Topikseru.com -Sumatera Utara tidak hanya dikenal melalui Danau Toba, kuliner khas, dan keberagaman etnisnya. Provinsi ini juga memiliki beragam tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi, mulai dari pantun Melayu, permainan rakyat, hingga kesenian tradisional masyarakat Pakpak.
Di tengah perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi, upaya memperkenalkan kembali tradisi lokal menjadi penting. Sejumlah kesenian dan kebiasaan adat membutuhkan ruang belajar, pertunjukan, serta keterlibatan generasi muda agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dapat dipahami.
Persoalannya bukan berarti semua tradisi tersebut telah ditinggalkan. Sebagian masih dipraktikkan dan dilestarikan oleh komunitasnya. Namun, pengetahuan tentang makna, aturan, dan sejarahnya perlu terus diwariskan agar tidak berhenti pada sekadar nama atau pertunjukan.
Baca Juga:
Dalam tradisi Melayu, kemampuan berpantun berkaitan dengan kecakapan merangkai kata, memahami situasi, dan menyampaikan pesan secara santun. Pantun dapat hadir dalam pergaulan sehari-hari, kegiatan kebudayaan, maupun rangkaian acara adat.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pernah mengangkat pentingnya pelestarian pantun melalui Festival Dendang Pantun Melayu yang diselenggarakan di Medan pada Desember 2020. Dalam kegiatan tersebut, pantun dibahas sebagai bagian dari identitas masyarakat Melayu yang memuat cerita, pesan, dan nasihat.
Dokumentasi tersebut juga menyoroti kekhawatiran bahwa tradisi berpantun semakin bergeser dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, pengenalan pantun kepada anak muda dapat dilakukan melalui kegiatan sekolah, komunitas sastra, pertunjukan budaya, hingga konten digital.
Pantun memiliki peluang untuk diperkenalkan dengan cara yang dekat dengan kehidupan generasi sekarang tanpa menghilangkan kaidah dan nilai budaya yang mendasarinya.
Dokumentasi yang tersimpan di repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat tari tradisional Pakpak ini sebagai kesenian yang dahulu dikenal di wilayah Kabupaten Dairi. Catatan tersebut menjelaskan bahwa tarian itu memiliki kaitan dengan simbol heroisme terhadap musuh yang berhasil ditaklukkan.
Kajian mengenai Manganjaki Takal-Takal pernah diterbitkan pada 1993 melalui proyek pembinaan kesenian. Dalam deskripsinya, kesenian tersebut disebut menghadapi ancaman kepunahan pada masa penelitian dilakukan.
Catatan historis itu menjadi alasan penting untuk menelusuri kembali keberadaan tarian tersebut saat ini. Kondisi pada masa penelitian tidak serta-merta menggambarkan situasi terkini. Diperlukan konfirmasi kepada seniman Pakpak, tokoh adat, sanggar seni, dan instansi kebudayaan untuk mengetahui apakah tarian tersebut masih dipentaskan, siapa yang menguasainya, serta bagaimana proses pewarisannya berlangsung.
Penelusuran semacam ini juga dapat membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal kesenian daerah yang mungkin belum banyak mereka temui dalam pertunjukan sehari-hari.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui kegiatan Pekan Kebudayaan Daerah pada September 2023 menyoroti pentingnya menjaga permainan dan olahraga tradisional di tengah perkembangan era digital.
Permainan tradisional tidak hanya menghadirkan hiburan. Bergantung pada jenis permainannya, kegiatan tersebut dapat melatih koordinasi gerak, strategi, ketangkasan, serta kemampuan bekerja sama dengan orang lain.
Hadang, misalnya, dimainkan secara berkelompok dengan mengandalkan kecepatan dan strategi untuk melewati penjagaan lawan. Sementara itu, congklak mengandalkan perhitungan dan pengaturan langkah.
Meski permainan-permainan tersebut dikenal di berbagai daerah Indonesia, cara bermain, penyebutan, dan praktik lokalnya dapat berbeda. Karena itu, dokumentasi dari komunitas setempat penting agar variasi yang hidup di Sumatera Utara tidak tercampur dengan tradisi daerah lain.
Sekolah, sanggar, dan komunitas dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali permainan rakyat. Kegiatan tersebut juga dapat didokumentasikan dalam bentuk video, cerita bergambar, atau demonstrasi agar lebih mudah dipelajari generasi muda.
Tradisi bertelangkai dapat melibatkan penggunaan pantun dan bahasa yang disusun dengan memperhatikan kesantunan. Keterampilan tersebut membutuhkan pengalaman serta pengetahuan mengenai adat yang berlaku dalam komunitas terkait.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pernah menyoroti peran Himpunan Telangkai Pelestari Adat Melayu Sumatera Utara dalam menjaga keaslian adat Melayu. Dalam pemberitaan pada Juli 2022, tradisi telangkai juga disebut sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dipahami generasi berikutnya.
Di tengah perubahan pelaksanaan acara perkawinan, dokumentasi mengenai peran telangkai menjadi penting. Penelusuran langsung dapat mengungkap bagaimana seorang telangkai mempelajari keterampilannya, ungkapan apa yang masih digunakan, serta bagaimana praktik tersebut menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Pengenalan tradisi ini kepada anak muda bukan berarti setiap prosesi harus dilakukan dengan cara yang sama persis. Yang perlu dipahami adalah makna, tata krama, dan nilai budaya yang menjadi dasar pelaksanaannya.
Setiap komunitas memiliki kekayaan tradisi dengan latar sejarah, bahasa, serta praktik yang berbeda. Karena itu, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menyelenggarakan festival sesekali. Pengetahuan tentang tradisi juga perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Keluarga dapat mengenalkan cerita dan kebiasaan adat kepada anak-anak. Sekolah dapat menghadirkan pembelajaran berbasis budaya lokal, sedangkan sanggar dan komunitas dapat membuka ruang latihan bagi generasi muda yang ingin mempelajari kesenian tradisional.
Media juga memiliki peran dalam mendokumentasikan tradisi melalui tulisan, foto, dan video. Peliputan yang melibatkan pelaku budaya secara langsung dapat membantu masyarakat memahami bukan hanya bentuk tradisi, tetapi juga makna dan proses pewarisannya.
Di sisi lain, pelestarian perlu tetap menghormati masyarakat pemilik tradisi. Tidak semua unsur adat dapat dipisahkan dari konteksnya atau ditampilkan tanpa memperhatikan aturan yang berlaku di komunitas tersebut.
Tantangan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pengetahuan tersebut dapat terus dipelajari, dipraktikkan, dan dipahami oleh generasi berikutnya. Setiap tradisi memiliki kondisi yang berbeda sehingga upaya pelestariannya juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pemiliknya.
Mengenal tradisi lokal bukan semata-mata mengingat masa lalu. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan cara untuk memahami identitas masyarakat, menghargai keberagaman, dan memastikan bahwa pengetahuan budaya tetap memiliki tempat dalam kehidupan masa kini.
Semakin banyak tradisi yang didokumentasikan dengan baik dan diperkenalkan melalui ruang yang tepat, semakin besar kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan budaya daerahnya sendiri.