Topikseru.com,
Sidoarjo - Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026).
Kasus yang awalnya mencatat 273 santri mendapat perawatan itu kemudian berkembang. Data pemerintah pada Rabu (2/9/2026) menunjukkan jumlah korban yang terdampak mencapai ratusan orang dan memicu pemeriksaan terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan tersebut.
Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut sebanyak 512 penerima manfaat terdampak dalam insiden tersebut. Sementara itu, Bupati Sidoarjo Subandi mencatat total korban dari pihak Pondok Pesantren Manbaul Hikam mencapai 566 santri, dengan sebagian besar telah diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan.
Perbedaan angka tersebut terjadi seiring proses pendataan dan penanganan korban yang masih berlangsung.
Gejala Muncul Beberapa Jam Setelah Makan
Insiden dugaan keracunan MBG mulai terdeteksi pada Selasa sore.
Pendamping SPPG di lokasi, Serka Andik, mengatakan makanan untuk para santri dikirim sekitar pukul 10.00 WIB. Makanan tersebut kemudian biasanya dibagikan sekitar pukul 12.00 WIB.
Total makanan yang dikirim diperkirakan mencapai sekitar 440 ompreng.
Namun, karena para santri masih mengikuti kegiatan pembelajaran, sebagian makanan baru dikonsumsi pada sore hari.
Menjelang waktu magrib, sejumlah santri mulai mengalami muntah-muntah. Ambulans kemudian berdatangan ke lingkungan pesantren untuk membawa santri yang mengalami keluhan ke fasilitas kesehatan.
"Biasanya selesai salat magrib ada kegiatan. Sebelum magrib sudah mulai ada yang muntah-muntah, kemudian setelah magrib ambulans berdatangan," ujar Andik.
Keluhan yang dialami para santri antara lain mual, sakit perut, muntah, hingga tubuh terasa lemas.
Pemerintah daerah kemudian mengerahkan fasilitas kesehatan untuk menangani para korban.
Ini Menu MBG yang Disantap Santri
Sebelum mengalami keluhan kesehatan, para santri menerima menu MBG yang terdiri dari beberapa jenis makanan.
Serka Andik menyebut menu tersebut berupa nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis dan baby corn, tempe bumbu Bali, serta buah apel.
Salah seorang santriwati, Syaza (15), juga mengonfirmasi menu yang disantapnya.
Namun, ia mengaku merasakan sesuatu yang berbeda pada bagian sayur.
"Yang dimakan nasi putih, telur orak-arik, tempe kayak Bali, gak pedes. Sayur gak habis, yang kecut dari sayurnya," tutur Syaza.
Meski demikian, rasa makanan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menentukan penyebab keracunan.
Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan sumber gangguan kesehatan yang dialami para santri.
Korban Dilarikan ke Sejumlah Rumah Sakit
Pada laporan awal, sebanyak 273 santri disebut menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Rumah sakit yang menerima pasien antara lain RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, RS Delta Surya, RSI Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah, RS Siti Fatimah Tulangan, dan RS Pusdik Bhayangkara.
Seiring proses pendataan, jumlah korban kemudian mengalami perubahan.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan kejadian tersebut tidak hanya berdampak pada santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Sejumlah satuan pendidikan lain juga dilaporkan mengalami kejadian serupa setelah menerima makanan dari SPPG yang sama.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan seluruh pasien mendapatkan penanganan medis. Biaya penanganan korban juga disebut ditanggung pemerintah daerah.
SPPG Kalitengah Jadi Sorotan
Kasus ini kemudian mengarah pada SPPG Kalitengah di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, sebagai dapur yang memasok makanan kepada para penerima manfaat.
BGN pada Rabu (2/9/2026) menjatuhkan suspend berat selama 30 hari terhadap SPPG tersebut.
Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan pihaknya juga mengusulkan pergantian kepala SPPG sebagai bagian dari tindak lanjut kasus.
"Kami juga suspend berat selama 30 hari SPPG Sidoarjo Talangangin Kalitengah. Selain itu, kami juga mengusulkan kepala SPPG tersebut untuk dicopot dan digantikan," ujar Ketut.
BGN menyatakan investigasi dilakukan bersama dinas kesehatan untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan makanan tersebut.
Hasil pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu bagian penting untuk menentukan sumber masalah.
Dapur MBG Diperiksa
Pengawasan terhadap SPPG Kalitengah juga dilakukan aparat penegak hukum.
Tim Inafis Polda Jawa Timur melakukan olah tempat kejadian perkara di dapur SPPG Kalitengah pada Rabu (2/9/2026). Pemeriksaan tersebut dilakukan setelah muncul dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan penerima manfaat MBG.
Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya mencari fakta mengenai proses pengolahan hingga distribusi makanan yang dikonsumsi para santri.
Pemprov Jawa Timur juga berencana memanggil pengelola dapur SPPG untuk memastikan seluruh prosedur operasional dan standar keamanan pangan telah dijalankan.
Tidak Ada Korban Meninggal
Di tengah bertambahnya jumlah korban, pemerintah memastikan tidak ada santri yang meninggal akibat insiden tersebut.
Sebagian pasien telah dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang. Bupati Sidoarjo Subandi menyebut 478 dari total 566 santri yang terdampak telah kembali ke rumah, sedangkan 88 lainnya masih menjalani perawatan ketika data tersebut disampaikan.
Perkembangan kondisi korban terus dipantau pemerintah bersama rumah sakit dan pihak pesantren.
Kementerian Agama juga meminta seluruh pihak menjadikan insiden tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.
Penyebab Keracunan Masih Menunggu Hasil Laboratorium
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan massal di Pondok Pesantren Manbaul Hikam belum dapat dipastikan.
Pemeriksaan terhadap makanan, dapur SPPG, serta faktor lain yang berkaitan dengan proses pengolahan dan distribusi masih dilakukan.
Karena itu, dugaan bahwa salah satu menu tertentu menjadi penyebab keracunan belum dapat disimpulkan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
Kasus Sidoarjo kini menjadi ujian bagi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, khususnya dalam memastikan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga aman dikonsumsi.
Pemerintah pun menghadapi tuntutan untuk memastikan rantai penyediaan makanan MBG, mulai dari dapur SPPG hingga makanan diterima penerima manfaat, berjalan sesuai standar keamanan pangan.
Berita Terkait