Topikseru.com - Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat modern, sejumlah kebiasaan leluhur masih bertahan di tengah masyarakat Sumatera Utara. Salah satunya adalah tradisi menyirih yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Karo, termasuk kebiasaan yang disebut menyuntil.
Bagi sebagian orang, kegiatan mengunyah sirih mungkin terlihat sederhana. Namun, dalam kehidupan masyarakat yang masih mempertahankannya, kebiasaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan bahan yang dikunyah, tetapi juga dengan interaksi sosial, kebersamaan, dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Penelitian berjudul Tradisi Menyirih (Man Belo) dan Maknanya bagi Masyarakat Karo di Desa Kutabuluh Kabupaten Karo yang diterbitkan dalam jurnal Sosial Khatulistiwa pada 2024 mengungkap bahwa tradisi menyirih memiliki fungsi sebagai sarana komunikasi, ekspresi kebersamaan, serta perwujudan nilai kehidupan masyarakat setempat.
Baca Juga:
Mengenal Kebiasaan Menyuntil dalam Masyarakat Karo
Menyirih atau dalam bahasa Karo dikenal dengan istilah man belo merupakan kebiasaan mengunyah campuran bahan tertentu yang umumnya melibatkan daun sirih, pinang, dan kapur sirih. Dalam praktiknya, bahan tambahan seperti gambir juga dapat digunakan.
Kebiasaan ini telah lama dikenal di berbagai komunitas Nusantara, termasuk masyarakat Karo di Sumatera Utara. Namun, bahan, cara penyajian, dan konteks penggunaannya dapat berbeda menurut kebiasaan keluarga maupun daerah.
Istilah menyuntil sendiri perlu dipahami sesuai konteks penggunaan masyarakat setempat. Tidak semua komunitas Batak memiliki istilah dan kebiasaan yang sama, sehingga tradisi ini lebih tepat dibahas dalam konteks masyarakat Karo apabila merujuk pada praktik man belo.
Bukan Hanya Kebiasaan, tetapi Juga Sarana Bersosialisasi
Salah satu hal yang membuat tradisi menyirih menarik adalah hubungannya dengan kehidupan sosial masyarakat.
Dalam lingkungan yang masih mempertahankan kebiasaan tersebut, menyirih dapat menjadi bagian dari waktu berkumpul, berbincang dengan keluarga, atau menjalin hubungan dengan orang lain.
Aktivitas ini memungkinkan orang berbagi cerita dan membangun kedekatan dalam suasana santai. Karena itu, makna tradisi menyirih tidak cukup dilihat dari bahan-bahan yang digunakan, tetapi juga dari hubungan sosial yang terbentuk di sekitarnya.
Penelitian di Desa Kutabuluh, Kabupaten Karo, menunjukkan bahwa kebiasaan man belo memiliki makna sosial dan budaya yang berkaitan dengan komunikasi serta kebersamaan. Temuan ini memperlihatkan bahwa kebiasaan sehari-hari pun dapat menjadi bagian penting dari identitas suatu komunitas.
Mengapa Tradisi Ini Masih Bertahan?
Keberadaan tradisi menyirih di tengah perubahan zaman menunjukkan bahwa kebiasaan budaya dapat bertahan melalui proses pewarisan dalam keluarga dan lingkungan sosial.
Bagi sebagian orang yang telah terbiasa melakukannya sejak lama, menyirih bukan sekadar aktivitas sesaat, melainkan bagian dari rutinitas dan pengalaman hidup.
Meski demikian, praktiknya tidak selalu sama antargenerasi. Perubahan gaya hidup, pola pergaulan, serta pandangan generasi muda terhadap kebiasaan tradisional dapat memengaruhi keberlangsungan tradisi ini.
Penelitian mengenai eksistensi budaya menyirih masyarakat Karo yang tersimpan di repositori Universitas Gadjah Mada juga membahas adanya pergeseran makna dan praktik menyirih seiring perubahan sosial. Artinya, pelestarian tradisi tidak selalu berarti mempertahankan seluruh kebiasaan tanpa perubahan, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Menjaga Warisan Budaya Tanpa Mengabaikan Kesehatan
Membicarakan tradisi menyuntil atau menyirih juga perlu disertai pemahaman mengenai kesehatan. Kebiasaan budaya dapat dihargai sebagai bagian dari warisan masyarakat, tetapi hal tersebut tidak otomatis berarti semua bahan yang digunakan aman bagi tubuh.
Risiko kesehatan bergantung pada bahan dan cara penggunaannya. Penggunaan tembakau, misalnya, membawa risiko tambahan. Sementara itu, kapur sirih dan campuran tertentu juga dapat menimbulkan iritasi apabila digunakan secara tidak tepat.
Karena itu, pembahasan mengenai tradisi ini sebaiknya tidak mengulang anggapan bahwa menyirih pasti menyehatkan gigi atau mulut tanpa dukungan bukti ilmiah yang memadai.
Pelestarian budaya dapat dilakukan melalui dokumentasi, cerita para tetua, penelitian, dan edukasi kepada generasi muda. Dengan begitu, masyarakat dapat mengenal asal-usul dan makna tradisi sekaligus memahami aspek kesehatan yang perlu diperhatikan.
Menyuntil, Bagian dari Cerita Budaya Karo
Tradisi menyuntil dalam konteks kebiasaan menyirih masyarakat Karo memperlihatkan bagaimana praktik sederhana dapat berkaitan dengan ingatan kolektif, hubungan sosial, dan identitas budaya.
Di tengah perubahan zaman, dokumentasi mengenai tradisi seperti man belo menjadi penting agar pengetahuan tentang kehidupan masyarakat Karo tidak hilang begitu saja.
Mengenali tradisi leluhur bukan hanya tentang mengetahui apa yang dilakukan orang-orang terdahulu, tetapi juga memahami konteks, nilai, dan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.