Minggu, 27 September 2026

Daftar Pendapatan Pekerja Informal di Sumut, Ini Daerah dengan Penghasilan Tertinggi

ari tanjung - Selasa, 07 Juli 2026 18:27 WIB
Daftar Pendapatan Pekerja Informal di Sumut, Ini Daerah dengan Penghasilan Tertinggi
Infografik pendapatan pekerja informal Sumatera Utara berdasarkan data BPS yang menunjukkan Kota Medan sebagai daerah berpenghasilan tertinggi dan sektor jasa sebagai penyumbang pendapatan terbesar.

Topikseru.com, Medan – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pendapatan bersih pekerja informal di Provinsi Sumatera Utara sepanjang 2025 mencapai Rp1.922.532 per bulan.

Meski demikian, besaran pendapatan tersebut masih menunjukkan kesenjangan yang cukup lebar antar kabupaten dan kota.

Data yang bersumber dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 memperlihatkan bahwa pekerja informal di wilayah perkotaan cenderung memperoleh penghasilan lebih tinggi dibandingkan daerah kepulauan maupun wilayah yang bergantung pada sektor pertanian.

Baca Juga:

Kota Medan Pimpin Pendapatan Pekerja Informal

Dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Utara, Kota Medan menjadi daerah dengan rata-rata pendapatan pekerja informal tertinggi, yakni mencapai Rp2.542.942 per bulan.

Pendapatan tersebut ditopang oleh kuatnya sektor jasa yang mencatat rata-rata penghasilan hingga Rp2.618.009, sekaligus menjadi salah satu yang tertinggi di provinsi ini.

Selain Medan, beberapa daerah dengan pendapatan pekerja informal tertinggi meliputi:

Daerah Rata-rata Pendapatan
Kota Medan Rp2.542.942
Kota Binjai Rp2.423.156
Kabupaten Karo Rp2.342.300
Labuhan Batu Selatan Rp2.269.200
Labuhan Batu Rp2.202.199
Kota Tanjung Balai Rp2.105.725
Simalungun Rp2.062.187
Labuhan Batu Utara Rp2.042.560
Deli Serdang Rp2.029.379
Padang Lawas Utara Rp2.023.149

Dominasi daerah perkotaan dan kawasan industri menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan, jasa, hingga konstruksi masih menjadi penopang utama pendapatan pekerja informal.

Wilayah Kepulauan Nias Masih Berpenghasilan Rendah

Sebaliknya, sejumlah daerah di Kepulauan Nias masih berada pada kelompok dengan pendapatan terendah.

Tiga daerah dengan rata-rata pendapatan pekerja informal paling rendah yakni:

  • Nias Barat: Rp881.134 per bulan
  • Nias Utara: Rp885.257 per bulan
  • Nias: Rp984.151 per bulan

Sementara Kota Gunungsitoli mencatat rata-rata pendapatan sebesar Rp1.106.101, sedangkan Nias Selatan sebesar Rp1.124.692.

Rendahnya pendapatan tersebut menunjukkan masih terbatasnya aktivitas ekonomi produktif di kawasan kepulauan dibandingkan wilayah perkotaan di Sumatera Utara.

Sektor Jasa Berikan Pendapatan Terbesar

Jika dilihat berdasarkan lapangan pekerjaan utama, sektor jasa menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi pekerja informal di Sumatera Utara.

Rata-rata pendapatan pekerja informal menurut sektor adalah:

  • Jasa: Rp2.149.730
  • Industri: Rp1.839.497
  • Pertanian: Rp1.681.527

Tingginya pendapatan sektor jasa dipengaruhi oleh berkembangnya perdagangan, transportasi, usaha akomodasi, komunikasi, hingga jasa perusahaan di berbagai daerah.

Sejumlah Daerah Menonjol di Sektor Tertentu

Meski bukan yang tertinggi secara keseluruhan, beberapa daerah mencatat performa menonjol pada sektor tertentu.

Di sektor pertanian, Kota Tanjung Balai mencatat rata-rata pendapatan mencapai Rp2.884.530, disusul Kota Tebing Tinggi sebesar Rp2.839.723 dan Labuhan Batu Selatan sebesar Rp2.403.501.

Pada sektor industri, Kabupaten Karo menjadi yang tertinggi dengan rata-rata pendapatan Rp2.577.355, diikuti Pakpak Bharat sebesar Rp2.556.722 dan Labuhan Batu Utara sebesar Rp2.469.674.

Sementara itu, sektor jasa mencatat pendapatan tertinggi di Kabupaten Humbang Hasundutan sebesar Rp2.878.222, disusul Kabupaten Karo sebesar Rp2.713.899, Simalungun sebesar Rp2.683.870, dan Kota Medan sebesar Rp2.618.009.

Gambaran Kondisi Ekonomi Daerah

Perbedaan pendapatan pekerja informal antarwilayah mencerminkan struktur ekonomi masing-masing daerah.

Kabupaten dan kota yang memiliki sektor perdagangan, industri, serta jasa yang berkembang cenderung menawarkan peluang pendapatan lebih tinggi dibandingkan daerah yang masih bergantung pada sektor primer.

Data ini juga menjadi indikator penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan peningkatan kesejahteraan pekerja informal melalui pengembangan usaha mikro, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta perluasan kesempatan kerja produktif.

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025.

Sumber
:
Berita Terkait
BMKG Ingatkan Sumut Diguyur Hujan Rabu, Sejumlah Perairan Berpotensi Gelombang 2,5 Meter
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Sumut: Hujan Petir dan Gelombang 4 Meter
BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Sumut: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Sabtu Ini
Pemprov Sumut Genjot Kawasan Unggulan Perikanan Tangkap & Budi Daya Integrasi Hulu-Hilir
BMKG Ungkap Potensi Hujan Meluas di Sumut 17 September, Banjir dan Longsor Mengintai
Banjir Rendam 7 Desa di Nias Barat, Ketinggian Air Capai 2 Meter