Topikseru.com - Harga emas dunia mulai kehilangan tenaga setelah sempat menguat selama tiga hari berturut-turut. Keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, mempertahankan suku bunga belum cukup memberikan dorongan bagi logam mulia, terutama karena pasar masih mengantisipasi kemungkinan kebijakan moneter ketat berlanjut hingga akhir tahun.
Mengacu pada data Refinitiv, harga emas ditutup di level US$ 4.067,04 per troy ons pada Rabu (28/10/2026), naik tipis 0,23 persen. Namun, penguatan itu mulai terkoreksi pada perdagangan Kamis (29/10/2026).
Pada pukul 06.51 WIB, harga emas tercatat turun 0,35 persen menjadi US$ 4.052,99 per troy ons. Pergerakan tersebut menunjukkan investor masih berhati-hati dalam merespons keputusan terbaru bank sentral AS.
Baca Juga:
The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75 - 4,00 persen. Bank sentral menyatakan aktivitas ekonomi AS masih berkembang dengan kuat, tetapi inflasi belum kembali ke tingkat yang diharapkan. Kondisi ini membuat arah kebijakan selanjutnya masih bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Emas tidak memberikan bunga seperti deposito atau obligasi. Karena itu, ketika imbal hasil instrumen berbunga naik, sebagian investor dapat mengalihkan dana dari emas ke aset yang menawarkan pendapatan lebih pasti.
Tekanan tersebut terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun. Berdasarkan data dalam laporan perdagangan, imbal hasil surat utang tersebut naik 4,11 basis poin menjadi 5,034 persen.
Tai Wong, pedagang logam independen, menilai kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang mencerminkan bahwa pasar belum sepenuhnya puas dengan penjelasan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai keputusan mempertahankan suku bunga.
Menurut Wong, tekanan dari suku bunga yang lebih tinggi berpotensi membatasi ruang kenaikan emas. Meski demikian, ia tidak memperkirakan aksi jual besar-besaran pada logam mulia akan terjadi dalam waktu dekat.
Artinya, harga emas masih berpeluang bergerak fluktuatif. Investor perlu mencermati bukan hanya keputusan suku bunga saat ini, melainkan juga sinyal kebijakan yang disampaikan bank sentral untuk bulan-bulan berikutnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool dalam data yang disampaikan, peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai 86 persen, sedikit turun dari 88 persen sebelum pengumuman kebijakan.
Angka tersebut merupakan perkiraan yang tercermin dari pasar, bukan keputusan resmi The Fed. Namun, tingginya probabilitas yang diperhitungkan investor memperlihatkan bahwa kemungkinan pengetatan moneter masih menjadi pertimbangan penting dalam menentukan posisi investasi.
Dalam pernyataan resminya, The Fed menyebut inflasi masih berada pada level tinggi dan menekankan pentingnya memperoleh informasi tambahan sebelum menentukan langkah kebijakan berikutnya.
Keputusan mempertahankan suku bunga pada Oktober disetujui melalui pemungutan suara 10 banding 2. Dua pejabat memilih kenaikan sebesar 0,25 poin persentase.
Kondisi tersebut membuat investor emas berada di antara dua pertimbangan: ketidakpastian ekonomi yang dapat mendorong permintaan aset lindung nilai dan risiko kenaikan suku bunga yang meningkatkan biaya peluang memegang emas.
Kenaikan harga energi berpotensi mendorong biaya transportasi dan produksi, sehingga memperbesar tekanan inflasi. Jika inflasi sulit dikendalikan, bank sentral dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau mempertimbangkan pengetatan tambahan.
Situasi ini menjadi tantangan bagi emas. Di satu sisi, ketegangan geopolitik dapat meningkatkan minat investor terhadap aset yang dipandang sebagai pelindung nilai.
Di sisi lain, kenaikan inflasi yang diikuti suku bunga tinggi dapat menekan daya tarik logam mulia.
Dengan demikian, hubungan antara konflik geopolitik, harga minyak, dan emas tidak selalu bergerak searah. Respons pasar bergantung pada faktor yang paling dominan saat itu, termasuk pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, dan ekspektasi kebijakan moneter.
Data PCE dapat memengaruhi perkiraan pasar mengenai keputusan suku bunga pada Desember. Jika tekanan inflasi terlihat masih kuat, ekspektasi kebijakan ketat berpotensi bertahan. Sebaliknya, tanda-tanda perlambatan inflasi dapat mengubah perhitungan investor terhadap arah kebijakan bank sentral.
Reuters juga melaporkan bahwa harga emas melemah pada Kamis ketika pasar mengevaluasi sinyal The Fed dan menunggu data inflasi AS.
Dalam laporan tersebut, harga emas spot turun 1,1 persen menjadi US$ 4.024,22 per troy ons pada waktu pengamatan Reuters, berbeda waktu pengukuran dengan data Refinitiv pukul 06.51 WIB yang menjadi acuan artikel ini.
Perbedaan angka tersebut penting diperhatikan karena harga emas berubah sepanjang hari dan dapat berbeda berdasarkan waktu pengamatan, jenis kontrak, serta sumber data.
Kenaikan tersebut dikaitkan dengan pengisian kembali persediaan menjelang libur Golden Week serta permintaan investor.
Permintaan dari China menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menopang pasar emas ketika tekanan dari kebijakan moneter AS meningkat. Namun, pengaruhnya terhadap harga global tetap bergantung pada kekuatan permintaan, perkembangan ekonomi, serta pergerakan investor di pasar internasional.
Dengan situasi yang saling bertolak belakang tersebut, harga emas masih menghadapi tarik-menarik antara permintaan aset lindung nilai dan daya tarik instrumen berbunga.
Pada Kamis (29/10/2026) pukul 06.51 WIB, harga perak kembali turun 0,23 persen ke US$ 53,85 per troy ons, berdasarkan angka yang tercantum dalam data awal.
Pelemahan emas dan perak menunjukkan bahwa pasar logam mulia masih menghadapi tekanan di tengah perubahan ekspektasi suku bunga dan kekhawatiran inflasi.
Meski demikian, pergerakan kedua komoditas tersebut tidak selalu sama karena faktor permintaan dan karakteristik pasar masing-masing berbeda.
Bagi investor, perkembangan inflasi AS, imbal hasil obligasi pemerintah, harga minyak, serta permintaan dari China menjadi sejumlah indikator penting yang perlu dipantau. Keputusan The Fed menahan suku bunga belum memberikan kepastian mengenai arah harga emas selanjutnya.