Topikseru.com - Gelombang kritik terhadap Utusan Khusus Presiden Bidang Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, mulai berdampak pada kegiatan bisnis dan hiburan yang berada di bawah naungan RANS. Kontroversi kehadirannya dalam Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, berujung pada seruan boikot yang ikut menyasar penyelenggaraan RANS Carnival di Yogyakarta.
Acara yang dijadwalkan berlangsung di area parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 itu dilaporkan kehilangan sejumlah pengisi acara dan peserta pameran UMKM.
Beberapa musisi, di antaranya Guyon Waton, Masdddho, OM Wawes, dan Tipe-X, disebut memutuskan mundur. Selain itu, sekitar 95 persen pelaku UMKM lokal dikabarkan membatalkan keikutsertaan mereka.
Baca Juga:
Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana kontroversi yang melibatkan figur publik dapat merembet ke aktivitas ekonomi dan pihak lain yang tidak secara langsung terlibat dalam persoalan awal.
Kegiatan tersebut menjadi sorotan karena berlangsung sehari setelah aksi demonstrasi mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi pada 28 Oktober 2026.
Sebagian masyarakat menilai deklarasi itu tidak sensitif terhadap situasi yang sedang berkembang dan mempertanyakan penggunaan nama mahasiswa dalam kegiatan tersebut.
Kritik juga datang dari sejumlah figur publik. Kreator konten Andovi da Lopez, misalnya, menyampaikan kritik melalui konten yang diunggahnya di media sosial.
Di tengah gelombang kecaman, Raffi memberikan klarifikasi. Ia menyatakan kehadirannya semata-mata sebagai undangan yang baru diterima pada malam sebelum acara.
Raffi juga membantah terlibat dalam perencanaan maupun penyusunan kegiatan. Ia mengaku tidak mengetahui secara terperinci susunan acara dan pihak-pihak yang akan hadir.
Meski sudah memberikan penjelasan, kritik terhadap Raffi tetap berkembang di media sosial. Sebagian warganet menilai kehadirannya sebagai pejabat publik seharusnya disertai pertimbangan terhadap kondisi sosial yang sedang berlangsung.
Nama Guyon Waton, Masdddho, OM Wawes, dan Tipe-X termasuk dalam daftar pengisi acara yang disebut mundur. Keputusan itu menambah tantangan bagi penyelenggara menjelang pelaksanaan kegiatan.
Tidak hanya sektor hiburan, pelaku usaha kecil juga disebut terkena imbas. Sekitar 95 persen UMKM lokal dikabarkan membatalkan partisipasi mereka.
Jika angka tersebut terkonfirmasi, dampaknya berpotensi cukup besar bagi pelaku usaha yang sebelumnya berharap memperoleh pendapatan dari keramaian pengunjung.
Mundurnya musisi dan peserta UMKM juga memperlihatkan bahwa kontroversi figur publik dapat menciptakan efek berantai.
Pihak yang terdampak bukan hanya individu yang menjadi sasaran kritik, tetapi juga mitra, pekerja, dan pelaku usaha yang terhubung dengan kegiatan tersebut.
Namun, alasan masing-masing musisi dan UMKM mundur tetap perlu dipastikan melalui pernyataan langsung agar tidak seluruh keputusan pembatalan otomatis dikaitkan dengan satu faktor.
Dalam kegiatan tersebut, Raffi dikabarkan mendapat aksi protes yang ditandai dengan simbol tiga jari dari sejumlah peserta.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa polemik kehadirannya di Bundaran HI belum sepenuhnya mereda.
Kritik tidak hanya berlangsung di ruang digital, tetapi juga mulai terlihat dalam kegiatan publik yang dihadirinya.
Meski demikian, bentuk dan konteks aksi tersebut perlu dilihat secara utuh. Simbol yang digunakan peserta tidak serta-merta dapat ditafsirkan memiliki satu makna tanpa keterangan dari pihak yang melakukan aksi.