Topikseru.com, NTT – Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki sejumlah catatan gempa bumi merusak yang tercatat dalam katalog Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Beberapa kejadian menyebabkan korban jiwa dan kerusakan bangunan, sedangkan sejumlah gempa lainnya juga diikuti tsunami.
Catatan tersebut mencakup wilayah Flores, Alor, Sumba hingga Nagekeo. Salah satu peristiwa dengan dampak terbesar terjadi pada 12 Desember 1992 di Flores.
Baca Juga:
Gempa tersebut tercatat berkekuatan M7,5 dan diikuti tsunami. Katalog gempa bumi merusak BMKG mencatat sekitar 2.500 orang meninggal atau hilang.
Tsunami dilaporkan masuk hingga sekitar 300 meter ke daratan dengan tinggi gelombang mencapai 25 meter.
Di Maumere, sekitar 90 persen bangunan dilaporkan hancur akibat kombinasi guncangan gempa dan tsunami.
Sebelum gempa Flores 1992, wilayah Alor mengalami gempa pada 4 Juli 1991.
Katalog tsunami Indonesia mencatat gempa tersebut berkekuatan M6,2 dan memicu tsunami lokal. Gelombang tsunami menyebabkan 10 perahu nelayan tenggelam di Kalabahi.
Catatan pemerintah Kabupaten Alor mencatat 23 orang meninggal akibat peristiwa tersebut. Angka magnitudo dalam sejumlah katalog berbeda, sehingga untuk penulisan berita perlu mencantumkan sumber angka secara spesifik.
Gempa kembali mengguncang Alor pada 12 November 2004 dengan magnitudo M7,5.
Dokumen Pemerintah Kabupaten Alor mencatat 31 orang meninggal dunia dan sekitar 400 orang mengalami luka-luka. Gempa juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur, termasuk landasan bandara.
Selain kerusakan akibat guncangan, air laut dilaporkan masuk ke daratan hingga sekitar 100 meter.
Pada 12 Februari 2016, gempa berkekuatan M6,6 mengguncang wilayah Sumba Barat.
BMKG mencatat pusat gempa berada sekitar 14 kilometer barat daya Sumba Barat dengan kedalaman 10 kilometer dalam laporan awal. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Data BPBD yang dilaporkan saat itu menyebutkan tujuh sekolah dan 10 rumah mengalami kerusakan ringan. Sejumlah fasilitas umum juga mengalami keretakan, sementara tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Wilayah Flores kembali diguncang gempa besar pada 14 Desember 2021.
BMKG mencatat gempa tersebut dengan magnitudo pembaruan M7,4 dan kedalaman sekitar 10 kilometer. Episenternya berada di laut wilayah Flores. Pemantauan BMKG juga mendeteksi tsunami setelah gempa tersebut.
Peristiwa tersebut menyebabkan dampak di sejumlah wilayah NTT. Berdasarkan data yang dihimpun dalam katalog BMKG, ribuan warga mengungsi dan ratusan rumah mengalami kerusakan.
Dua tahun sebelum gempa besar 2026, Kabupaten Nagekeo juga mengalami gempa pada 25 Januari 2024.
BMKG mencatat gempa berkekuatan M5,6 tersebut terjadi pukul 19.24 WIB. Episenter berada di laut, sekitar 47 kilometer barat laut Mbay, dengan kedalaman 11 kilometer.
Gempa dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Ruteng, Waingapu, Bajawa, Ende, Maumere, dan Labuan Bajo. BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Katalog gempa merusak BMKG mencatat tidak ada korban meninggal maupun luka dalam peristiwa tersebut. Satu rumah di Kabupaten Ngada mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
Rangkaian gempa tersebut kembali bertambah setelah gempa berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah utara Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Gempa utama terjadi pukul 04.58.23 WIB. Berdasarkan pemutakhiran BMKG, gempa memiliki magnitudo M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Episenter berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT.
Gempa tersebut memicu peringatan dini tsunami. Hasil pemantauan BMKG kemudian mendeteksi tsunami di sejumlah lokasi, antara lain Flores Timur, Labuan Bajo, Sikka, Maurole-Ende dan Alor.
Tinggi muka air laut yang tercatat bervariasi. Salah satu pengukuran di Maurole-Ende mencapai 0,94 meter, sedangkan Labuan Bajo tercatat 0,36 meter dan Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter.
BMKG mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan tidak terdapat lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan.
Aktivitas gempa susulan masih berlangsung setelah gempa utama. Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat 235 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo berkisar M2,5 hingga M6,2.
Sejumlah kejadian yang tercatat dalam berbagai katalog dan dokumen kebencanaan dapat dirangkum sebagai berikut:
| Tahun | Wilayah | Magnitudo | Dampak |
|---|---|---|---|
| 1975 | Kupang | M6,1 | Kerusakan bangunan |
| 1989 | Alor Timur | M6,4 | Kerusakan rumah dan fasilitas umum |
| 1991 | Alor | M6,2* | 23 orang meninggal dan tsunami lokal |
| 1992 | Flores | M7,5 | Sekitar 2.500 orang meninggal/hilang dan tsunami |
| 2004 | Alor | M7,5 | 31 meninggal, sekitar 400 luka-luka |
| 2016 | Sumba Barat | M6,6 | Rumah, sekolah dan fasilitas umum mengalami kerusakan |
| 2021 | Flores | M7,4 | Pengungsian, kerusakan rumah dan tsunami |
| 2024 | Nagekeo | M5,6 | Satu rumah rusak |
| 2026 | Nagekeo/Flores | M7,7 | Tsunami teramati dan gempa susulan |
*Magnitudo kejadian Alor 1991 tercatat berbeda dalam sejumlah sumber/katalog.
Katalog BMKG menunjukkan bahwa gempa merusak di NTT terjadi berulang di sejumlah wilayah, termasuk Flores, Alor, Sumba dan Nagekeo. BMKG juga mencatat peristiwa gempa dan tsunami dalam katalog historis yang mencakup periode panjang.
Salah satu kejadian historis lainnya terjadi di Alor pada 1898. Catatan sejarah menyebut sekitar 250 orang meninggal, meski magnitudo gempa tidak tercatat dalam katalog.
Dengan demikian, gempa M7,7 yang mengguncang Nagekeo pada 15 Agustus 2026 menjadi bagian terbaru dari rangkaian catatan gempa merusak di NTT. Data historis memperlihatkan kejadian dengan dampak berbeda telah tercatat di Flores, Alor, Sumba dan wilayah NTT lainnya selama lebih dari satu abad.