Topikseru.com - Sebanyak 125 truk mengangkut 500 ribu keping genteng dari Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, untuk mendukung Program Gentengisasi pemerintah.
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait melepas rombongan truk tersebut pada Jumat (2/10/2026).
Program itu bukan hanya diarahkan untuk mendorong penggunaan genteng pada rumah masyarakat. Pemerintah juga menjadikannya sebagai pintu masuk untuk memperbesar pasar produk UMKM perajin genteng di daerah.
Baca Juga:
Tito mengatakan Program Gentengisasi merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah ingin penggunaan genteng semakin luas sekaligus menghidupkan kembali sentra produksi genteng dalam negeri.
"Jadi gini, saya dengan Pak Ara Sirait datang ke sini, ini atas perintah Presiden Bapak Prabowo untuk gentengisasi," kata Tito dalam keterangannya, Sabtu (3/10/2026).
Sementara itu, sebagian rumah masih menggunakan material lain, termasuk seng dan asbes. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong penggunaan genteng dalam program perumahan.
Tito menilai genteng tanah liat memiliki sejumlah keunggulan untuk hunian. Material tersebut dinilai dapat membantu menahan panas dan tidak menimbulkan suara sekeras material tertentu ketika hujan.
Di Jawa Barat, penggunaan genteng tanah liat disebut telah mencapai sekitar 87 persen. Meski demikian, pemerintah masih melihat terdapat ruang untuk memperluas penggunaan genteng di wilayah tersebut.
Selain aspek kenyamanan, Tito mengaitkan penggunaan genteng dengan karakter arsitektur yang telah lama berkembang di Indonesia.
Sebanyak 500 ribu genteng yang dikirim dari Plered diproduksi oleh para perajin lokal. Produk tersebut kemudian didistribusikan untuk mendukung kebutuhan program perumahan pemerintah.
Menteri PKP Maruarar Sirait mengatakan pesanan dalam jumlah besar memberikan dampak ekonomi langsung terhadap masyarakat di sekitar sentra produksi.
Rantai manfaatnya tidak berhenti pada perajin. Sopir truk, kenek, penjual bahan baku, hingga pelaku usaha lain yang berkaitan dengan produksi dan distribusi juga ikut terlibat.
"Pemesanan genteng dalam skala besar ini memberikan dampak ekonomi instan bagi ekosistem masyarakat setempat," ujar Maruarar.
Pemerintah juga mendorong agar pelaku UMKM genteng meningkatkan kualitas produknya melalui standardisasi dan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Di Purwakarta, tercatat empat produsen genteng telah memiliki sertifikasi SNI, sedangkan 10 produsen lainnya disebut telah memenuhi aspek keandalan. Di Majalengka, terdapat 34 perajin yang telah memiliki sertifikasi SNI.
Maruarar menyebut pemerintah telah memesan sekitar 2,5 juta genteng tanah liat dari sentra produksi di Jawa Barat.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 500 ribu keping berasal dari Plered, Purwakarta. Sementara sekitar 2 juta genteng lainnya dipesan dari Jatiwangi, Kabupaten Majalengka.
Dengan skala pesanan tersebut, Program Gentengisasi sekaligus menjadi stimulus permintaan bagi industri genteng lokal.
Pemerintah berharap sentra produksi seperti Purwakarta, Majalengka, Kebumen, dan Yogyakarta dapat terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan material perumahan.
Program BSPS merupakan salah satu skema pemerintah untuk membantu masyarakat meningkatkan kualitas rumahnya.
Karena itu, penggunaan produk lokal dalam pengadaan material membuat program perumahan memiliki efek yang lebih luas. Selain memperbaiki hunian penerima bantuan, permintaan material juga dapat menggerakkan kegiatan ekonomi di daerah asal produk.
Program Gentengisasi dengan demikian tidak hanya berbicara mengenai jenis atap yang digunakan masyarakat.
Ada rantai produksi, standardisasi, distribusi, transportasi, hingga penyerapan tenaga kerja yang ikut bergerak ketika permintaan genteng meningkat.
Pemerintah mendorong UMKM agar mampu memenuhi standar yang dibutuhkan sehingga produknya dapat masuk ke pasar program perumahan dalam skala lebih besar.
Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi, akses pembiayaan, pendampingan, hingga sertifikasi SNI.
Sebelumnya, UPTD Sentra Keramik Plered mencatat terdapat puluhan perajin genteng di kawasan tersebut. Namun, untuk memenuhi target produksi 500 ribu genteng, hanya sebagian perajin yang dilibatkan dalam tahap awal program.
Bagi pemerintah, pengembangan sentra produksi menjadi bagian penting agar kebutuhan material perumahan dapat dipenuhi dari dalam negeri sekaligus memberi ruang bagi UMKM daerah untuk meningkatkan kapasitas.
Dengan pelepasan 125 truk tersebut, Program Gentengisasi mulai memperlihatkan dua sasaran yang berjalan bersamaan: mendorong hunian yang lebih nyaman dan memperluas pasar bagi industri genteng lokal.
Pemerintah selanjutnya perlu memastikan peningkatan permintaan tersebut diikuti kemampuan produksi, kualitas, dan distribusi agar manfaat program dapat terus dirasakan oleh pelaku usaha di daerah.