Kamis, 24 September 2026

Refleksi Hardiknas: Akademisi Soroti Dedikasi Tinggi Guru dan Realita Penghasilan Masih Rendah

Agus Supratman - Sabtu, 02 Mei 2026 17:39 WIB
Refleksi Hardiknas: Akademisi Soroti Dedikasi Tinggi Guru dan Realita Penghasilan Masih Rendah
Yulhasni
Topikseru.com, Medan - Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026, persoalan kesejahteraan guru kembali menjadi sorotan. Di tengah tuntutan profesionalisme dan tanggung jawab besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, banyak guru di Indonesia masih menghadapi kenyataan pahit berupa penghasilan yang belum memadai. Yulhasni, dosen Pendidikan Bahasa Indonesia di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), menilai kondisi ini sebagai ironi yang terus berulang setiap tahun tanpa solusi yang signifikan. “Guru dituntut untuk profesional, inovatif, dan berdedikasi tinggi. Namun di sisi lain, masih banyak guru—terutama honorer—yang menerima penghasilan jauh dari kata layak. Ini adalah realita yang tidak bisa kita abaikan,” ujarnya. [irp posts="42313" ] Ia juga menyoroti adanya ketimpangan yang mencolok jika dibandingkan dengan profesi lain, termasuk petugas dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dalam beberapa kasus memiliki tingkat penghasilan lebih tinggi. “Ini bukan soal membandingkan secara sempit, tetapi tentang rasa keadilan. Ketika profesi yang menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia justru belum mendapatkan kesejahteraan yang layak, maka ada yang perlu dievaluasi secara serius dalam kebijakan kita,” tambahnya. Menurut Yulhasni, peningkatan kualitas pendidikan tidak akan berjalan optimal jika kesejahteraan guru terus diabaikan. Ia menekankan bahwa kebijakan pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada kurikulum dan program-program baru, tetapi juga menyentuh aspek mendasar yakni kesejahteraan tenaga pendidik. Pada momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 ini, ia mengajak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan kesejahteraan guru sebagai prioritas utama dalam pembangunan pendidikan nasional. “Jika kita ingin pendidikan maju, maka guru harus sejahtera terlebih dahulu. Tanpa itu, semua visi besar pendidikan hanya akan menjadi retorika,” tutupnya.
Sumber
:
Berita Terkait
Guru PPPK Paruh Waktu Otomatis Jadi Penuh Waktu Januari 2027, Tanpa Tes
Pemko Medan Tunggu Juknis Pengalihan Status Guru PPPK Jadi Pegawai Pemerintah Pusat
Dua Saksi Kompak Sebut Proyek Waterfront City Samosir Tuntas Dikerjakan
Polisi Beberkan Kronologi Pencabulan Dialami Siswa SD di Tanjungbalai 
Oknum Guru Wanita di Tanjungbalai Diduga Cabuli Siswa, Rumah Terduga Pelaku Dikepung Warga  
Sidang Korupsi Waterfront City Samosir: Saksi Ungkap Tender Rp 191 Miliar Telah Kantongi Persetujuan World Bank