Rabu, 23 September 2026

Analis Pasar: Pergerakan Pasar Kripto Masih Dibayangi Sentimen Makroekonomi

Mhd Rabbani - Selasa, 01 September 2026 08:38 WIB
Analis Pasar: Pergerakan Pasar Kripto Masih Dibayangi Sentimen Makroekonomi
Pergerakan Pasar Kripto
Topikseru.com, Jakarta - Analis Pasar memperkirakan pergerakan pasar kripto masih dibayangi sentimen makroekonomi di pasar spot. Sementara itu, katalis fundamental yang berpotensi menjadi penggerak harga Bitcoin dan Ether dinilai masih minim. Kondisi tersebut membuat investor perlu lebih selektif dalam memilih aset kripto, terutama di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi. Berdasarkan data CoinMarketCap per Senin (31/8/2026) pukul 20.08 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 78.029, turun 0,88% dalam 24 jam dan melemah 1,30% dalam sepekan. Sementara itu, harga Ether berada di level US$ 2.454. Harga aset kripto tersebut turun 0,51% dalam 24 jam dan terkoreksi 2,13% dalam sepekan. Co-Founder CryptoWatch sekaligus Pengelola Channel Duit Pintar Christopher Tahir mengatakan, Bitcoin dan Ether masih layak menjadi perhatian investor. “Menurut saya, keduanya layak untuk diperhatikan. Namun, untuk investor pada umumnya, tidak disarankan untuk melirik koin yang lebih kecil, dikarenakan dapat mengekspos risiko yang terlalu besar,” kata Christopher.

Masih Bergantung Sentimen Makro

Christopher mengatakan, pergerakan harga Bitcoin dan Ether saat ini masih sangat dipengaruhi perkembangan faktor makroekonomi. Menurutnya, belum terdapat katalis fundamental yang cukup kuat untuk mendorong pergerakan harga kedua aset kripto tersebut secara signifikan. “Untuk saat ini, belum ada katalis yang mendasar yang dapat menggerakkan harga keduanya. Sehingga, saat ini penggerak utamanya hanya berdasarkan faktor makro, yaitu harapan ataupun ekspektasi suku bunga untuk The Fed nantinya,” jelasnya. Karena itu, perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan investor. Di sisi lain, ruang koreksi harga Bitcoin dan Ether masih terbuka apabila muncul sentimen negatif yang mampu mengubah persepsi pasar secara fundamental. “Koreksi lebih dalam dapat terjadi jika adanya faktor negatif yang secara fundamental dapat mengubah sentimen pasar secara umum,” ujarnya. Dalam menghadapi kondisi pasar yang masih fluktuatif, Christopher menyarankan investor menerapkan strategi dollar-cost averaging (DCA). Melalui strategi tersebut, investor membeli aset secara bertahap dalam beberapa periode sehingga tidak terlalu bergantung pada satu titik harga. Strategi ini dinilai dapat membantu investor menghadapi volatilitas pasar sekaligus mengurangi risiko masuk pada harga yang kurang menguntungkan. Meski demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan profil risiko dan kondisi pasar sebelum menentukan alokasi investasi. Untuk prospek hingga akhir 2026, Christopher memperkirakan harga Bitcoin masih berpotensi mengalami koreksi hingga kembali ke kisaran US$ 50.000. Sementara itu, harga Ether diperkirakan berpotensi kembali turun di bawah level US$ 2.000.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
The Fed Kerek Suku Bunga 25 Bps, Tokocrypto Peringatkan Risiko Pasar Kripto
Harga Bitcoin Naik 4,97% Bertengger di level US$81.077 per Koin Didorong Pelemahan Dolar AS
Harga Bitcoin Melorot 0,2 Persen Tersudut di Level U$D77.132,6
Harga Kripto Mayoritas Menguat di Perdagangan Selasa (1/9/2026): Bitcoin Menguat 1,44% dan Ethereum 2,13%
Harga Kripto Bergerak di Zona Merah di Perdagangan Senin, (31/8/2026): Hyperliquid (HYPE) dan Solana (SOL) Memimpin koreksi
Harga Bitcoin Naik 0,30% Bersandar di Level US$77.471,07 atau Rp1,36 Miliar