Topikseru.com -Hujan deras yang mengguyur Kota Medan sejak Rabu malam hingga Kamis dini hari, 29 Oktober 2026, menyebabkan banjir di sejumlah kawasan permukiman. Luapan Sungai Deli, Sungai Babura, dan Sungai Belawan membuat sejumlah rumah warga terendam, termasuk di kawasan Kampung Aur, Kecamatan Medan Maimun.
Banjir kali ini berdampak pada empat kecamatan di Kota Medan. Berdasarkan laporan Sumut Pos pada Kamis pagi, ketinggian air di sejumlah titik mencapai 1 hingga 1,5 meter. Kelurahan Aur dan Sei Mati menjadi bagian dari kawasan Medan Maimun yang terdampak genangan cukup tinggi.
Kampung Aur Kembali Terendam Banjir
Baca Juga:
Kampung Aur merupakan salah satu kawasan permukiman di bantaran Sungai Deli yang berulang kali menghadapi banjir ketika debit sungai meningkat.
Pada Kamis, 29 Oktober 2026, air kembali merendam kawasan tersebut setelah hujan deras mengguyur Medan dan sekitarnya. Luapan sungai membuat warga harus menghadapi genangan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Selain Kelurahan Aur, banjir di Kecamatan Medan Maimun juga melanda Sei Mati, Kampung Baru, dan Hamdan. Wilayah lain yang terdampak meliputi Tanjung Selamat di Medan Selayang, Gedung Johor dan Kwala Bekala di Medan Johor, serta Tanjung Gusta di Medan Helvetia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa banjir tidak hanya berdampak pada satu kawasan, tetapi juga sejumlah permukiman di berbagai kecamatan di Kota Medan.
Ratusan Warga Terpaksa Mengungsi
Berdasarkan laporan Sumut Pos yang mengutip Kepala BPBD Kota Medan, Yunita Sari, sebanyak 562 warga mengungsi akibat banjir pada Kamis pagi. Dari jumlah tersebut, 22 orang dievakuasi petugas dari rumah mereka karena kondisi air membahayakan.
Para pengungsi terdiri atas 39 balita, 170 anak-anak, 270 orang dewasa, 82 lanjut usia, dan satu penyandang disabilitas.
Sementara itu, laporan IDN Times Sumut pada hari yang sama menyebut jumlah pengungsi mencapai 617 orang di 10 titik penampungan. Perbedaan angka ini menunjukkan bahwa pendataan masih dapat berubah seiring proses evakuasi dan pembaruan informasi di lapangan.
Petugas BPBD terus melakukan penanganan terhadap warga terdampak serta menyalurkan bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Mengapa Kampung Aur Sering Terendam?
Banjir di Kampung Aur berkaitan dengan posisinya yang berada di sekitar aliran Sungai Deli. Ketika hujan deras meningkatkan debit air di daerah hulu, air sungai dapat meluap dan masuk ke kawasan permukiman.
Kondisi tersebut membuat warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai menghadapi risiko banjir berulang, terutama ketika curah hujan tinggi berlangsung dalam waktu lama.
Karena itu, penanganan banjir membutuhkan upaya yang tidak hanya berfokus pada evakuasi saat bencana terjadi, tetapi juga pengelolaan sungai, sistem drainase, pengurangan risiko di kawasan rawan, dan kesiapsiagaan masyarakat.
Warga Diminta Tetap Waspada
Di tengah kondisi banjir, warga di kawasan rawan diminta memantau informasi cuaca dan mengikuti arahan petugas. Masyarakat juga perlu menyiapkan dokumen penting, obat-obatan, serta kebutuhan darurat agar lebih mudah dibawa ketika evakuasi diperlukan.
Warga sebaiknya tidak menerobos arus banjir yang deras dan menghindari instalasi listrik yang terendam air. Jika air terus naik, keselamatan harus menjadi prioritas dengan segera menuju lokasi yang lebih aman.
Banjir yang kembali melanda Kampung Aur menjadi pengingat bahwa risiko banjir di Medan masih perlu ditangani secara serius. Selain respons darurat, langkah pencegahan dan penanganan jangka panjang dibutuhkan agar warga tidak terus menghadapi ancaman serupa setiap kali hujan deras melanda.