Kamis, 24 September 2026

Nilai Tukar Rupiah Terdepresiasi 31 Poin Dipicu Indikator Ekonomi AS

Mhd Rabbani - Sabtu, 12 September 2026 09:17 WIB
Nilai Tukar Rupiah Terdepresiasi 31 Poin Dipicu Indikator Ekonomi AS
Nilai Tukar Rupiah
Topikseru.com, Jakarta - Berdasarkan data yang dilansir daro Bloomberg pada Jumat (11/9/2026), nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.611 per dolar AS atau melemah 64 poin (0,36%) dibandingkan hari sebelumnya. Secara mingguan, nilai tukar rupiah terdepresiasi 31 poin (0,18%) dibandingkan posisi Jumat (4/9/2026) yang berada di level Rp 17.642 per dolar AS. Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan volatilitas pada pekan depan. Pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat (AS). Terutama data inflasi, di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah berada di level Rp 17.611 per dolar AS pada Jumat (11/9/2026). Posisi tersebut melemah 75 poin (0,43%) dari Rp 17.536 per dolar AS pada Kamis (10/9), serta terdepresiasi 25 poin (0,14%) dibandingkan posisi Jumat (4/9) sebesar Rp 17.636 per dolar AS. Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa menjelaskan, pergerakan rupiah sepanjang pekan ini dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed. Rilis data ketenagakerjaan AS serta Indeks Harga Produsen (PPI) Agustus yang melonjak hingga 5,4% year-on-year (YoY) mengindikasikan tekanan inflasi eksternal yang masih persisten. Kondisi tersebut mendorong pasar memperhitungkan potensi kebijakan suku bunga AS yang lebih ketat sekaligus menjaga yield US Treasury tetap tinggi. "Kondisi tersebut mendorong pasar untuk memperhitungkan kebijakan The Fed yang lebih ketat dan menjaga yield US Treasury tetap tinggi," kata Amru. Meski demikian, tekanan terhadap rupiah masih dapat diredam oleh sejumlah indikator ekonomi domestik yang relatif solid. Ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga minyak global menjadi faktor eksternal yang membebani mata uang Garuda, tetapi kondisi tersebut diimbangi oleh sentimen positif dari pasar domestik. Salah satu penopang rupiah berasal dari masuknya aliran dana asing ke pasar obligasi pemerintah. Arus modal tersebut didukung oleh tingkat imbal hasil aset domestik yang dinilai kompetitif serta persepsi positif investor terhadap kondisi fiskal Indonesia. Sentimen domestik juga mendapat dukungan dari meningkatnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 yang mencapai level 118,5. Kenaikan tersebut mencerminkan optimisme konsumen yang masih terjaga dan menjadi salah satu faktor yang dapat menopang sentimen terhadap perekonomian nasional. Di sisi lain, Amru menyebut pelemahan indeks dolar AS (DXY) pada beberapa sesi perdagangan turut memberikan ruang bagi rupiah untuk mengalami penguatan. Namun, arah rupiah pada pekan depan masih akan sangat bergantung pada perkembangan pasar global. Salah satu perhatian utama investor adalah rilis data Consumer Price Index (CPI) atau inflasi AS yang akan keluar menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 15–16 September 2026. Selain data inflasi AS, pelaku pasar akan mencermati pergerakan arus modal asing serta langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia untuk menjaga nilai tukar rupiah. Amru memperkirakan rupiah pada pekan depan masih bergerak volatil dengan rentang Rp 17.400 hingga Rp 17.700 per dolar AS.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,16% Dibuka di Level Rp17.876 per Dolar AS Pagi Ini
Analis Pasar: IHSG Masih Rawan Koreksi dengan Support di 6.370 dan Resistance 6.406
Analis Pasar: Nilai Tukar Rupiah Masih akan Bergerak Fluktuatif di Kisaran Rp17.840-Rp17.900 per Dolar AS
Nilai Tukar Rupiah Masih Loyo Tersungkur di Level Rp 17.827 per Dolar AS Siang Ini
IHSG Dibuka Melemah 23,43 Poin, Hanya 4 Indeks Sektoral yang Selamat ke Zona Hijau
Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,12% Terseret di Level Rp17.779 per Dolar AS Pagi Ini