Senin, 02 November 2026

Rupiah Melemah ke Rp 18.156, Dolar AS Tertekan Sentimen The Fed?

Muchlis - Senin, 02 November 2026 18:22 WIB
Rupiah Melemah ke Rp 18.156, Dolar AS Tertekan Sentimen The Fed?
Rupiah ditutup melemah ke Rp 18.156 per dolar AS pada perdagangan Senin (2/11/2026), di tengah tekanan sentimen global dan ketidakpastian kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Topikseru.com - Nilai tukar rupiah belum mampu memanfaatkan sejumlah indikator positif dari dalam negeri. Mata uang Garuda justru ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 2 November 2026, di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan ekspektasi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Rupiah ditutup pada level Rp 18.156 per dolar AS, turun 9 poin atau sekitar 0,05 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 18.147 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi meskipun sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan perkembangan positif. Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$3,36 miliar pada September 2026, sementara aktivitas manufaktur meningkat dan inflasi bulanan masih relatif terkendali.

Baca Juga:

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian hubungan Amerika Serikat dan Iran. Peluang diplomasi memang memberikan sedikit ruang optimisme bagi pasar, tetapi risiko eskalasi militer belum sepenuhnya hilang.

"Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui sambungan telepon pada hari Sabtu (31/10) bahwa ia lebih memilih untuk memberikan lebih banyak waktu bagi diplomasi sebelum memutuskan apakah akan melanjutkan tindakan militer," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Diplomasi AS-Iran Belum Menghilangkan Risiko Geopolitik

Menurut Ibrahim, laporan Axios menyebut pendekatan diplomasi yang dipilih Trump memunculkan kekhawatiran di pihak Israel. Netanyahu disebut mendesak agar serangan Amerika Serikat kembali dilanjutkan setelah pemilihan paruh waktu atau midterm elections.

Situasi tersebut membuat pelaku pasar masih berhati-hati dalam membaca arah konflik. Di satu sisi, peluang pembicaraan lanjutan dapat meredakan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Namun, ancaman tindakan militer apabila negosiasi gagal tetap menjadi risiko yang diperhitungkan investor.

Upaya diplomasi juga berlangsung melalui komunikasi pejabat Iran dan Qatar. Kedua negara dilaporkan menggelar pembicaraan selama tiga hari berturut-turut untuk mencari jalan keluar dari konflik.

Teheran menyatakan masih membuka peluang diplomasi, meskipun tetap mempersiapkan langkah pertahanan. Sementara itu, Qatar berupaya menjadi mediator dalam pembahasan usulan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Jalur pelayaran tersebut menjadi perhatian utama pasar energi dunia. Gangguan terhadap aktivitas kapal tanker dan pembatasan ekspor minyak Iran berpotensi meningkatkan biaya pengiriman serta premi asuransi.

Bagi pasar keuangan, perkembangan di kawasan tersebut dapat memengaruhi harga energi, inflasi global, hingga keputusan investor dalam memilih aset berdenominasi dolar AS.

Sikap Pejabat The Fed Ikut Menekan Mata Uang Negara Berkembang

Selain faktor geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi perhatian investor.

Ibrahim menyoroti pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) yang masih menunjukkan kecenderungan hawkish atau mendukung kebijakan moneter ketat.

Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, disebut mengemukakan kemungkinan dua kali kenaikan suku bunga tambahan.

Sementara itu, Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menginginkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat karena menilai kebijakan saat ini masih terlalu longgar.

Pernyataan tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi pasar terhadap suku bunga AS yang lebih tinggi. Jika imbal hasil aset keuangan Amerika semakin menarik, arus modal global dapat kembali mengarah ke dolar AS.

Kondisi itu menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Permintaan terhadap dolar yang meningkat dapat menambah tekanan terhadap nilai tukar, terutama ketika investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Pasar juga akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat sepanjang pekan ini. Data yang menjadi perhatian meliputi PMI Manufaktur dan Jasa ISM Oktober, laporan lowongan kerja JOLTS, perubahan tenaga kerja versi ADP, klaim awal tunjangan pengangguran, serta data Nonfarm Payrolls.

Rangkaian data tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi ekonomi dan pasar tenaga kerja AS, sekaligus memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed.

