Topikseru.com - Harga emas dunia kembali mendapat tekanan. Pada perdagangan Rabu (7/10/2026), logam mulia tersebut jatuh ke level terendah dalam dua bulan ketika penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat investor kembali memperhitungkan risiko suku bunga tinggi.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,2 persen menjadi US$4.113,89 per ons troi. Posisi tersebut merupakan level terendah sejak 5 Agustus 2026.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 1,1 persen menjadi US$4.140,70 per ons troi.
Baca Juga:
Tekanan terhadap harga emas muncul ketika pasar kembali fokus pada arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.
Indeks dolar AS menguat sekitar 0,4 persen pada perdagangan tersebut. Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan menggunakan dolar menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang lain.
Selain itu, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti bunga atau kupon.
Ketika imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, sebagian investor dapat mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan pendapatan lebih tinggi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kenaikan yield Treasury AS sering memberikan tekanan terhadap harga emas.
Pergerakan yield obligasi pemerintah AS menjadi perhatian pasar karena berkaitan erat dengan ekspektasi suku bunga dan biaya pendanaan global.
Reuters melaporkan yield Treasury AS jangka panjang kembali mendekati level tertinggi dalam sekitar 24 tahun pada periode tersebut.
"Pasar melihat suku bunga akan bertahan lebih tinggi untuk waktu lebih lama," kata Peter Grant, Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals.
Ekspektasi tersebut menjadi tantangan bagi emas karena investor harus membandingkan potensi keuntungan dari memegang logam mulia dengan aset yang menghasilkan imbal hasil.
Pasar memperkirakan The Fed cenderung mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober 2026. Namun, ekspektasi untuk kembali menaikkan suku bunga pada akhir tahun masih menjadi perhatian investor.
Pada perdagangan 7 Oktober, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember berada di kisaran 85 persen berdasarkan CME FedWatch, menurut laporan Reuters.
Namun, ekspektasi pasar tersebut dapat berubah mengikuti data ekonomi dan pernyataan pejabat bank sentral.
Risiko inflasi masih menjadi salah satu faktor yang membuat The Fed berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid sebelumnya menyatakan penurunan inflasi dapat membutuhkan kebijakan suku bunga yang lebih ketat.
Sementara Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly mengatakan arah kebijakan moneter akan bergantung pada perkembangan tekanan inflasi.
Pernyataan tersebut membuat investor tetap memasukkan kemungkinan suku bunga tinggi dalam perhitungan mereka.
Notulen rapat The Fed terbaru juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat mengenai arah kebijakan berikutnya. Sebagian pejabat membuka ruang kenaikan lebih lanjut, sementara yang lain mendorong pendekatan lebih hati-hati.
Salah satu faktor yang masih mendukung harga emas adalah permintaan dari bank sentral.
Bank sentral China tercatat kembali membeli emas pada September. Dengan pembelian tersebut, China memperpanjang tren akumulasi emas menjadi 23 bulan berturut-turut.
Permintaan bank sentral menjadi faktor struktural penting dalam pasar emas karena pembelian tersebut tidak semata-mata dipengaruhi oleh pergerakan harga jangka pendek.
Sejumlah bank sentral juga masih memandang emas sebagai bagian dari cadangan devisa dan instrumen diversifikasi di tengah ketidakpastian ekonomi serta meningkatnya risiko fiskal global.
Peter Grant memperkirakan emas berpotensi menguji level US$4.000 per ons troi sebelum kembali mengalami pemulihan.
Jika tekanan suku bunga mulai mereda, emas berpotensi kembali menguat. Grant memperkirakan harga emas dapat bergerak menuju sekitar US$4.400 per ons troi hingga akhir tahun.
Namun, level tersebut merupakan proyeksi analis, bukan kepastian harga.
Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada arah dolar AS, imbal hasil Treasury, kebijakan The Fed, inflasi, serta permintaan investor dan bank sentral.
Pada perdagangan yang sama, harga perak spot turun 3 persen menjadi US$59,86 per ons troi.
Harga platinum juga merosot 3,9 persen menjadi US$1.635,04 per ons troi, sedangkan palladium turun 4 persen menjadi US$1.125,70 per ons troi.
Dengan demikian, pelemahan terjadi di sejumlah komoditas logam mulia secara bersamaan. Data penutupan harian juga menunjukkan emas, perak, platinum, dan palladium sama-sama mengalami penurunan pada 7 Oktober.
Di satu sisi, dolar AS yang menguat dan yield Treasury yang tinggi membuat emas kurang menarik bagi investor yang mengejar imbal hasil.
Di sisi lain, pembelian bank sentral, kekhawatiran terhadap utang pemerintah, dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi alasan bagi sebagian investor untuk mempertahankan emas sebagai aset lindung nilai.
Reuters mencatat harga emas bahkan kembali menguat pada Kamis (8/10) setelah penurunan tajam sehari sebelumnya.
Artinya, penurunan ke sekitar US$4.100 per ons troi belum otomatis menandai perubahan permanen tren emas.
Pasar kini akan mencermati dua hal utama: seberapa lama suku bunga AS bertahan tinggi dan apakah permintaan struktural dari bank sentral mampu menahan tekanan tersebut.
Bagi investor, kedua faktor itu akan menjadi kunci dalam menentukan arah harga emas dunia pada sisa 2026.