Topikseru.com - Hari Stroke Sedunia diperingati setiap 29 Oktober untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya stroke, mulai dari mengenali gejala awal hingga pentingnya mendapatkan penanganan medis secepat mungkin.
Pada 2026, World Stroke Organization mengusung kampanye "Every M1nute Counts" yang menekankan bahwa setiap menit sangat berarti ketika seseorang mengalami stroke. Masyarakat diajak mengenali tanda-tanda stroke dan segera mencari pertolongan medis tanpa menunda waktu.
Stroke terjadi ketika aliran darah ke bagian otak terganggu, baik akibat penyumbatan pembuluh darah maupun pecahnya pembuluh darah. Kondisi ini dapat menyebabkan sel otak mengalami kerusakan dan berujung pada kecacatan hingga kematian.
Baca Juga:
Angka Stroke di Indonesia
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan, prevalensi stroke berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Angka tersebut menunjukkan bahwa stroke masih menjadi masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius.
Kementerian Kesehatan juga menyebutkan bahwa sekitar 90 persen kasus stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko. Upaya pencegahan meliputi pengendalian tekanan darah, diabetes dan kolesterol, menjaga pola makan, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur.
Kenali Gejala Stroke dengan Metode FAST
Salah satu langkah penting untuk menghadapi stroke adalah mengenali gejalanya sejak awal. Masyarakat dapat menggunakan metode FAST sebagai panduan sederhana.
F (Face atau wajah): Perhatikan apakah salah satu sisi wajah tampak turun atau tidak simetris ketika tersenyum.
A (Arms atau lengan): Periksa apakah salah satu lengan terasa lemah atau sulit diangkat.
S (Speech atau bicara): Waspadai bicara yang mendadak pelo, sulit dipahami, atau kesulitan mengucapkan kata-kata.
T (Time atau waktu): Jika tanda-tanda tersebut muncul, segera cari pertolongan medis darurat.
Gejala stroke juga dapat berupa gangguan penglihatan mendadak, kehilangan keseimbangan, pusing berat yang muncul tiba-tiba, atau gangguan koordinasi. Gejala tidak harus muncul secara bersamaan.
Siapa yang Berisiko Mengalami Stroke?
Stroke dapat dialami siapa saja, termasuk orang yang belum berusia lanjut. Namun, sejumlah faktor dapat meningkatkan risikonya, antara lain tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, penyakit jantung, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, serta pola makan yang tidak sehat.
Tekanan darah tinggi menjadi salah satu faktor risiko utama yang perlu dikendalikan. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala penting dilakukan, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko stroke atau riwayat penyakit terkait.
Cara Mencegah Stroke Sejak Dini
Pencegahan stroke dapat dimulai melalui kebiasaan sehari-hari. Masyarakat dianjurkan menjaga tekanan darah, mengontrol kadar gula dan kolesterol, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi garam, tidak merokok, serta rutin beraktivitas fisik.
Selain itu, jangan mengabaikan gejala yang muncul secara tiba-tiba meskipun keluhan terasa membaik dalam waktu singkat. Gejala sementara tetap memerlukan evaluasi medis karena dapat menjadi tanda peringatan gangguan aliran darah ke otak.
Hari Stroke Sedunia menjadi pengingat bahwa mengenali gejala dan bertindak cepat dapat memengaruhi peluang seseorang mendapatkan penanganan yang tepat. Ketika stroke dicurigai, jangan menunggu gejala hilang atau mencoba mengobatinya sendiri di rumah. Segera hubungi layanan darurat atau bawa pasien ke rumah sakit agar dapat diperiksa dan ditangani oleh tenaga medis.