Rico mendorong pelaku usaha memanfaatkan perangkat digital dan media sosial untuk memperkenalkan produk sekaligus menjangkau konsumen yang lebih luas.
WhatsApp, Instagram, Facebook, hingga TikTok dapat digunakan sebagai kanal pemasaran sesuai karakter produk dan target konsumen.
Baca Juga:
Dorongan digitalisasi tersebut sejalan dengan kebijakan Pemko Medan yang sebelumnya menempatkan pemanfaatan teknologi sebagai salah satu strategi untuk memperkuat daya saing UMKM.
Pemko Medan juga menyatakan pelatihan perlu dilanjutkan dengan pendampingan, inkubasi, dan kurasi bagi usaha yang memiliki potensi berkembang.
Artinya, transformasi digital UMKM bukan hanya soal memiliki akun media sosial, tetapi bagaimana kanal tersebut digunakan untuk membangun merek, berkomunikasi dengan konsumen, dan menghasilkan transaksi.
Bisnis yang berkembang membutuhkan pencatatan dan pengelolaan keuangan yang lebih tertata agar pemilik usaha dapat mengetahui kondisi sebenarnya dari bisnis yang dijalankan.
Pengelolaan tersebut juga menjadi penting ketika pelaku usaha ingin mendapatkan akses pembiayaan atau memperbesar kapasitas produksi.
Sebelumnya, Rico juga menekankan bahwa dukungan pembiayaan UMKM seharusnya tidak berhenti pada pemberian modal, tetapi perlu dibarengi kesiapan operasional agar usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.
Usaha kecil tidak harus selamanya dikelola dengan cara sederhana. Ketika produk mulai memiliki pasar, pelaku usaha dapat meningkatkan standar pengelolaan secara bertahap.
Mulai dari memperbaiki kemasan, memastikan legalitas, menjaga kualitas, mencatat keuangan, membangun kapasitas produksi, hingga memanfaatkan pemasaran digital.
Rangkaian langkah tersebut menjadi fondasi sebelum UMKM membidik pasar yang lebih besar.
Rico berharap penguatan tersebut dapat membuat produk UMKM Kota Medan semakin dikenal, diminati konsumen, dan memiliki daya saing yang lebih kuat.
"Saya berharap ini menjadi pijakan nyata agar produk-produk UMKM Kota Medan semakin diminati, laris manis, dan mampu bersaing di papan atas," ujarnya.
Bagi pelaku UMKM, tantangannya kini bukan hanya bagaimana bertahan, tetapi bagaimana mengubah usaha yang sudah berjalan menjadi bisnis yang lebih siap menghadapi perubahan pasar.