Surplus Perdagangan US$3,36 Miliar Belum Cukup Mengangkat Rupiah

Dari dalam negeri, Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah modal positif untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mengalami surplus sebesar US$3,36 miliar. Nilai ekspor mencapai US$27,59 miliar, sedangkan impor tercatat US$24,23 miliar.

Surplus tersebut menjadi salah satu penopang fundamental ekonomi nasional. Namun, menurut Ibrahim, kondisi neraca perdagangan yang positif tidak otomatis membuat rupiah menguat.

Pergerakan nilai tukar tetap dipengaruhi tekanan eksternal, arus modal asing, serta perkembangan permintaan dan penawaran valuta asing di pasar domestik.

"Surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar menjadi sentimen positif bagi fundamental ekonomi Indonesia dan berpotensi mendukung rupiah. Namun, pasar tetap perlu mencermati kualitas pertumbuhan ekspor, perkembangan impor, serta arus modal asing," kata Ibrahim.

Dengan demikian, kekuatan fundamental domestik masih harus berhadapan dengan faktor eksternal yang bergerak dinamis.

Ketika dolar AS menguat akibat ekspektasi suku bunga dan ketidakpastian geopolitik, surplus perdagangan belum tentu cukup untuk membalikkan arah rupiah dalam jangka pendek.

Inflasi Terkendali dan Manufaktur Ekspansif Jadi Penopang Ekonomi

Indikator domestik lainnya datang dari perkembangan harga barang dan jasa. Inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,22 persen secara bulanan.

Sementara itu, inflasi tahunan mencapai 3,23 persen. Angka tersebut menunjukkan tekanan harga masih perlu dipantau, terutama terkait perkembangan harga pangan, stabilitas nilai tukar, dan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.

Di sektor industri, PMI Manufaktur S&P Global Indonesia meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dibandingkan 52,4 pada September.

Indeks di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi. Capaian Oktober tersebut juga menjadi yang tertinggi sejak Maret 2024.

Kenaikan PMI mengindikasikan aktivitas dunia usaha masih bergerak positif. Namun, keberlanjutan ekspansi industri tetap bergantung pada daya beli masyarakat, permintaan ekspor, stabilitas rupiah, serta kemampuan perusahaan mengendalikan biaya produksi.

Ibrahim menilai peningkatan aktivitas manufaktur menjadi sentimen positif bagi pasar karena mencerminkan penguatan kegiatan usaha dan potensi pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, investor masih perlu memperhatikan keseimbangan antara perkembangan ekonomi domestik dan tekanan dari pasar global.

JISDOR BI Ikut Melemah ke Rp18.161 per Dolar AS

Pelemahan rupiah juga tercermin dalam kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.

Pada perdagangan Senin, JISDOR tercatat berada di level Rp 18.161 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp 18.138 per dolar AS.

Perbedaan angka antara kurs penutupan pasar dan JISDOR mencerminkan dua indikator yang memiliki mekanisme penetapan berbeda. Keduanya sama-sama menunjukkan tekanan terhadap rupiah pada perdagangan hari tersebut.

Ke depan, pelaku pasar akan memantau perkembangan diplomasi Iran dan Amerika Serikat, pernyataan pejabat The Fed, serta rangkaian data ekonomi AS.

Dari dalam negeri, surplus perdagangan, inflasi, dan kinerja manufaktur menjadi sejumlah indikator penting untuk mengukur daya tahan ekonomi Indonesia.

Pergerakan rupiah pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan fundamental domestik menghadapi tekanan eksternal, terutama arah dolar AS dan perubahan sentimen investor global.

Editor
: Agus Supratman
Berita Terkait
Harga Emas Dunia Mulai Loyo Usai The Fed Tahan Bunga, Investor Waspadai Inflasi AS
Bitcoin Tertekan Jelang Rapat The Fed, Harga BTC Bertahan di US$80.000
Harga Minyak Melonjak Lagi, Rupiah jadi Rp18.038 per Dolar AS
IHSG Anjlok 2,20 Persen ke 5.812, Rupiah Tertekan, Investor Asing Jual Saham Rp 182,94 Miliar
IHSG Dibuka Melemah ke 5.914, Konflik Timur Tengah dan Inflasi Global Jadi Beban
Harga Emas Dunia Tertekan, Tembus Level Terendah 2 Bulan karena Dolar dan The Fed