Topikseru.com, Medan – Malaysia melarang aparatur sipil negara (ASN/ PNS) menggunakan aplikasi navigasi Waze di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pengawasan asing dan keamanan data sensitif pemerintah oleh Israel.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga mengimbau seluruh masyarakat menghentikan penggunaan aplikasi tersebut dan beralih ke layanan navigasi lokal. Pemerintah menilai perlindungan informasi pemerintah dan data pribadi warga perlu diperkuat untuk menjaga keamanan nasional dan kedaulatan digital.
"Informasi sensitif pemerintah dan data pribadi warga negara harus dilindungi dari eksploitasi oleh rezim Israel dengan cara yang dapat merusak keamanan nasional dan kedaulatan," demikian pernyataan Kantor Perdana Menteri Malaysia, dikutip dari The Straits Times, Sabtu (24/10/2026).
Baca Juga:
Anwar menyoroti pengelolaan data Waze Mobile, perusahaan yang didirikan di Israel dan beroperasi di bawah hukum negara tersebut. Pemerintah Malaysia pun mendorong masyarakat beralih ke aplikasi buatan lokal, seperti TuJu, yang diklaim menawarkan perlindungan data dan privasi.
Waze didirikan di Israel pada 2008 sebelum diakuisisi raksasa teknologi Amerika Serikat (AS), Google, pada 2013. Meski telah menjadi bagian dari Google, aplikasi tersebut masih dioperasikan Waze Mobile yang berbasis di Tel Aviv, menurut kebijakan privasinya.
Malaysia selama ini mendukung perjuangan Palestina dan tegas tidak mengakui Israel secara diplomatik.
Larangan terhadap Waze muncul beberapa hari setelah peneliti dari Citizen Lab di University of Toronto dan perusahaan keamanan siber Confiant mengungkap dugaan penyalahgunaan iklan daring oleh perusahaan periklanan Israel, Discover-Tech, untuk melacak pengguna internet dan memfasilitasi serangan spyware.
Iklan perusahaan tersebut dilaporkan muncul di lebih dari 120.000 situs web dan 75.000 aplikasi seluler. Kondisi ini berpotensi membuka akses pengawasan terhadap ratusan juta pengguna.
Para peneliti mengaitkan operasi tersebut dengan Candiru, pengembang spyware asal Israel. Perangkat lunak perusahaan itu disebut digunakan untuk menargetkan 45 perangkat milik jaringan penyiaran Al Jazeera yang berbasis di Qatar sepanjang 2024 hingga 2025.
Reuters juga melaporkan iklan tersebut menjangkau jaringan sensitif yang terkait dengan NATO, Pentagon, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, belum ada bukti bahwa seluruh jaringan tersebut berhasil diretas.
Pakar keamanan dari Chasseur Group, Munira Mustaffa, mengatakan pengungkapan terbaru mengenai operasi pengawasan yang terkait dengan Israel telah meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi spionase. Operasi tersebut diduga menargetkan Al Jazeera melalui iklan daring canggih yang hampir tidak terdeteksi.
"Situasi Israel menimbulkan kekhawatiran serius," kata Munira.
Ia mencontohkan sejumlah negara Eropa yang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap Microsoft setelah muncul laporan bahwa Unit 8200, unit intelijen sinyal dan perang siber utama militer Israel, menggunakan server cloud Microsoft di Belanda dan Irlandia untuk menyimpan data warga Palestina yang menjadi target pengawasan.
Sejumlah negara juga mulai membatasi penggunaan layanan digital asing di lingkungan pemerintahan. Pada Januari 2026, Prancis mengumumkan rencana menghentikan penggunaan layanan konferensi video asal AS, seperti Zoom dan Microsoft Teams, di instansi pemerintah secara bertahap hingga 2027.
Jerman dan India juga telah memperkenalkan aplikasi pesan instan buatan sendiri bagi pegawai pemerintah dengan alasan keamanan dan perlindungan data.
Kekhawatiran serupa pernah muncul pada aplikasi pelacak kebugaran Strava. Peta panas GPS yang dapat diakses publik dari aplikasi tersebut sempat mengungkap lokasi pangkalan militer dan pergerakan personel di berbagai negara.
Pada 2018, data Strava menunjukkan sejumlah lokasi di sekitar Ukraina yang berpotensi memberikan informasi kepada pihak lawan untuk merencanakan serangan.
Pada 2023, mantan komandan kapal selam Rusia, Stanislav Rzhitsky, tewas ditembak saat berlari di Krasnodar. Media Rusia berspekulasi bahwa pelaku melacak pergerakannya melalui Strava, yang memperlihatkan bahwa Rzhitsky rutin berlari di jalur tempat ia ditembak. Meski demikian, belum jelas apakah data aplikasi tersebut benar-benar digunakan untuk merencanakan pembunuhan itu.