Rabu, 23 September 2026

Gelombang Panas Jepang Makin Ekstrem, 261 Orang Dirawat di Tokyo dan Suhu Tembus 40 Derajat Celsius

Muchlis - Rabu, 22 Juli 2026 20:20 WIB
Gelombang Panas Jepang Makin Ekstrem, 261 Orang Dirawat di Tokyo dan Suhu Tembus 40 Derajat Celsius
Gelombang panas Jepang
Topikseru.com - Gelombang panas ekstrem yang melanda Jepang terus memicu dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Di Tokyo saja, 261 orang harus dilarikan ke rumah sakit dalam sehari akibat dugaan serangan panas (heatstroke), sementara suhu di sejumlah wilayah kembali menembus 40 derajat Celsius. Data sementara yang dirilis Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo pada Rabu (22/7/2026) menunjukkan angka tersebut merupakan jumlah harian tertinggi sejak pencatatan serupa mulai dilakukan pada 2022. Kondisi cuaca yang semakin ekstrem juga memicu lonjakan permintaan layanan darurat di ibu kota Jepang. Sepanjang Selasa (21/7), otoritas mencatat 3.454 panggilan darurat, angka tertinggi sejak data mulai dikumpulkan pada 1963. Lonjakan itu didominasi laporan warga yang mengalami gejala penyakit akibat paparan suhu tinggi, seperti demam, pusing, sakit kepala, hingga kehilangan kesadaran.

Lansia Jadi Kelompok Paling Rentan

Dari total 261 pasien yang menjalani perawatan darurat, kelompok usia lanjut menjadi yang paling banyak terdampak. Sebanyak 55 pasien berasal dari kelompok usia sekitar 80 tahun, disusul 53 orang berusia sekitar 70 tahun. Sementara itu, kelompok usia 50-an mencatat 27 kasus, menunjukkan bahwa risiko serangan panas tidak hanya mengancam kalangan lanjut usia. Otoritas kesehatan mengingatkan bahwa suhu tinggi dalam waktu lama dapat memicu dehidrasi berat, gangguan fungsi organ, hingga kematian apabila tidak segera ditangani.

Suhu Tokyo Capai 36,4 Derajat Celsius

Menurut Badan Meteorologi Jepang, suhu udara di pusat Kota Tokyo mencapai 36,4 derajat Celsius pada Selasa. Di sejumlah wilayah lain, suhu bahkan melampaui 40 derajat Celsius selama dua hari berturut-turut akibat sistem tekanan udara tinggi yang menyelimuti sebagian besar Jepang. Fenomena tersebut memperpanjang periode cuaca panas ekstrem yang telah berlangsung sejak akhir pekan dan diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

Satu Lansia Meninggal Diduga Akibat Serangan Panas

Gelombang panas juga diduga telah menelan korban jiwa. Seorang pria berusia 84 tahun di Kota Otawara, Prefektur Tochigi, dilaporkan meninggal dunia setelah diduga mengalami serangan panas saat berada di dalam rumah kaca plastik. Menurut laporan dinas pemadam kebakaran setempat, korban ditemukan tidak sadarkan diri oleh putranya sekitar pukul 14.15 waktu setempat. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.

Kompetisi Olahraga Ikut Terdampak

Cuaca ekstrem turut mengganggu agenda olahraga di Jepang. Sejumlah pertandingan bisbol liga kecil yang dijadwalkan berlangsung pada siang hari di Prefektur Saitama terpaksa dibatalkan demi alasan keselamatan atlet dan ofisial. Pertandingan antara tim junior Lotte Marines melawan Orix Buffaloes bahkan dihentikan di tengah jalannya laga dan dinyatakan batal setelah kondisi cuaca dinilai membahayakan. Situasi ini menunjukkan dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan sektor kesehatan, tetapi juga mulai memengaruhi aktivitas sosial, ekonomi, hingga olahraga di berbagai wilayah Jepang.

Pemerintah Imbau Warga Waspada

Badan Meteorologi Jepang kembali mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko penyakit akibat suhu tinggi. Warga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak konsumsi cairan, menggunakan pendingin ruangan bila memungkinkan, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala serangan panas. Dengan suhu yang diperkirakan masih berada pada level ekstrem, otoritas menilai langkah pencegahan menjadi faktor penting untuk menekan meningkatnya jumlah korban selama gelombang panas berlangsung.
Sumber
:
SHARE:
Berita Terkait
Kemlu RI: Tak Ada WNI Jadi Korban Gempa 7,4 Magnitudo dan Tsunami di Jepang Utara