Minggu, 27 September 2026
Konflik Iran - AS

Iran Tak Lagi Percaya AS, Pezeshkian Buka Suara soal Perundingan

Muchlis - Minggu, 27 September 2026 21:52 WIB
Iran Tak Lagi Percaya AS, Pezeshkian Buka Suara soal Perundingan
Foto: Anadolu Agency
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan pidato pada sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) dalam rangkaian pertemuan tahunan tingkat tinggi pada 23 September 2026 di New York City, Amerika Serikat.

Topikseru.com - Jalan diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali menghadapi persoalan serius. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap proses perundingan dengan Washington setelah rangkaian serangan dan sanksi yang diberlakukan Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam wawancara dengan Al Jazeera yang disiarkan pada Sabtu (26/9/2026).

"Kami tidak mempercayai pihak Amerika dan tidak tahu atas dasar apa kesepahaman dengan mereka akan dicapai," kata Pezeshkian.

Baca Juga:

Pernyataan itu muncul ketika Iran masih membuka jalur komunikasi tidak langsung dengan Amerika Serikat melalui mediator. Qatar dan Pakistan disebut menjadi perantara pesan antara Teheran dan Washington.

Menurut Pezeshkian, Iran kini menunggu kejelasan posisi Amerika Serikat mengenai nota kesepahaman atau MoU yang sebelumnya telah dicapai kedua negara.

Pezeshkian Tak Melihat Alasan Bertemu Trump

Krisis kepercayaan tersebut juga berdampak pada kemungkinan pertemuan langsung antara Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pezeshkian mengatakan dirinya tidak melihat kebutuhan untuk bertemu Trump selama Washington belum memenuhi kesepakatan yang sebelumnya telah ditandatangani.

Dengan kata lain, Teheran menempatkan pelaksanaan kesepakatan sebelumnya sebagai salah satu prasyarat sebelum pembicaraan langsung dapat kembali berkembang.

Sementara itu, komunikasi antara kedua negara masih berlangsung melalui jalur tidak langsung. Qatar dan Pakistan memainkan peran sebagai mediator untuk menyampaikan pesan kedua pihak.

MoU Iran-AS yang Pernah Menjadi Titik Awal

Hubungan Iran dan Amerika Serikat sebelumnya sempat memasuki fase diplomasi setelah kedua negara mencapai kesepahaman yang dimediasi Qatar dan Pakistan.

Pada Juni 2026, Washington dan Teheran menyepakati sebuah MoU yang menjadi dasar proses diplomatik berikutnya. Kesepakatan tersebut kemudian menjadi pijakan bagi pembicaraan lebih lanjut untuk menghentikan konflik.

Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama.

Al Jazeera melaporkan bahwa MoU yang ditandatangani pada Juni tersebut kemudian runtuh setelah muncul perselisihan mengenai sejumlah ketentuan, termasuk persoalan pengaturan pelayaran di Selat Hormuz. Presiden Trump kemudian menyatakan kesepakatan tersebut berakhir pada Juli.

Kondisi itu membuat persoalan utama diplomasi Iran-AS bukan hanya menyangkut substansi kesepakatan, tetapi juga mengenai bagaimana kedua pihak dapat kembali membangun kepercayaan.

Iran Kirim Pesan Lewat Qatar dan Pakistan

Meski menyatakan tidak percaya kepada Washington, Teheran belum sepenuhnya menutup jalur diplomasi.

Pezeshkian mengatakan pesan Iran tetap disampaikan kepada Amerika Serikat melalui Qatar dan Pakistan.

Jalur tersebut menjadi penting karena hubungan langsung kedua negara masih menghadapi hambatan. Qatar sebelumnya juga terlibat dalam upaya mediasi untuk menjaga komunikasi antara Washington dan Teheran.

Iran juga menginginkan Amerika Serikat memperjelas sikap terhadap MoU yang telah dicapai sebelumnya.

