Selasa, 20 Oktober 2026

PELNI Sulap Life Jacket Bekas Jadi Sepatu dan Tas, Raih Penghargaan ESG 2026

Muchlis - Senin, 19 Oktober 2026 18:36 WIB
PELNI Sulap Life Jacket Bekas Jadi Sepatu dan Tas, Raih Penghargaan ESG 2026
Foto: Humas PT PELNI
PELNI meraih penghargaan ESG 2026 berkat inovasi daur ulang life jacket bekas menjadi sepatu dan tas yang bernilai ekonomi.

Topikseru.com - PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau PELNI mengubah limbah life jacket atau jaket keselamatan kapal menjadi produk bernilai ekonomi. Inovasi daur ulang tersebut mengantarkan perusahaan pelayaran milik negara ini meraih penghargaan kategori Upcycling Materials Innovation dalam ajang ESG NOW Leadership Forum & Awards 2026.

Penghargaan yang diselenggarakan Republika itu berlangsung di Jakarta pada Senin (19/10/2026). Direktur Utama PELNI, Budi Setyawan Wijaya, menerima langsung penghargaan tersebut dari Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard bersama Direktur Republika Rangga Danu Prasetyo.

Pengakuan tersebut diberikan atas program Upcycle Life Jacket, sebuah inisiatif yang memanfaatkan kembali material jaket keselamatan kapal yang telah mencapai akhir masa pakainya. Alih-alih berakhir sebagai limbah, material tersebut diolah menjadi produk baru yang memiliki fungsi dan nilai tambah.

Baca Juga:

Program ini memperlihatkan bagaimana pengelolaan limbah dapat dikembangkan menjadi bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan. Selain mengurangi material yang terbuang, PELNI juga berupaya mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Life Jacket Bekas Diolah Menjadi Sepatu dan Tote Bag

Melalui program Upcycle Life Jacket, PELNI mengembangkan sejumlah produk dari material jaket keselamatan bekas, termasuk sepatu dan tas belanja atau tote bag.

Dalam data program tersebut, sepatu yang dihasilkan memiliki kandungan hingga 70 persen komponen berbahan material daur ulang. Sementara itu, pemanfaatan kembali 100 unit life jacket menghasilkan 50 produk baru berupa tote bag.

Secara keseluruhan, produk yang dihasilkan dari program ini mengandung sekitar 71 persen material hasil pemanfaatan limbah life jacket.

Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa material yang sebelumnya tidak lagi digunakan untuk fungsi awalnya masih dapat diolah menjadi barang dengan kegunaan berbeda.

Meski demikian, penerapan daur ulang material keselamatan kapal tetap perlu memperhatikan prosedur pemilahan, pengolahan, dan standar keamanan sesuai fungsi produk akhir.

Bagi perusahaan, pendekatan ini juga membuka ruang pengembangan inovasi produk berbasis limbah sekaligus memperluas penerapan prinsip keberlanjutan dalam aktivitas operasional.

Daur Ulang Sepatu Hemat 755 Liter Air dan Cegah Emisi Karbon

Selain menghasilkan produk baru, program PELNI mencatat dampak lingkungan yang terukur berdasarkan data yang disampaikan perusahaan.

Untuk setiap pasang sepatu daur ulang, PELNI memanfaatkan sekitar 227 gram material bekas. Penggunaan material tersebut diklaim berkontribusi terhadap pencegahan emisi hingga 5,244 kilogram setara karbon dioksida atau CO2-eq.

Program tersebut juga diklaim menghemat penggunaan air sebesar 755,56 liter untuk setiap pasang sepatu dibandingkan dengan proses produksi konvensional.

Angka tersebut menunjukkan potensi manfaat lingkungan dari penggunaan kembali material yang masih dapat diolah. Namun, besarnya penghematan dalam praktik dapat bergantung pada metode produksi, jenis bahan yang digunakan, serta batas perhitungan dampak lingkungan yang diterapkan.

