Sabtu, 07 November 2026

IHSG Dibuka Melemah 23,43 Poin, Hanya 4 Indeks Sektoral yang Selamat ke Zona Hijau

Mhd Rabbani - Senin, 21 September 2026 13:05 WIB
IHSG Dibuka Melemah 23,43 Poin, Hanya 4 Indeks Sektoral yang Selamat ke Zona Hijau
IHSG
Topikseru.com, Jakarta - Pada awal perdagangan pekan ini, Senin (21/9/2026). Pukul 09.00 WIB Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah 23,43 poin atau 0,32% ke 6,423,08. Diketahui, ada sebanyak 223 saham naik, 182 saham turun dan 270 saham stagnan. Hanya empat indeks sektoral yang selamat ke zona hijau. Sedangkan enam indeks sektoral lainnya masuk zona merah. Indeks sektoral dengan kenaikan terbesar adalah sektor perindustrian yang naik 0,48%, sektor teknologi naik 0,35% dan sektor properti yang naik 0,09%. Sedangkan indeks sektoral dengan pelemahan terdalam adalah sektor energi yang turun 0,90%, sektor infrastruktur turun 0,70% dan sektor transportasi yang turun 0,12%. Total volume perdagangan saham di bursa pagi ini mencapai 1,36 miliar saham, dengan total nilai Rp 533,41 miliar. Top gainers LQ45 pagi ini adalah: 1. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) (1,37%) 2. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) (1,07%) 3. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) (1%) Top losers LQ45 pagi ini adalah: 1. PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) (-2,80%) 2. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) (-1,83%) 3. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) (-1,56%)

Analis Pasar: IHSG di Awal Pekan Ini Diperkirakan Masih Menghadapi Tekanan Jual

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini diperkirakan masih menghadapi tekanan jual. Pelaku pasar mencermati arus dana asing, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, hingga kondisi geopolitik yang berpotensi membuat IHSG bergerak volatil pada perdagangan Senin (21/9/2026). Pada perdagangan Jumat (18/9), IHSG ditutup turun 0,33% ke level 6.441,16. Pelemahan tersebut terjadi di tengah mayoritas bursa Asia yang justru mencatat penguatan. Praktisi pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap IHSG tidak sepenuhnya berasal dari sentimen eksternal. Arus dana asing yang sepanjang pekan mencatat net sell sekitar Rp2,9 triliun turut menjadi faktor yang membebani pergerakan indeks. “IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil," "Penutupan Jumat di level 6.441 setelah kembali melemah 0,33%, di saat mayoritas bursa Asia justru menguat, menunjukkan bahwa persoalan IHSG saat ini bukan semata-mata berasal dari sentimen eksternal,” ujar Hendra. Menurut Hendra, peluang IHSG untuk mengalami technical rebound masih terbuka. Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk menjadi indikasi perubahan menuju tren bullish yang solid. Senada, pengamat pasar modal sekaligus founder WH-Project William Hartanto memperkirakan IHSG pada perdagangan Senin masih akan bergerak sideways. Ia memproyeksikan indeks berada dalam rentang 6.400 hingga 6.512. Level support dan resistance IHSG Dari perspektif teknikal, Hendra melihat level 6.400 sebagai support awal IHSG. Sementara itu, area 6.350 dinilai sebagai support penting yang perlu dipertahankan. Di sisi atas, level 6.500 menjadi area yang perlu ditembus IHSG untuk membuka peluang penguatan menuju kisaran 6.550-6.600. “Selama mampu bertahan di atas 6.350, peluang technical rebound masih terbuka, sedangkan penembusan 6.600 akan menjadi sinyal yang lebih positif bagi perubahan momentum,” ujarnya. Hendra menambahkan, sentimen global masih menjadi salah satu faktor yang akan menentukan arah pergerakan IHSG. Kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin membuat pelaku pasar terus mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya perkembangan inflasi. Di sisi lain, penurunan harga minyak memberikan ruang bagi pasar untuk bernapas. Harga Brent berada di sekitar US$102,68 per barel, sedangkan WTI sekitar US$100,08 per barel. Penurunan harga minyak berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Kendati demikian, risiko yang berasal dari konflik dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pelaku pasar. Dari dalam negeri, pergerakan rupiah di sekitar Rp17.758 per dolar AS juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor. Selain nilai tukar, arus dana asing, perkembangan kebijakan suku bunga, serta isu terkait MSCI berpotensi memengaruhi sentimen pasar saham domestik. William turut mencermati sejumlah saham dari sektor pertambangan dan kelompok emiten konglomerasi, khususnya yang berkaitan dengan sosok Haji Isam. Beberapa saham yang disebut antara lain PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU). Sementara itu, Hendra mencermati beberapa saham lain, yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL). Hendra menyebut target harga untuk INCO berada di level 5.200, MAPI sebesar 1.650, MBMA sebesar 580, dan MTEL sebesar 550. Dengan berbagai faktor tersebut, IHSG diperkirakan masih berada dalam fase konsolidasi pada awal pekan. Pergerakan indeks selanjutnya akan dipengaruhi kemampuan IHSG menjaga level support, perkembangan arus dana asing, serta dinamika sentimen global.

Sumber
:
Berita Terkait
IHSG Langsung Ngebut Naik 22,7 Poin ke Level 6.407,428 Pagi Ini
IHSG Terkoreksi ke 6.349, Pasar Awas RDG BI & Aturan Baru Saham Rp 1
Analis Pasar: IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Support di 6.370 dan Resistance 6.406
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
IHSG Melemah 17,64 Poin Masih Bersandar di Level 6.423,51 Siang Ini
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah akan Bergerak dalam Rentang Rp17.600-Rp17.900 per Dolar AS