Bagi Teheran, kejelasan posisi Washington menjadi salah satu persoalan yang harus diselesaikan sebelum pembicaraan dapat kembali bergerak.

Iran Sebelumnya Ajukan Peta Jalan 7 Hari

Perkembangan terbaru ini berlangsung setelah Iran mengajukan peta jalan tujuh hari untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan proposal tersebut pada September. Rencana itu antara lain berkaitan dengan penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya pembicaraan untuk kesepakatan lanjutan.

Dalam skema yang disampaikan Iran, sejumlah langkah diharapkan dilakukan secara bertahap hingga pembicaraan untuk kesepakatan final dapat dimulai pada hari ketujuh.

Namun, proposal tersebut kemudian menghadapi penolakan dari pihak Trump. Al Jazeera melaporkan bahwa Trump dilaporkan menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu satu pekan.

Situasi tersebut kembali menunjukkan betapa sulitnya mempertemukan posisi kedua negara.

Konflik Bermula dari Serangan pada Februari

Konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat dan Israel memasuki fase baru setelah serangan pada 28 Februari 2026.

Washington dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Teheran kemudian melakukan serangan balasan sehingga konflik berkembang menjadi konfrontasi terbuka.

Setelah berlangsung selama berbulan-bulan, kedua pihak sempat menggunakan jalur diplomasi untuk mencari jalan keluar.

Kesepahaman yang dicapai pada Juni menjadi salah satu upaya untuk menghentikan permusuhan. Namun, kesepakatan tersebut kemudian runtuh dan konflik kembali berlanjut.

Selat Hormuz Menjadi Bagian Penting Diplomasi

Selain persoalan nuklir dan sanksi ekonomi, Selat Hormuz kini menjadi salah satu isu utama dalam hubungan Iran-AS.

Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Proposal Iran sebelumnya mengaitkan pembukaan kembali jalur tersebut dengan pengurangan tekanan militer dan pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran.

Karena itu, pembicaraan mengenai Selat Hormuz tidak hanya memiliki dimensi militer dan politik, tetapi juga berkaitan dengan perdagangan energi internasional.

Ketidakpastian mengenai akses melalui jalur strategis tersebut juga telah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar minyak global.

Diplomasi Masih Terbuka, tetapi Kepercayaan Menjadi Masalah

Pernyataan Pezeshkian memperlihatkan bahwa pintu komunikasi Iran-AS belum sepenuhnya tertutup.

Iran masih menggunakan Qatar dan Pakistan untuk menyampaikan pesan kepada Washington dan masih meminta kejelasan mengenai kesepakatan sebelumnya.

Namun, pada saat yang sama, Teheran menyatakan tidak lagi mempercayai proses perundingan dengan Amerika Serikat.

Di sisi lain, laporan Al Jazeera menyebut jalur diplomasi tidak langsung masih berlangsung, sementara kedua pihak belum sepenuhnya berada pada posisi yang sama mengenai cara mengakhiri konflik.

Dengan demikian, tantangan diplomasi Iran dan Amerika Serikat kini bukan hanya mencari formula kesepakatan baru.

Kedua negara juga harus menghadapi persoalan mendasar berupa krisis kepercayaan yang muncul setelah kesepakatan sebelumnya gagal menghentikan konflik.

Editor
: Agus Supratman
Berita Terkait
Xi Jinping dan Donald Trump Sepakati 8 Poin, dari Tarif hingga Dialog AI
CENTCOM Paksa 115 Kapal Putar Balik, AS Perketat Blokade Tembok Baja Iran
Trump Sebut Iran Tolak Tawaran AS, Kesepakatan Disebut Baru Terbuka Setelah Pemilu
AS Tolak Visa Tim Media Presiden Iran Jelang Sidang PBB, Teheran Kecam Pembatasan Pers
Harga Minyak Mentah Menguat Menanti Potensi Pembicaraan AS-Iran di PBB
Diplomasi Beijing: China Desak AS-Iran Kembali ke Memorandum Islamabad demi Selat Hormuz