Data tersebut menjadi salah satu indikator untuk menilai manfaat program, terutama dalam upaya menekan penggunaan sumber daya baru dan mengurangi dampak produksi terhadap lingkungan.

PELNI Perkuat Strategi ESG Lewat Ekonomi Sirkular

Direktur Utama PELNI Budi Setyawan Wijaya mengatakan penghargaan tersebut menjadi dorongan bagi perusahaan untuk terus mengembangkan inovasi yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah.

Menurut Budi, program Upcycle Life Jacket merupakan salah satu upaya mengubah material yang sebelumnya menjadi limbah menjadi produk yang kembali memiliki fungsi dan nilai ekonomi.

Ia menegaskan bahwa keberlanjutan perlu diwujudkan melalui langkah nyata yang dapat diterapkan secara berkelanjutan, bukan sekadar menjadi bagian dari komitmen perusahaan.

PELNI juga menyatakan akan terus membuka peluang pengembangan inovasi pemanfaatan kembali material serta mendorong kolaborasi yang lebih luas untuk mendukung ekonomi sirkular di Indonesia.

Dalam konteks bisnis, penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin berkaitan dengan cara perusahaan mengelola risiko lingkungan, menggunakan sumber daya, dan menjalankan tanggung jawab operasional.

Bagi perusahaan pelayaran, pengelolaan material yang sudah tidak digunakan menjadi salah satu aspek yang dapat dikembangkan dalam agenda efisiensi sumber daya dan pengurangan limbah.

Apa Arti Inovasi Upcycling bagi Bisnis PELNI?

Upcycling merupakan proses mengolah barang atau material bekas menjadi produk baru yang memiliki kegunaan atau nilai tambah.

Pendekatan ini berbeda dari sekadar membuang material yang tidak lagi digunakan, karena material tersebut dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari produk lain.

Bagi PELNI, program pengolahan life jacket bekas menjadi sepatu dan tas memperlihatkan salah satu penerapan prinsip tersebut dalam lingkungan perusahaan pelayaran.

Dari sisi lingkungan, pemanfaatan material bekas berpotensi mengurangi kebutuhan bahan baku baru dan menekan jumlah limbah. Dari sisi bisnis, inovasi ini dapat menjadi sarana pengembangan produk sekaligus memperkuat penerapan prinsip ESG.

Namun, keberhasilan jangka panjang program ekonomi sirkular juga perlu dilihat dari konsistensi pelaksanaan, skala material yang berhasil dimanfaatkan, biaya pengolahan, serta keberlanjutan permintaan terhadap produk yang dihasilkan.

Dengan penghargaan ESG NOW Leadership Forum & Awards 2026, PELNI memperoleh pengakuan atas inovasi pemanfaatan material bekas tersebut.

Ke depan, dampak program akan semakin relevan untuk dievaluasi melalui indikator terukur, seperti jumlah limbah yang dialihkan dari pembuangan, efisiensi sumber daya, dan nilai ekonomi produk hasil daur ulang.

Inisiatif ini sekaligus menempatkan pengelolaan limbah sebagai salah satu ruang inovasi bagi perusahaan untuk mengembangkan praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Editor
: Agus Supratman
Berita Terkait
Tanam 1.000 Mangrove hingga Perkuat Literasi Keuangan, Zurich Hadirkan Aksi “Sayang Bumiku”
Danantara Gabungkan 23 Kawasan Industri, Target Jadi Terbesar di Asia Tenggara
PELNI dan BPH Migas Evaluasi BBM Subsidi, Pastikan Operasional Kapal Tetap Terjaga
Anggrek Mikro Jadi Alarm Ekologis Batang Toru, Ada Ancaman di Balik Ukurannya yang Kecil
PELNI Bangun Ekosistem Bisnis Kelautan dan Wisata Berbasis Masyarakat Adat di Kapota
PELNI Perkuat Budaya Safety di 84 Kapal lewat Fleet Safety Excellence Award 2026