Rabu, 28 Oktober 2026

Motor Listrik Diklaim Lebih Hemat hingga 70 Persen, Benarkah Setelah Harga Beli dan Baterai Dihitung?

Rizky Aisyah - Rabu, 28 Oktober 2026 16:27 WIB
Motor Listrik Diklaim Lebih Hemat hingga 70 Persen, Benarkah Setelah Harga Beli dan Baterai Dihitung?
Motor listrik menawarkan biaya pengisian daya yang relatif rendah. Namun, harga pembelian, skema kepemilikan baterai, dan intensitas penggunaan tetap menentukan apakah kendaraan ini lebih ekonomis dalam jangka panjang.

Topikseru.com -Motor listrik semakin dilirik sebagai alternatif kendaraan harian karena biaya pengisian daya lebih rendah dibandingkan pengeluaran untuk membeli bensin. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto menyebut penggunaan motor listrik berpotensi menghemat pengeluaran hingga 50–70 persen dibandingkan motor berbahan bakar bensin.

Namun, benarkah motor listrik selalu lebih murah? Jawabannya bergantung pada cara menghitungnya. Penghematan biaya energi memang bisa besar, tetapi harga pembelian kendaraan, biaya sewa baterai, perawatan, dan masa pemakaian juga menentukan apakah motor listrik benar-benar lebih ekonomis.

Laporan OtoRider pada 20 Agustus 2026 membandingkan biaya penggunaan motor bensin kelas 160 cc dengan motor listrik Polytron Fox 350. Dalam simulasi tersebut, perjalanan ditetapkan sejauh 60 kilometer per hari selama 22 hari kerja setiap bulan.

Baca Juga:

Dengan asumsi konsumsi motor bensin 40 kilometer per liter dan harga Pertamax Rp 15.950 per liter, pengeluaran bahan bakar mencapai sekitar Rp 526.350 per bulan atau Rp 6,32 juta per tahun.

Sementara itu, kalkulator biaya Polytron memperkirakan pengeluaran tahunan Fox 350 sebesar Rp 699.440, termasuk biaya pengisian daya dan perpanjangan STNK dalam simulasi tersebut.

Artinya, terdapat selisih sekitar Rp 5,62 juta per tahun. Namun, perhitungan ini merupakan simulasi biaya operasional, bukan perbandingan menyeluruh atas seluruh biaya kepemilikan kendaraan.

1. Biaya Cas Memang Lebih Murah daripada Beli Bensin

Salah satu keunggulan utama motor listrik adalah biaya energi per kilometer yang relatif rendah.

Pemilik motor bensin harus membeli bahan bakar secara berkala. Besarnya pengeluaran bergantung pada jarak tempuh, konsumsi bahan bakar kendaraan, serta harga bensin yang digunakan.

Sebaliknya, pemilik motor listrik yang mengisi baterai di rumah membayar energi berdasarkan konsumsi listrik. Selama tarif listrik dan pola penggunaan tidak berubah secara drastis, biaya pengisian daya dapat diperkirakan dengan lebih mudah.

Perbedaan ini paling terasa bagi orang yang menggunakan motor setiap hari untuk bekerja, berdagang, mengantar barang, atau menempuh perjalanan rutin dalam jarak cukup jauh.

Semakin besar jarak yang ditempuh, semakin besar pula potensi penghematan biaya energi. Sebaliknya, orang yang hanya menggunakan motor sesekali tidak selalu memperoleh manfaat finansial sebesar pengguna dengan mobilitas tinggi.

2. Harga Beli Bisa Mengurangi Penghematan

Biaya pengisian daya yang murah tidak otomatis membuat motor listrik lebih ekonomis sejak hari pertama.

Calon pembeli harus membandingkan harga motor listrik dengan motor bensin yang memiliki fungsi, kelas, dan kebutuhan penggunaan sebanding.

Harga pembelian juga dipengaruhi oleh model kendaraan, kapasitas baterai, jarak tempuh, serta apakah baterai sudah termasuk dalam harga atau menggunakan sistem sewa.

Sebagai gambaran, laporan EVKita pada Oktober 2026 mencatat perbedaan harga Polytron Fox 350 dengan skema sewa baterai dan pembelian baterai sekaligus. Harga yang dicantumkan masing-masing sekitar Rp 16,5 juta dan Rp 28,5 juta, berdasarkan pantauan harga Agustus 2026.

Selisih Rp 12 juta tersebut memperlihatkan bahwa pilihan kepemilikan baterai dapat memengaruhi biaya awal secara signifikan. Harga aktual dapat berubah, sehingga calon pembeli perlu memeriksa penawaran terbaru dari produsen atau dealer.

3. Baterai Menjadi Faktor Penting dalam Perhitungan

Baterai merupakan salah satu komponen utama yang perlu diperhitungkan sebelum membeli motor listrik.

