Minggu, 11 Oktober 2026

Kurs Melemah 0,58% Tersungkur di Level Rp17.965 per Dolar AS Pagi Ini

Mhd Rabbani - Rabu, 24 Juni 2026 11:08 WIB
Kurs Melemah 0,58% Tersungkur di Level Rp17.965 per Dolar AS Pagi Ini
Kurs Rupiah
Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (24/6/2026) pagi kurs rupiah melemah berada di level Rp 17.965 per dolar Amerika Serikat (AS). Di mana kurs rupiah melemah 0,58% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.859 per dolar AS. Di Asia, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS pagi ini. Tapi kurs rupiah memimpin pelemahan mata uang Asia terhadap dolar AS dengan pelemahan 0,58%, disusul baht Thailand yang melemah 0,43%. Peso Filipina melemah 0,36%, won Korea melemah 0,18%, dolar Taiwan melemah 0,10%, ringgit Malaysia melemah 0,10% dan dolar Singapura melemah 0,03% terhadap dolar AS. Sedangkan mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini. Yuan China menguat 0,01%, yen Jepang menguat 0,006% dan dolar Hong Kong menguat 0,004% terhadap dolar AS. Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 101,41, naik dari sehari sebelumnya yang ada di 101,40.

Analis Pasar: Pergerakan Kurs Rupiah Dipengaruhi Sentimen Pengumumam MSCI

Sementara, menurut Chief Analyst Doo Financial Future, Lukman Leong mengatakan, rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off domestik, dengan investor cenderung berhati – hati mengantisipasi pengumuman MSCI dalam 1 hari sampai 2 hari ke depan. Mata uang Asia juga pada umumnya melemah dan indeks dolar AS naik, dengan investor merespon negatif perkembangan seputar prospek perdamaian di timteng yang permanen. “Rupiah mungkin masih akan tertekan selama sebelum pengumuman MSCI,” ujar Lukman. Lukman menambahkan, pergerakan rupiah dipengaruhi sentimen pengumumam MSCI. Investor juga akan terus memantau perkembangan seputar pembicaraan damai AS-Iran, dan situasi di Lebanon. Sedangkan, Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi melihat pergerakan rupiah melemah seiring dengan potensi meningkatnya inflasi. Hal ini setelah Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya kenaikan pada jenis Pertamax dan Pertamax Turbo, akan memberikan andil terhadap peningkatan inflasi nasional. Menurutnya, tantangan utama berasal dari rambatan global berupa transmisi harga minyak dan harga komoditas ke dalam negeri, atau yang lazim disebut sebagai imported inflation. Sentimennya Faktor rambatan global tersebut secara langsung berdampak pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), seperti yang tercermin dari kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi baru-baru ini. Faktor risiko kedua yang tengah diwaspadai adalah potensi gangguan cuaca. Fenomena El Nino diperkirakan akan melanda Indonesia pada periode akhir Juni hingga Oktober atau November mendatang. Kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi memberikan tekanan pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food).

Sumber
:
Berita Terkait
Harga Emas Dunia Tertekan, Tembus Level Terendah 2 Bulan karena Dolar dan The Fed
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
Pergerakan Valas Masih Dipengaruhi Divergensi Bank Sentral dan Geopolitik
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Terseret di Level Rp17.779 per Dolar AS Pagi Ini