Topikseru.com - Ambisi Elon Musk menghadirkan film epik The Odyssey menggunakan kecerdasan buatan (AI) justru berujung kontroversi. Karya yang dibuat melalui Grok Imagine itu mendapat kritik dari warganet karena dinilai memiliki gerakan karakter yang janggal, alur cerita berantakan, hingga kehilangan sentuhan emosional yang menjadi ciri khas sinema.
Serial episode perdana yang dirilis pada akhir Oktober 2026 tersebut berdurasi sekitar tujuh menit. Proyek ini diklaim diproduksi sepenuhnya menggunakan Grok Imagine, dengan melibatkan Wonder Studios dan sutradara Dev Walker yang dikenal menggarap produksi berbasis AI.
Peluncuran itu sekaligus menjadi jawaban atas tantangan yang sebelumnya dilontarkan Musk pada Juli lalu. Saat film The Odyssey garapan Christopher Nolan mendapat perhatian publik, Musk menyatakan AI miliknya mampu membuat versi yang lebih akurat secara historis dan setia pada karya sastra Homer.
Baca Juga:
Namun, hasil akhirnya justru memantik perdebatan baru tentang kemampuan AI dalam menghasilkan karya sinematik yang bukan hanya terlihat realistis, tetapi juga memiliki cerita, karakter, dan jiwa artistik.
"Sebagai produk artistik, hasilnya sama buruknya seperti yang bisa diperkirakan," tulis seorang pengguna X dengan akun @kristofvrek, yang mengkritik detail visual, tempo cerita, dan dialog dalam serial tersebut.
Pengguna lain, @PaulDurdle, juga menyoroti kontras antara kritik Musk terhadap film Nolan dan hasil produksi AI yang diluncurkannya sendiri.
Menurut pengguna tersebut, Musk sebelumnya mempersoalkan akurasi historis karya Nolan, tetapi versi Grok Imagine justru dianggap masih mengandung banyak ketidakakuratan.
Kritik tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan sekadar kemampuan AI menghasilkan gambar bergerak. Penonton juga menilai konsistensi cerita, ketepatan detail, dan cara adegan disusun agar terasa masuk akal.
Alih-alih tampil sebagai film berdurasi panjang seperti yang dijanjikan, proyek yang dirilis sejauh ini hadir dalam format episodik dengan episode pembuka sekitar tujuh menit.
Aspek narasi juga menjadi sasaran kritik. Sebagian penonton menilai alur cerita tidak tertata dengan baik, sementara dialog dan tempo adegan dinilai belum mampu membangun ketegangan maupun keterlibatan emosional.
Komentar tersebut menyoroti tantangan yang masih dihadapi teknologi generatif dalam produksi audiovisual. Sebuah sistem AI dapat menghasilkan gambar, karakter, dan adegan berdasarkan instruksi, tetapi hasil yang tampak meyakinkan secara visual belum tentu membentuk cerita yang koheren.
Dalam film epik seperti The Odyssey, konsistensi karakter, hubungan antarkejadian, suasana, serta penggambaran dunia mitologi menjadi unsur penting. Ketika elemen-elemen itu tidak terhubung dengan baik, hasilnya dapat terasa seperti kumpulan adegan, bukan sebuah kisah utuh.
Meski demikian, kritik warganet merupakan penilaian terhadap karya yang dirilis, bukan bukti bahwa teknologi AI secara keseluruhan tidak mampu digunakan dalam produksi film.
Dikutip dari Variety, Derrickson menulis melalui akun X pribadinya bahwa Musk tidak memahami sinema dan menilai pandangannya mengenai seni tidak layak diperhitungkan.
Unggahan tersebut menambah panjang perdebatan mengenai posisi AI dalam industri film. Persoalan yang muncul bukan hanya mengenai kecanggihan perangkat lunak, tetapi juga tentang pemahaman terhadap bahasa visual, penyutradaraan, dan proses kreatif.