Dalam penggunaan jangka panjang, kapasitas baterai dapat menurun. Jika baterai dimiliki sendiri, pembeli perlu memperhatikan masa garansi, ketentuan penggantian, dan potensi biaya ketika kapasitasnya sudah tidak memadai.

Sebagian produsen menawarkan sistem sewa baterai. Melalui skema ini, harga awal kendaraan bisa lebih rendah karena konsumen tidak harus membeli baterai sekaligus.

ANTARA melaporkan pada 28 September 2026 bahwa biaya sewa baterai dari sejumlah merek berada pada kisaran Rp 84.000 hingga Rp 250.000 per bulan, bergantung pada merek, model, jumlah baterai, dan ketentuan layanan.

Jika biaya sewa Rp 200.000 per bulan, misalnya, total pembayaran mencapai Rp 2,4 juta selama satu tahun atau Rp 12 juta selama lima tahun. Biaya tersebut harus ditambahkan ke pengeluaran lain seperti listrik, servis, dan pajak kendaraan.

Namun, sewa baterai juga dapat memberikan keuntungan. Pada program tertentu, produsen atau penyedia layanan menanggung penggantian baterai berdasarkan syarat yang berlaku. Konsumen perlu memeriksa secara rinci apa saja yang termasuk dalam biaya langganan.

4. Motor Listrik Punya Keunggulan dalam Perawatan

Motor listrik memiliki sistem penggerak yang lebih sederhana dibandingkan mesin pembakaran internal. Kendaraan ini tidak memerlukan penggantian oli mesin dan sejumlah komponen yang terdapat pada motor bensin.

Hal tersebut dapat mengurangi beberapa jenis pengeluaran perawatan rutin. Meski begitu, motor listrik tetap membutuhkan pemeriksaan ban, rem, suspensi, sistem kelistrikan, dan komponen lain sesuai rekomendasi produsen.

Biaya perawatan aktual juga berbeda menurut model, kondisi jalan, intensitas penggunaan, dan ketersediaan bengkel resmi.

Karena itu, perbandingan yang adil perlu menghitung biaya servis kedua kendaraan berdasarkan jadwal perawatan dan tarif yang benar-benar berlaku, bukan menganggap motor listrik sama sekali tidak membutuhkan biaya perawatan.

5. Kapan Motor Listrik Benar-Benar Lebih Menguntungkan?

Untuk menentukan apakah motor listrik lebih murah, calon pembeli perlu menghitung total biaya kepemilikan selama periode yang sama.

Perhitungannya mencakup harga pembelian, biaya listrik atau bensin, sewa atau penggantian baterai, perawatan, pajak, serta biaya lain yang relevan. Nilai jual kembali juga dapat dipertimbangkan jika kendaraan nantinya akan dijual.

Sebagai contoh sederhana, apabila motor listrik membutuhkan biaya awal Rp 6 juta lebih besar daripada motor bensin, sedangkan penghematan bersih biaya penggunaan mencapai Rp 200.000 per bulan, selisih biaya awal tersebut baru tertutup setelah 30 bulan.

Perhitungan itu masih berupa ilustrasi. Penghematan bersih harus dihitung setelah memperhitungkan biaya sewa baterai dan perbedaan perawatan, bukan hanya selisih antara biaya listrik dan bensin.

Jika motor digunakan setiap hari dengan jarak tempuh tinggi, peluang penghematan biasanya lebih besar. Sebaliknya, penggunaan yang jarang dapat membuat waktu untuk menutup selisih harga pembelian menjadi lebih lama.

Motor listrik memang berpotensi menghemat biaya operasional secara signifikan, terutama bagi pengguna yang menempuh jarak jauh setiap hari. Simulasi penggunaan tertentu bahkan menunjukkan selisih biaya energi dan operasional tahunan mencapai jutaan rupiah.

Namun, klaim hemat hingga 70 persen tidak berlaku otomatis bagi semua orang. Harga beli, sistem kepemilikan baterai, biaya sewa, perawatan, serta intensitas penggunaan menentukan hasil akhirnya.

Karena itu, calon pembeli sebaiknya tidak hanya membandingkan biaya cas dengan harga bensin. Hitung seluruh biaya selama beberapa tahun agar dapat mengetahui apakah motor listrik benar-benar lebih murah untuk kebutuhan pribadi.

Editor
: Muchlis
Berita Terkait
Team Horas USU Raih Dua Gelar di KMHE 2026, Adu Efisiensi Kendaraan Hemat Energi
Promo Murah Meriah 5.5 Superindo 5 Mei 2026: Beli 2 Lebih Hemat dan Diskon 55%
Promo Murah Meriah 5.5 Indomaret 5 Mei 2026: Ada Diskon 50% Hingga Beli 2 Gratis 1
Promo HokBen Super Hemat Jelang Tahun Baru Plus Bonus 1 Hoka Hemat 1/2/3/4
10 Tips Persiapan Liburan Akhir Tahun Bersama Anak agar Nyaman dan Hemat
Promo Hemat Indomaret 24 Desember 2025: Minyak Goreng Sunco Hingga Filma