Topikseru.com, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (15/7/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di pasar spot.
Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,13% secara harian ke Rp 18.068 per dolar AS.
Sementara, data Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,19% secara harian ke Rp 18.064 per dolar AS.
Menanggapi hak tersebut, Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah terjadi karena data indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) AS meleset dari perkiraan, turun dari 4,2% menjadi 3,5% secara year on year (yoy) dan berada di bawah proyeksi perlambatan sebesar 3,8%.
Kondisi ini menjadi indikasi bahwa kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed saat ini tidak diperlukan.
Sementara itu, inflasi inti turun dari 2,9% menjadi 2,6%, juga di bawah perkiraan sebesar 2,8%.
“Para pedagang mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” ucap Ibrahim.
Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli turun menjadi 16% dari 40%, sementara peluang kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 60% dari 74%.
Meski begitu, Ibrahim memperkirakan rupiah besok bergerak melemah karena sentimen kebijakan fiskal.
Sebab, berdasarkan outlook pemerintah, defisit APBN tahun 2026 diproyeksikan melebar menjadi Rp 734,32 triliun.
Sejalan dengan itu, kebutuhan pembiayaan anggaran juga meningkat, dengan pembiayaan utang neto diperkirakan mencapai Rp 868,12 triliun.
Selain itu, perkembangan eskalasi geopolitik di Timur Tengah juga turut memengaruhi pergerakan rupiah hari ini.
Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah pada Kamis (16/7/2026) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 18.060–Rp 18.110 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, juga mengatakan rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS, didukung oleh data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan.
Hal itu memicu menurunnya ekspektasi pasar terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga.
“Rupiah juga masih didukung oleh dipertahankannya peringkat kredit Indonesia oleh S&P. Penguatan terbatasi oleh memanasnya geopolitik di Timur Tengah dan naiknya harga minyak mentah dunia,” ujar Lukman.
Adapun, untuk hari ini (16/7/2026), Lukman menyebut investor akan kembali menantikan data inflasi tingkat produsen di AS, yang apabila juga berada di bawah ekspektasi, akan kembali mendukung rupiah.
Lukman memproyeksikan rupiah hari ini (16/7) bergerak di kisaran Rp 18.000–Rp 18.100 per dolar AS.
Berita Terkait