Namun, unggahan Derrickson itu dilaporkan sudah tidak ditemukan saat ditelusuri KompasTekno. Karena itu, konteks lengkap pernyataannya perlu dibaca dengan mempertimbangkan keterbatasan akses terhadap unggahan asli.
Kritik dari seorang sutradara juga tidak serta-merta menjadi penilaian objektif terhadap seluruh teknologi AI. Meski begitu, komentar tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk menggantikan atau mengubah proses kreatif masih menjadi isu yang sensitif di kalangan pekerja film.
Film yang diadaptasi dari puisi epik Yunani kuno karya Homer itu menjadi proyek layar lebar Nolan setelah Oppenheimer, film yang dirilis pada 2023 dan meraih penghargaan Academy Award untuk kategori Film Terbaik.
Sejumlah publikasi memberikan penilaian tinggi terhadap karya tersebut. The Telegraph menyebutnya sebagai film terbaik tahun ini, sedangkan Metro menilai film itu berpotensi membawa perubahan besar bagi dunia perfilman.
The Times menggambarkannya sebagai mahakarya, sementara Standard memuji skala produksinya yang megah.
Film Nolan juga didukung produksi berskala besar. Karya tersebut direkam menggunakan kamera IMAX dengan anggaran sekitar US$250 juta atau setara Rp 4,5 triliun berdasarkan perkiraan konversi yang dicantumkan dalam laporan.
Deretan pemerannya mencakup Matt Damon, Zendaya, Tom Holland, Robert Pattinson, Anne Hathaway, Charlize Theron, dan Lupita Nyong'o.
Perbedaan sambutan terhadap kedua proyek itu memperlihatkan bahwa besarnya ambisi teknologi tidak otomatis menentukan penerimaan penonton. Kualitas cerita, penyutradaraan, akting, dan pengalaman sinematik tetap menjadi unsur yang dinilai ketika sebuah film dirilis.
Kepulangannya menjadi semakin mendesak karena istri dan putranya menanti di rumah. Sementara Odysseus masih terjebak dalam perjalanan, Antinous digambarkan sebagai tokoh antagonis yang mengincar sang ratu.
Kisah tersebut berasal dari puisi epik yang secara tradisional dikaitkan dengan Homer dan telah menjadi salah satu karya penting dalam tradisi sastra Yunani kuno.
Mengadaptasi cerita semacam ini ke layar lebar membutuhkan lebih dari sekadar menghadirkan latar kuno dan makhluk mitologis.
Film perlu membangun perjalanan karakter, konflik, serta hubungan emosional agar kisah yang telah dikenal selama berabad-abad tetap terasa relevan bagi penonton modern.
Di sinilah perdebatan mengenai versi AI menjadi menarik. Teknologi dapat membantu membangun dunia visual, tetapi keberhasilan sebuah adaptasi juga bergantung pada bagaimana unsur-unsur cerita dirangkai menjadi pengalaman yang utuh.
Kemampuan menciptakan visual bergerak merupakan salah satu bagian dari produksi, sedangkan menyusun cerita yang kuat membutuhkan konsistensi dari awal hingga akhir.
Kritik terhadap The Odyssey versi Grok Imagine juga memperlihatkan bahwa klaim mengenai akurasi historis perlu diuji melalui hasil karya, bukan hanya janji pengembangnya.
Di sisi lain, perkembangan AI tetap membuka peluang untuk membantu proses pembuatan film, mulai dari pengembangan konsep visual hingga pembuatan adegan tertentu.
Penggunaannya dapat menjadi alat bantu bagi pembuat film, meskipun penerapan dan hasil akhirnya akan bergantung pada teknologi, arahan kreatif, serta proses penyuntingan.
Kontroversi ini pada akhirnya menempatkan Musk pada posisi yang menantang: membuktikan bahwa Grok Imagine tidak hanya mampu menghasilkan gambar bergerak, tetapi juga dapat mendukung karya dengan cerita yang kuat dan kualitas artistik yang meyakinkan.
Untuk saat ini, kritik terhadap episode perdana The Odyssey versi AI menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi belum cukup untuk menjamin sebuah karya diterima sebagai sinema yang berhasil.