82% ke Rp 1.630 per saham
2. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) 1,44% ke Rp 26.475 per saham
3. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) 0,68% ke Rp 7.375 per saham
IHSG Diperkirakan Masih Bergerak Volatil
Pada perdagangan Jumat (11/9/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak volatil.
Tekanan sentimen global berpotensi kembali membebani pasar saham, terutama jika kenaikan harga minyak dan yield US Treasury terus berlanjut.
Pada perdagangan Kamis (10/9), IHSG terkoreksi 1,33% ke level 6.589,34. Pelemahan ini sejalan dengan mayoritas bursa saham global dan regional Asia yang berada di zona merah.
Menanggapi hal tersebut, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai IHSG masih memiliki bias melemah. Pergerakan indeks akan sangat dipengaruhi sentimen global, terutama perkembangan harga minyak dan pasar obligasi Amerika Serikat (AS).
Konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia mendekati US$ 100 per barel meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Kondisi tersebut berpotensi mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter. "Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi sekaligus mempersempit ruang pelonggaran moneter," ujar Reza.
Tekanan juga datang dari kenaikan yield US Treasury 10 tahun yang mencapai sekitar 4,84%.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat aset berbasis dolar AS relatif lebih menarik dan dapat mengurangi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham.
Dari sisi teknikal, Reza melihat IHSG telah kembali berada di bawah level 6.600. Jika indeks belum mampu kembali menembus sekaligus bertahan di atas level tersebut, risiko koreksi lanjutan masih terbuka.
Dalam skenario tersebut, IHSG berpotensi turun menuju area 6.475-6.375. Sementara itu, level 6.600 menjadi resistance terdekat, disusul 6.700.
Sementara, Analis Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana juga melihat tekanan IHSG pada perdagangan sebelumnya berasal dari pelemahan sejumlah sektor, terutama energi dan keuangan.
Sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar turut mengalami koreksi cukup dalam. Meski demikian, Herditya masih melihat peluang IHSG menguat pada perdagangan Jumat.
Ia menempatkan level 6.576 sebagai support dan 6.616 sebagai resistance. Pergerakan IHSG selanjutnya akan ditentukan oleh kemampuan pasar menyerap tekanan dari sentimen eksternal.
Investor juga akan mencermati rilis data inflasi AS atau US Consumer Price Index (CPI) Agustus 2026 pada Jumat waktu setempat.
Selain data inflasi AS, pergerakan rupiah serta harga komoditas, khususnya minyak mentah dan batubara, menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor.
Untuk perdagangan Jumat, Herditya merekomendasikan investor mencermati saham CDIA dengan kisaran harga Rp 730-Rp 760 per saham.
UNTR pada Rp 27.400-Rp 27.925 per saham, serta DEWA pada Rp 496-Rp 530 per saham.
Berita Terkait