Topikseru.com - Jalan diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali menghadapi persoalan serius. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap proses perundingan dengan Washington setelah rangkaian serangan dan sanksi yang diberlakukan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam wawancara dengan Al Jazeera yang disiarkan pada Sabtu (26/9/2026).
"Kami tidak mempercayai pihak Amerika dan tidak tahu atas dasar apa kesepahaman dengan mereka akan dicapai," kata Pezeshkian.
Baca Juga:
Pernyataan itu muncul ketika Iran masih membuka jalur komunikasi tidak langsung dengan Amerika Serikat melalui mediator. Qatar dan Pakistan disebut menjadi perantara pesan antara Teheran dan Washington.
Menurut Pezeshkian, Iran kini menunggu kejelasan posisi Amerika Serikat mengenai nota kesepahaman atau MoU yang sebelumnya telah dicapai kedua negara.
Pezeshkian mengatakan dirinya tidak melihat kebutuhan untuk bertemu Trump selama Washington belum memenuhi kesepakatan yang sebelumnya telah ditandatangani.
Dengan kata lain, Teheran menempatkan pelaksanaan kesepakatan sebelumnya sebagai salah satu prasyarat sebelum pembicaraan langsung dapat kembali berkembang.
Sementara itu, komunikasi antara kedua negara masih berlangsung melalui jalur tidak langsung. Qatar dan Pakistan memainkan peran sebagai mediator untuk menyampaikan pesan kedua pihak.
Pada Juni 2026, Washington dan Teheran menyepakati sebuah MoU yang menjadi dasar proses diplomatik berikutnya. Kesepakatan tersebut kemudian menjadi pijakan bagi pembicaraan lebih lanjut untuk menghentikan konflik.
Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama.
Al Jazeera melaporkan bahwa MoU yang ditandatangani pada Juni tersebut kemudian runtuh setelah muncul perselisihan mengenai sejumlah ketentuan, termasuk persoalan pengaturan pelayaran di Selat Hormuz. Presiden Trump kemudian menyatakan kesepakatan tersebut berakhir pada Juli.
Kondisi itu membuat persoalan utama diplomasi Iran-AS bukan hanya menyangkut substansi kesepakatan, tetapi juga mengenai bagaimana kedua pihak dapat kembali membangun kepercayaan.
Pezeshkian mengatakan pesan Iran tetap disampaikan kepada Amerika Serikat melalui Qatar dan Pakistan.
Jalur tersebut menjadi penting karena hubungan langsung kedua negara masih menghadapi hambatan. Qatar sebelumnya juga terlibat dalam upaya mediasi untuk menjaga komunikasi antara Washington dan Teheran.
Iran juga menginginkan Amerika Serikat memperjelas sikap terhadap MoU yang telah dicapai sebelumnya.
Bagi Teheran, kejelasan posisi Washington menjadi salah satu persoalan yang harus diselesaikan sebelum pembicaraan dapat kembali bergerak.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan proposal tersebut pada September. Rencana itu antara lain berkaitan dengan penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya pembicaraan untuk kesepakatan lanjutan.
Dalam skema yang disampaikan Iran, sejumlah langkah diharapkan dilakukan secara bertahap hingga pembicaraan untuk kesepakatan final dapat dimulai pada hari ketujuh.
Namun, proposal tersebut kemudian menghadapi penolakan dari pihak Trump. Al Jazeera melaporkan bahwa Trump dilaporkan menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu satu pekan.
Situasi tersebut kembali menunjukkan betapa sulitnya mempertemukan posisi kedua negara.
Washington dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Teheran kemudian melakukan serangan balasan sehingga konflik berkembang menjadi konfrontasi terbuka.
Setelah berlangsung selama berbulan-bulan, kedua pihak sempat menggunakan jalur diplomasi untuk mencari jalan keluar.
Kesepahaman yang dicapai pada Juni menjadi salah satu upaya untuk menghentikan permusuhan. Namun, kesepakatan tersebut kemudian runtuh dan konflik kembali berlanjut.
Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Proposal Iran sebelumnya mengaitkan pembukaan kembali jalur tersebut dengan pengurangan tekanan militer dan pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran.
Karena itu, pembicaraan mengenai Selat Hormuz tidak hanya memiliki dimensi militer dan politik, tetapi juga berkaitan dengan perdagangan energi internasional.
Ketidakpastian mengenai akses melalui jalur strategis tersebut juga telah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar minyak global.
Iran masih menggunakan Qatar dan Pakistan untuk menyampaikan pesan kepada Washington dan masih meminta kejelasan mengenai kesepakatan sebelumnya.
Namun, pada saat yang sama, Teheran menyatakan tidak lagi mempercayai proses perundingan dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, laporan Al Jazeera menyebut jalur diplomasi tidak langsung masih berlangsung, sementara kedua pihak belum sepenuhnya berada pada posisi yang sama mengenai cara mengakhiri konflik.
Dengan demikian, tantangan diplomasi Iran dan Amerika Serikat kini bukan hanya mencari formula kesepakatan baru.
Kedua negara juga harus menghadapi persoalan mendasar berupa krisis kepercayaan yang muncul setelah kesepakatan sebelumnya gagal menghentikan konflik.